Sedang Membaca
Kebahagiaan Suci
Ahmad Hakim Jayli
Penulis Kolom

CEO TV9 Nusantara, Televisi Kaum Santri. Penikmat sastra, Pegiat media Nahdlatul Ulama dan Pesantren.

Kebahagiaan Suci

Dalam temaram lampu bistro, sebuah business resto di jantung ibukota, seorang teman bercerita tentang saat kebahagiaan sejatinya hinggap. Dia manusia kota, jauh dari label dan simbol agama. Tapi dia berupaya mencari Tuhan dalam hatinya. Pencarian yang tak mudah dan menguras waktu. Pada akhirnya dia merasakan saat desiran kedekatan itu hadir menyelimuti rongga jiwa dalam hamparan sajadah dan sujudnya. Di kala dia bisa menyampaikan kata hatinya pada Sang Pencipta debaran detak jantung. Walau tak bisa sewaktu-waktu, dia mengaku amat bersyukur atas rahmat teramat indah ini.

Momentum kebahagiaan semacam ini akan nyata tiba, diberikan kepada mereka yang benar-benar mencari dan akhirnya terpilih. Mereka yang terpilih dan beruntung bisa siapa saja, termasuk kita. Dalam sya’irnya, Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad, seorang ulama tasawuf asal negeri Yaman mendefinisikan saat-saat itu sebagai Sa’atin Unsiyatin Qudsiatin, saat bahagia yang suci. Fuzna bi sirrin. Saat bahagia yang datang sebagai rahasia yang sakral dari Tuhan. Ja-a minhu ajibu. Datangnya dengan cara yang ajaib dan istimewa, di sebuah mementum di saat seorang hamba berupaya dengan sungguh-sungguh membuka ruang kalbu.

Kata beliau, semua orang bisa meraihnya. Di sebuah majelis, beliau meminta pada sekumpulan jama’ah agar melantunkan syair-syair indah yang pernah disusun para ulama. Dan kala syair indah itu dikumandangkan dengan nada dan suara indah jua, Habib Abdullah Alhaddad menyimaknya dengan khusyuk, dan dalam tangisnya beliau merasakan sebuah perjumpaan, ketersambungan hati pada keindahan Tuhan dan keluhuran akhlaq Nabi Muhammad SAW. Bahkan beliau pun tak menyadari, bahwa syair indah yang menggaung angkasa itu adalah ciptaannya sendiri.

Baca juga:  Memasuki Dimensi Tasawuf, Melibas Profanitas Duniawi

Dalam domain yang sesungguhnya, seni dan sastra akan mengantar kita pada keindahan. Dan keindahan abadi adalah keindahan Ilahi Rabbi. Itulah universalitas seni yang kerap kali manusia justru membelokkannya pada perjamuan keindahan yang malah memanjakan nafsu, menjauh dari Tuhan. Tak terhitung para shalihin atau bahkan Anda sendiri, merasakan perjumpaan itu, kala ayat suci Al Qur’an dibacakan, atau saat madah shalawat dikumandangkan di sebuah majelis yang diikuti. Keindahan senyap di sebuah keramaian.

Kebahagiaan suci dan perjumpaan hati seperti ini sifatnya personal, sangat private dan tak bisa dipaksakan. Sebagai varian dari hidayah, dia hanya akan dianugerahkan pada hati yang dikehendaki Allah, dan tak bisa dipaksakan pada orang yang kita rekomendasi. Di sinilah seorang lelaki pemimpin rumah tangga memiliki sebuah tanggung jawab ganda. Di level pertama, dia baiknya merasakan terlebih dahulu momentum kebahagiaan suci itu dengan ikhtiar bathiniyah yang dia bisa lakukan. Pada level berikutnya, bagaimana caranya agar saat-saat kebahagiaan suci itu bisa berlabuh di relung hati istri, anak dan seluruh keluarganya. Inilah kepemimpin spiritual yang butuh dikuasai seorang lelaki imam pada keluarganya.

Tentu masing-masing keluarga akan memilih caranya sendiri. Banyak Kiai mengajak Bu nyai dan anak-anaknya melakukan riyadlah rutin dengan wirid dan dzikir yang dibaca di waktu-waktu tertentu secara istiqamah. Karena dzikir adalah mengingat Allah, dan bisa ditempuh dengan melatih (memaksa) mulut dan hati untuk mengingat-Nya. Sebagian dengan cara berpuasa atau dengan membenamkan diri pada majelis ilmu dan dakwah. Sebagian trend keluarga berada mordern, mencoba merajutnya melalui ziarah bersama ke tanah suci: Family Umroh Traveling.

Baca juga:  Menjangkau Aforisme Keihlasan

Menjadi lelaki memang tak boleh egois. Sebagaimana di tempat tidur, dalam urusan spiritualitas pun, lelaki tak bisa abai, hanya berpikir ‘puas duluan’ apalagi sampai ‘puas sendiri’. Perempuan butuh dibimbing untuk mencapai momentum indah di puncak spiritualitasnya. Syukurlah kalau sang istri bisa mencapai saat kebahagiaan suci itu secara mandiri. Tak ada kebahagiaan seorang lelaki, melebihi saat mampu mengantarkan perempuannya mengalirkan air mata bahagia, menemukan kedamaian Tuhan dalam doa dan munajatnya..

Kebahagian suci inilah miniatur kebahagiaan surgawi yang abadi, dan akan dianugerahkan kepada mereka yang beriman dan berani beramal shalih selama di dunia. Kelak, mereka dalam kelompok keluarga masing-masing, akan diundang dalam perjamuan indah di bawah rindangnya naungan pepohonan surga. Kepada mereka disuguhkan bebuahan serta apapun yang pernah diidamkan. Dan puncak kebahagiaan itu datang, kala keluarga-keluarga itu menerima anugerah terindah berupa Sapa Salam dari Tuhan Sang Maha Kasih. Dan mereka pun sontak riang menyambutnya. Salamun Qaulan Min Rabbin Rahim. Semoga keluarga kita adalah di antara mereka. Amin.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top