Sedang Membaca
Bung Karno dan Gus Dur sebagai Penulis Esai
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Bung Karno dan Gus Dur sebagai Penulis Esai

Hairus Salim HS

Pada saat Anda mempublikasikan esai di masyarakat, Anda telah memasuki kehidupan politik. Jadi jika tak ingin politis, janganlah menulis esai.. (Jean Genet)

Sudah banyak yang tahu, tapi mungkin sedikit yang menyadari: Sukarno (Bung Karno) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), presiden pertama dan presiden keempat Indonesia, adalah seorang penulis esai yang handal. Sejak muda keduanya rajin menulis. Tulisan-tulisan mereka dimuat dan disebarkan di berbagai media. Melalui tulisan-tulisan, mereka memperkenalkan diri dan pemikiran mereka.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Melalui tulisan, kedua bapak bangsa ini menawarkan pemikiran bagaimana mengelola negara-bangsa ini. Melalui tulisan-tulisan mereka, masyarakat Indonesia mengenal sosok mereka dan sekaligus mengetahui isi kepala mereka tentang bangsa, agama, politik, kebudayaan, dan lain-lain.

Dengan demikian, menjadi penulis merupakan salah satu profesi dan karier awal, yang menjadi pembuka karier gemilang kedua sosok ini selanjutnya, termasuk kelak menjadi presiden. Bahkan dapat dikatakan tulisan-tulisan mereka merupakan penopang dan penunjang penting karier mereka.

Tanpa tulisan-tulisan itu, orang-orang mungkin tidak akan pernah tahu: siapa itu Bung Karno atau Gus Dur? Tulisan menjadi penunjang penting karir mereka, selain aktif di pergerakan dan berpidato (Soekarno)/aktif di organisasi NU dan ber-LSM (Gus Dur). Bahkan bisa jadi, tanpa menulis, Bung Karno dan Gus Dur ‘mungkin’ tak akan pernah menjadi presiden.

Bagaimana mereka menulis dan bagaimana gayanya?

Bung Karno sebagai Penulis dan Pemikir
Soekarno diyakini sudah menulis sejak usia 17 tahun ketika duduk di Hogere Burgerschool (HBS) Surabaya. Sayang sekali tulisannya semasa usia 17 hingga 25 tahun hilang tak ada jejaknya. Tentu akan sangat menarik seandainya kita bisa mendapatkan karya-karya tulisnya pada masa sangat belia tersebut.

Tulisan-tulisan Bung Karno yang sempat terlacak dan telah diterbitkan ulang dalam dua jilid tebal buku Di Bawah Bendera Revolusi ditulis ketika usia 25 hingga 40an. Tulisan-tulisan Bung Karno ini semula dimuat di majalah atau koran seperti Suluh Indonesia Muda, Fikiran Ra’jat, Pembangun, Pemandangan, Pandji Islam, dan lain-lain. Tulisan terkenal Bung Karno “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme” dimuat dalam Suluh Indonesia Muda pada tahun 1926, ketika usianya 25 tahun. Sedangkan tulisan tertua dalam jilid pertama itu berjudul “Djingis Khan, Maha Imperialis Asia” yang dimuat dalam Pembangun 1941, atau ketika usia Bung Karno persis 40 tahun.

Dari tulisan-tulisan itu, kita akan tahu bahwa Bung Karno adalah seorang yang memiliki pengetahuan luas. Ia adalah seorang pembaca buku yang rakus. Secara resmi dan formal, ia seorang yang belajar di sekolah teknik, tapi ia juga membaca buku-buku mengenai politik, agama, sosial, dan kebudayaan. Membaca adalah salah satu modal dalam menulis. Tanpa membaca jangan harap bisa menjadi penulis!

Dalam tulisan-tulisannya, ia mengutip banyak pernyataan tokoh intelektual dan politisi, atau dari buku atau laporan media.
Yang kedua, Bung Karno pandai berbahasa asing, Belanda maupun Inggris. Di dalam tulisan-tulisannya, kita akan menyaksikan kutipan istilah-istilah berbahasa asing ini, baik di pembuka tulisan maupun di badan tulisan. Misal ketika ia menulis “non-kooperasi adalah suatu actief beginsel, tidak mau bekerdja bersama-sama diatas segala lapangan politik dengan kaum pertuanan, melainkan mengadakan suatu perdjoangan jang tak kenal damai, suatu onverbiddelijkestrijd dengan kaum pertuanan itu” (“Mentjapai Indonesia Merdeka”). Dalam satu kalimat itu kita bisa baca setidaknya tiga kata Belanda: “actief beginsel” dan “onverbiddelijkertrijd”.

Tak jarang Bung Karno mengutip panjang lebar kalimat baik dalam Bahasa Belanda maupun Inggris seperti kutipan berbahasa Belanda yang sangat panjang dalam tulisannya bertajuk “Dubbeleh Les?” dan “Tjatatan atas Pergerakan “Lijdelijk Verzet”. Ia juga kerap memulai tulisan dengan sebuah kutipan yang diletakkan di antara judul dan alinea awal, yang tak jarang diambil penuh dari Bahasa Belanda atau Inggris seperti dalam tulisan berjudul “Kongres Kaum Ibu” yang mengutip perkataan Sarojini Naidu:

“Bedenk dat het voor de eer van de natie is, dat India’s vrouwen dag na dag treden voor de poorten den doods, zodat het volk van India geboren mag worden duizendmalen vrij!”

Baca juga:  Jelang Munas Alim Ulama (5): Tiga Ulama Sumbawa dan Tiga Tuan Guru Pertama

Bukan hanya itu, Bang Karno sendiri bisa menulis dalam bahasa Belanda, seperti esainya berjudul “Naar Het Bruine Front!” yang dimuat Suluh Indonesia Muda tahun 1927 menunjukkan. Dengan demikian, pengutipan istilah-istilah asing ini menjadi salah satu ciri tulisan-tulisan Bung Karno. Ini bukan berarti Bung Karno latah dan “keminggris”, tapi bisa jadi memang “bahasa Indonesia” yang sedang dalam pembentukan awalnya, belum memiliki istilah-istilah khusus dan tertentu yang disebutkan Bung Karno saat itu.

Ketiga, gaya Bung Karno dalam menulis sangat provokatif dan berani. Terkadang saya menangkap kesan bahwa tulisannya mirip seperti pidatonya yang berapi-api dan retorik. Tulisannya dengan demikian seperti pelisanan dari pidatonya. Misal kalimat ini: “Kita yang bukan komunis pula, kitapun tak memiliki hak pada siapa djuga! Kita hanjalah memihak kepada Persatuan-persatuan-Indonesia, kepada persahabatan pergerakan kita semua!” Dua tanda seru dalam kalimat tersebut menunjukkan penekanan, yang jika dibayangkan dalam bentuk lisan, maka ia diucapkan dengan nada tinggi dan tegas. Pola dan gaya seperti ini bertebaran dalam tulisan-tulisan Bung Karno.

Selain itu, Bung Karno juga terkenal provokatif dan berani dalam tulisan-tulisannya seperti mengatakan istilah “Islam sontoloyo” untuk menyebut kalangan Islam yang tidak menggunakan akal sehat di dalam beragama dan hanya fanatisme saja. Istilah lain yang terkenal juga dari Bung Karno adalah “Masyarakat Onta” untuk menyebut kalangan Islam yang tidak menangkap “api Islam” dan hanya ingin mendudukkan Islam sebagai kepercayaan yang mati dan tidak berkembang.

Keempat, Bung Karno adalah orang yang berani menawarkan pemikirannya dan berani mengkritik masyarakatnya. Di dalam hal ini, ia bukan sekadar penulis tapi juga seorang intelektual. Intelektual adalah orang yang bekerja dalam produksi ide dan pengetahuan dan memperjuangkan ide pengetahuannya tersebut. Paling kelihatan adalah penggunaan istilah “marhaen” untuk menyebut rakyat kecil yang ia ajukan dan kemudian diterima pemakaiannya oleh Partindo. Istilah ini ia ambil karena tidak mau menggunakan istilah proletar yang sudah dipakai PKI.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kelima, dengan semua gaya di atas, maka sifat tulisan-tulisan Bung Karno senantiasa polemical dan kontroversial. Tulisan-tulisannya sering mengundang perdebatan yang hangat dan Bung Karno siap dan berani melayani perdebatan tersebut. Di dalam tulisan-tulisannya kita membaca misal perdebatannya dengan Bung Hatta, yang kelak menjadi wakilnya sebaga presiden atau dengan H. Agus Salim. Tetapi perdebatannya yang terkenal adalah dengan A. Hassan, seorang ulama dari organisasi Persatuan Islam (Persis).

Demikian kurang lebih ciri dan gaya tulisan Bung Karno. Dalam tulisan “Mendjadi Pembantu Pemandangan” yang ditulisnya dari tanah pembuangan di Bengkulu dan dimuat di Pemandangan tahun 1941, ia dengan yakin menulis bahwa ia memiliki gaya tersendiri dalam menulis yang berbeda dengan gaya Hatta, Cokro, Agus Salim dan lain-lain:

“Artikel-artikel yang tidak membawa tjorak djiwa jang menulisnya, adalah artikel-artikel yang tiada perangai. Djanganpun isinja artikel-artikel itu, susunan kalimat-kalimatnja sahadja sudah membawa tjorak djiwa si penulisnja. Tundjukkan kepada saja suatu artikel jang tertulis oleh orang-orang jang ternama, zonder menyebut nama penulisnja, dan saja dapat mengatakan kepada Tuan: ini artikel saudara Hatta, ini artikel almarhum Tjokro, itu lagi artikel Hadji Agus Salim. Begitupun tiap-tiap orang dapat saksama mengatakan: ini tulisan Bung Karno! Stijlnja stijl Bung Karno, kata-kata ‘tjitunya kata-kata Bung Karno! Tjorak iramanja irama Bung Karno, segala pemakaian-katanja pemakaian-kata Bung Karno! Tjorak djiwa Bung Karno melekat kepada semua tulisan-tulisannja itu, sebagai rasa-masin melekat kepada garam, dan rasa manis melekat pada gula’.”

Gus Dur sebagai Penulis dan Pemikir
Kurang lebih setengah abad setelah Bung Karno, muncul seorang anak muda yang juga rajin menulis dan menawarkan gagasan dan pemikirannya mengenai bangsa, agama, politik, kebudayaan dan lain-lain. Yang menarik, anak muda ini juga pembaca tulisan-tulisan Bung Karno. Dia adalah Abdurrahman Wahid atau terkenal dengan nama Gus Dur. Sama seperti Bung Karno, Gus Dur mulai dikenal sebagai penulis pada usia pertengahan 20an di tahun 1970an.
Dalam penelurusan saya, esai awalnya yang muncul secara publik adalah soal sastra, yakni mengenai hubungan kesusasteraan dan pesantren yang dimuat Kompas, 26 November 1973. Tapi Gus Dur sendiri mengaku bahwa tulisan pertamanya adalah mengenai novel-novel William Faulkner yang disiarkan majalah Media milik HMI tahun 1960an. Sayang sekali tulisan ini tidak pernah ditemukan arsipnya.
Gus Dur menulis sebagai bentuk usahanya untuk menawarkan pemikiran dan ide. Tetapi terkenal juga pengakuannya bahwa ia menulis juga untuk mendapatkan uang. Ia mengaku hidup di antaranya dari honor tulisan.
Tulisan-tulisannya dimuat di media terkemuka seperti Majalah Tempo dan Koran Kompas, serta jurnal paling keren zaman itu, jurnal Prisma. Tulisan-tulisan Gus Dur juga sudah dikumpulkan dan dijadikan buku misal Tuhan Tak Perlu Dibela yang merupakan kumpulan esainya di majalah Tempo, Islamku, Islam Anda, Islam Kita dan Islam Kosmopolitan, yang merupakan tulisan-tulisan di jurnal Prisma dan makalah-makalah seminar.
Jelas sekali dari tulisan-tulisannya, Gus Dur adalah seorang pembaca buku yang kuat. Bacaannya sangat luas dan beragam, termasuk karya-karya sastra. Sekali lagi kita diajarkan bahwa hampir mustahil menjadi menulis tanpa membaca. Bacaan adalah bahan utama untuk menulis. Memang ada orang membaca tanpa menulis, tapi tidak mungkin menulis tanpa membaca sama sekali.
Gus Dur adalah seorang penulis cepat. Goenawan Mohamad, mantan Pemimpin Redaksi majalah Tempo pernah bercerita suatu kali bahwa Gus Dur datang ke kantor Tempo. Ia masuk ke ruangan redaksi dan duduk di depan mesin ketik. Dua jam kemudian telah jadi satu tulisan. Mengapa ia bisa begitu cepat menulis? Salah satunya adalah karena dia punya investasi bacaan, yang dengan rajin ia kumpulkan, selain tentu kemampuan menganalisis dan melakukan refleksi.
Kedua, Gus Dur bukan hanya membaca buku-buku berbahasa Indonesia. Ia juga membaca buku-buku dalam bahasa Inggris dan Arab. Hal ini tampak dari referensi-referensi dalam banyak tulisannya. Akses bacaan asingnya sangat cepat dan luas. Ketika kalangan intelektual di Indonesia belum mendengar nama si penulis asing, ia sudah membacanya dan mengutipnya dalam tulisan. Nama Hassan Hanafi, cendikiawan Mesir dan Chaim Potok, pengarang novel My Name is Ascher Lev sebagai contoh, disebut dan diperkenalkan Gus Dur pertama kali dalam publik intelektual Indonesia.
Ciri ketiga dari tulisan Gus Dur adalah kekuatan deskripsinya. Misal ia mendeskripsikan situasi kebudayaan atau sosok seorang tokoh, sebagai contoh dalam pembuka esai “Kiai Dolar Berdakwah”, ia menggambarkan Kiai Masyhuri Sa’id, yang selain kiai juga seorang saudagar:
“Gerak-geriknya memang mirip wanita. Serba luwes, termasuk caranya berbicara dan tertawa yang tampak seakan-akan manja. Belum lagi kegemarannya memukulkan tangan pada lengan orang lain yang diajaknya berbicara untuk menekankan ungkapan yang juga sangt luwes, “Ah, masa begitu, Mas!”
Gaya kewanitaan itu lebih-lebih terlihat dalam ketelitiannya memilih barang dan kepandaiannya untuk tawar-menawar dalam hal apapun, dengan menunjukkan hal-hal kecil sebagai points untuk tawarannya sendiri.”
Tampak sekali Gus Dur memahami suatu pelajaran dasar dalam etnografi dan juga dalam menulis naratif, yaitu deskripsi. Deskripsi seperti ini banyak kita temui terutama dalam esai-esainya mengenai kiai pesantren yang pernah terbit di majalah Tempo.
Keempat, kejelian dan kepekaan Gus Dur melihat perubahan sosial-budaya. Misal tentang menguatnya peran mikrofon dalam praktik ibadah muslim seperti ditulisnya dalam “Islam Kaset dan Kebisingannya”, isu jilbab dalam “Kerudung dalam Kesadaran Beragama”, atau gejala hibrida dalam kebudayaan seperti termuat dalam esainya “Lagu Jawa di Restoran Padang,” dan lain-lain. Dari sini tampak bahwa Gus Dur adalah seorang pengamat sosial yang jeli dan cermat.
Keempat, Meski tidak semua, Gus Dur kadang pandai memberi tajuk tulisannya dengan judul-judul yang menarik. Membaca judulnya orang sudah tersedot untuk menyimaknya lebih lanjut. Misal “Gatotkaca Anti Israel,” “Tiga Pendekar dari Chicago,” “Tuhan Tak Perlu Dibela”, “Istilah Sama Arti Berbeda”, “Lebaran Tanpa Takbiran,” dan lain-lain.
Kelima, sama dengan Bung Karno, Gus Dur juga berani menawarkan gagasan-gagasan baru melalui tulisannya. Ia tidak segan-segan mengkritik masyarakat, misal dalam penerapan demokrasi yang bersifat setengah-setengah yang ia sebut sebagai “demokrasi bukan-bukan” atau terhadap masyarakat Islam yang mementingkan formalitas tanpa substansi. Karena itu, sama seperti Bung Karno, ia juga menelorkan istilah-istilah yang kontroversial dan menawarkan gagasan yang mengundang perdebatan seperti “Tuhan Tak Perlu Dibela”, “pribumisasi Islam”, dan lain-lain. Dalam hal ini, Gus Dur bukan sekadar penulis. Ia juga seorang intelektual atau cendikiawan.

Baca juga:  Inilah Resiko Kalau Mengundang Gus Dur

Keenam, kemampuan refleksi Gus Dur yang tinggi. Hal ini terlihat dari tulisan-tulisannya di jurnal Prisma dan makalah-makalah konferensi. Refleksi ini ditandai dengan perumusan dan pengajuan pertanyaan pada suatu isu atau pun masalah. Jadi bagi Gus Dur dalam hal ini, intelektual ditentukan bukan pada jawaban yang diberikan, tetapi justru pada rumusan pertanyaan yang diajukan kepada masyarakat dan bangsanya.

Terakhir, Gus Dur banyak menyelipkan humor dalam tulisannya. Nuansa tulisan-tulisan Gus Dur sangat kuat dengan nada canda. Ia terutama banyak menyelipkan satir, perumpamaan, ilustrasi cerita, lelucon dan lain-lain untuk menyindir seseorang atau mengritik masyarakat. Terkenal istilahnya juga “Melawan Melalui Lelucon”.

Salah satu humor kelas atas yang ia kemukakan adalah esai satirnya berjudul “Cak Nur: Tetap Tapi Berubah”. Esai ini seperti judulnya menunjukkan, merupakan laporan perkembangan Nurcholis Madjid (Cak Nur) yang saat itu sedang belajar di Chicago. Gus Dur sempat datang menemuinya ketika berkunjung ke kota tersebut. Berdasar tiga kali kunjungan itulah Gus Dur bikin esai ini. Pada dasarnya Gus Dur memuji kecerdasan Cak Nur, ketekunan dan konsistensinya untuk mempelajari aspek-aspek dasar keagamaan. Selama di Chicago, Cak Nur mengalami kemajuan intelektual yang pesat. Tambah matang dan makin mendalam, serta tetap lurus dan jujur. Ia telah “berubah” dan menjelma menjadi raksasa intelektual. Tetapi di sisi lain, Gus Dur “mengejeknya” tidak mengalami perubahan, alias tidak maju-maju, dalam hal selera sastra dan seni.

Baca juga:  Peran Budak Afrika dalam Penyebaran Islam di Amerika

“Selera bacaan memang masih belum bervariasi: belum tampak novel dari tingkat dunia menghiasi lemari bukunya. Jadi masih berorientasi buku teks, sudah tentu dalam artian sumber bacaan, buku model berpikir. Tetapi selera musik sudah berubah. Tidak lagi puas dengan Indonesia Raya dan Himne HMI, sudah beranjak ke musik klasik, walaupun masih seri the Greatest Hits yang dijajakan the Reader’s Digest dengan harga reduksi,” demikian tulis Gus Dur.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Saya tidak tahu bagaimana tanggapan Cak Nur waktu itu ketika membaca esai ini. Bagaimana juga tanggapan para kakanda dan adinda karena junjungannya, yang disebut sebagai penarik gerbong muslim kota, dikerjain dan disindir sedemikian rupa oleh Gus Dur, wakil dari kalangan muslim perdesaan. Mungkin tertawa terbahak-bahak atau tersenyum kecut, atau marah? Yang jelas esai ini menunjukkan bagaimana selera humor Gus Dur yang “ngeri-ngeri sedap” dan menggunakannya untuk “ngerjain” orang. Mungkin hanya Gus Dur yang bisa melakukan ini.

Di penghujung hidupnya, dalam keadaan penglihatan yang sudah sepenuhnya tertututp, Gus Dur tetap rajin menulis dan membaca. Ia menulis dengan cara mendiktekan. Menulis dan membaca telah menjagi bagian dari kehidupannya.

Penutup
Apa yang bisa kita pelajari dari dua sosok mantan presiden ini dalam hal penulisan? Pertama-tama menulis adalah suatu usaha yang yang tidak mudah. Ia menuntut orang untuk rajin membaca, diskusi, mendengarkan pendapat orang, melakukan pengamatan, belajar beragam bahasa, dan lain-lain, serta keberanian mengemukakan pikiran dan mempertahannya.

Kedua menjadi penulis awalnya tampak sebagai tujuan. Tetapi pada tahap berikutnya menjadi penulis bukan lagi tujuan, tapi ia telah menjadi sarana dan alat untuk menyampaikan ide dan pikiran. Karena pikiran-pikiran merekalah, masyarakat kemudian mempercayai keduanya untuk menjadi presiden yang memimpin masyarakat ini dalam masa krisis.

Karena itu, meski keduanya sudah tiada, orang masih mengenangkan dan mencutat pemikiran mereka misal pemikiran Sukarno tentang Pancasila dan kebangsaan atau pemikiran Gus Dur mengenai pluralisme, Pancasila dan kebangsaan.

Mungkin mustahil bagi kita menjadi presiden, tapi sangatlah mungkin menjadi penulis seperti mereka. (Bahan ini pernah dikemukakan dalam Pelatihan Menulis Esai di Balai Bahasa, Yogyakarta dan di Komunitas Gusdurian)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top