Sedang Membaca
Sufi dan Seni (7): Jalaluddin Rumi dan Ekstase Cinta
Hajriansyah
Penulis Kolom

Penulis Sastra. Meminati seni dan dunia sufi

Sufi dan Seni (7): Jalaluddin Rumi dan Ekstase Cinta

Whatsapp Image 2020 05 13 At 7.45.56 Pm

Mari ke rumahku, Kekasih, sebentar saja!/Gelorakan jiwa kita, Kekasih, sebentar saja!/Dari Konya pancarkan cahaya Cinta/Ke Samarkand dan Bukhara sebentar saja!

Rumi, siapa tak tahu Rumi? Karya-karyanya banyak dibaca, bahkan dikatakan paling banyak dibaca di Barat. Bukan Gibran. Puisi-puisi cintanya menginspirasi banyak orang, dari dikaji secara linguistik kebahasaan hingga makna kandungannya. Bahkan untuk remaja yang kasmaran, puisi-puisinya sedemikian agung. Inilah cinta yang begitu membuaikan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Keuniversalan karya-karya Rumi membuatnya bahkan dipisahkan dari tradisi keagamaan yang melingkupinya. Demikian kata Schimmel, orang-orang lupa Rumi lahir dari suatu tradisi keagamaan Islam yang menekankan syariat, perangkat “hukum” yang mengatur diri dan masyarakat secara umum di bawah lindungan hukum Ilahi.

Demikianlah masyhurnya Rumi, di Barat, dan kini di tempat kita melalui puisi atau syair-syairnya tentang cinta yang mendalam—dari terjemahan Barat. Tentu karena sulit bagi kita untuk membaca karyanya langsung dari bahasa Parsi dan Arab yang menjadi kemasannya.

Jalaluddin Rumi (w. 672 H/ 1273 M) selain dikenal sebagai sufi, juga disebut sebagai penyair Persia terbesar dalam sejarah. Meskipun sebelum dan sesudahnya ada banyak penyair sufi, namun Rumi mengungguli yang lainnya, ditinjau dari syair dan kedalaman makna sufistik yang ada di dalamnya.

Sebelum Rumi ada Abu Said bin Abi al-Khair al-Khurasani (357-44 H), yang menyusun banyak sekali syair-syair sufi dan memiliki pengaruh besar dalam mazhab Khurasan. Lembaga khanaqah (madrasah sufi) dengan puisi, sama’ dan tarian sufi, dikatakan, bersumber darinya. Ada juga Abdullah al-Ansari (w. 481 H), Majduddin Sana’i al-Ghaznawi (Sana’i, w. 545 H) yang menyusun al-Matsnawi yang juga dikenal dengan Hadiqah al-Hakikat (Garden of Truth). Belum lagi Fariduddin Attar (586 H) yang terkenal dengan Mantiq al-Thayr.

Sesudah Rumi ada Syabistari (134 H), pengarang diwan Gulshan-i-Raz. Kemudian, ada Hafizh Syirazi (791 H) yang terkenal dengan bentuk-bentuk ghazal (ode)-nya, lalu Abdurrahman al-Jami (w. 898 H) yang dianggap jenius dari Persia.

Baca juga:  Ihwal Tanya dan Jawab Ulama

Di atas semuanya, Rumi tetap dianggap sebagai “raksasa” yang sulit ditandingi kebesarannya. Tidak hanya sebagai penyair sufi, namun juga guru spiritual yang karya-karyanya membimbing setiap pencari kebenaran sejati (spiritualis) di mana saja dan agama apa saja. Demikian, seperti dikatakan para peneliti Barat.

Lalu bagaimana Rumi di mata orang Islam sendiri?

Rumi yang aslinya orang Balkh (Afganistan sekarang) datang ke Anatolia (Konya) ketika masih sangat muda bersama keluarganya, karena tanah kelahirannya diserbu pasukan Mongol. Ayahnya seorang ulama berpengaruh, hakim dan sufi, diundang oleh Alauddin Kaikobad, penguasa Saljuk Rum saat itu. Ayahnya, Bahauddin Walad, meninggal ketika usia Rumi 24 tahun, dan segera ia menggantikan ayahnya sebagai otoritas pemberi fatwa.

Nama kecilnya adalah Muhammad ibn Muhammad. Ia digelari Jalaluddin karena kebesarannya, Rumi karena kemudian menetap hingga meninggal di Rum—bekas ibukota kekaisaran Romawi Timur sebelum Islam, yang berada di bawah kekuasaan Bani Saljuk pada masa kekhalifahan Abasiyah.

Dari seorang faqih ia tiba-tiba menjadi penyair yang bergairah. Cerita tentang pertemuannya dengan seorang sufi malamati yang mengubah kegairahan sufistiknya begitu dramatis. Syamsuddin at-Tabrizi, atau biasa disebut Syamsi Tabriz (Matahari dari Tabriz), tiba-tiba muncul di tengah majelisnya dan bertanya, “Siapakah yang lebih besar, Abu Yazid yang menyatakan ‘Mahasuci diriku (Subhaanii)’ ataukah Muhammad saw yang berkata dalam doanya ‘kami tidak mengenal-Mu seperti seharusnya’?”.

Baca juga:  Sabilus Salikin (124): Perjalanan Ruhani al-Syadzili

Pertanyaan itu benar-benar menggoncang pemahaman ortodoksi Rumi, hingganya ia pingsan di tengah murid-muridnya. Saat itu usianya kurang-lebih 37 tahun, dan ia seorang yang mumpuni di bidang tafsir, hadis, fikih, teologi dan filsafat, juga pengganti ayahnya yang seorang mursyid tarekat Kubrawiyah.

Al-Aflaki, murid dari cucu Rumi, penulis awal biografi Maulana (sebutan lain Rumi), mencatat hubungan yang rumit antara Rumi dan Syamsi Tabriz. Rumi yang terpesona dengan aura keagungan Syams menganggapnya layaknya seorang guru, dan adakalanya sebagai teman, menaati ucapan-ucapannya dan tunduk sepenuh hatinya. Syams yang melihat kerendah-hatian Rumi, setelah mengujinya berkali-kali akhirnya menganggapnya sebagai orang yang layak untuk dihormati dan dijadikan guru untuk mendapatkan pengajaran tentang cinta Ilahi.

Meski kedekatan mereka sebentar saja, seperti sepasang pecinta yang putus-nyambung karena dihalangi orang-orang (murid-murid Rumi yang tak memahami hubungan keduanya), namun efek dari hubungan itulah yang membuat cara Rumi memandang Rabb-nya berubah sedemikian rupa. Menurut sebagian ahli, cinta Ilahi Rumi adalah manifestasi konsep wahdatul wujud dalam pengalaman ekstatik yang khas. Cara ia memuji Tuhannya melahirkan estetika sufi yang kita kenal hari ini sebagai sama’ atau tarian Maulawi (the whirling dervishes).

Abul Hasan an-Nadwi, seorang sufi dan pemikir Islam dari India abad ke-20, menyatakan bahwa Jalaluddin Rumi adalah pribadi yang rajin, tekun, pintar, alim dan banyak beribadah. Ia mengutip Sabah Salar, murid Rumi,

Baca juga:  Tasawuf Menggilas Ekstremisme di Maroko

“Saya sama sekali tidak pernah melihatnya memiliki hamparan kasur dan tongkat. Jika rasa kantuk menyerangnya, ia bisa lelap dalam keadaan duduk…. Seringkali saya melihat ia melakukan salat malam. Semalam suntuk ia habiskan dalam salat.”

An-Nadwi juga menggambarkan Rumi sebagai tokoh yang kuat namun peka perasaannya. Memiliki semangat yang tinggi dan hati yang lembut, serta penuh cinta kasih. Seperti tungku yang menyala, ia dipenuhi kreativitas, dan mata batinnya senantiasa terbuka. Seorang seniman, yang kelembutan kata-kata dan keindahan musiknya, dengan maknanya yang tersembunyi, menghunjam ke dalam jiwa. Dan, demikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat.

Akhirnya, an-Nadwi juga mengutip pernyataan Rumi tentang cinta.

Sungguh, cinta dapat mengubah yang pahit menjadi manis, debu jadi emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara berubah telaga, derita berganti nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan, serta membuat budak menjadi raja.”

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top