Sedang Membaca
“Mencuri” Keuntungan Politik di Pusara Kiai Maimoen Zubair
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

“Mencuri” Keuntungan Politik di Pusara Kiai Maimoen Zubair

Fathorrahman Ghufron

Berita wafatnya KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) menghentak rakyat Indonesia. Seperti angin mendesir perlahan, kematian itu menelusuri irisan perjalanan Mbah Moen dari Indonesia menuju Mekkah. Ibadah haji yang dilakoninya terakhir kali ini menjadi jembatan penghubung betapa tanah suci ingin merengkuhnya bersama aliran zamzam dan munajat para Nabi.

Meski sanak keluarga dan handai taulan membuat alasan diplomatis agar mbah Moen tidak berangkat haji tahun ini, (ternyata-mbah-moen-sempat-dicegah-saat-mau-naik-haji-cerita-gus-mus-bikin-warganet-meleleh), namun tidak menyurut semangat Mbah Moen ingin menjemput takdirnya di tanah suci. Rasa rindu Mbah Moen terhadap Kakbah sangat membuncah dan tiada apapun yang bisa menghalangi. Karena Allah selalu menyediakan takdir terbaik bagi hamba-Nya yang mengkhidmahkan hidupnya bukan hanya untuk dirinya, namun untuk Dia dan kemaslahatan ummat manusia.

Maka, seusai menjalani thawaf dan mencium hajar aswad, esok harinya, bertepatan dengan hari selasa, tanggal 6 Agustus 2019, kematian itu menghampiri Mbah Moen sesuai dengan yang beliau wasiatkan. Jutaan orang berduyun-duyun mendatangi Ma’la untuk mendoakan Mbah Moen di pusaranya.

Suasana duka tidak hanya menyeliputi wajah kuyu para peziarah. Namun, langit Mekkah pun yang biasanya panas dengan suhu yang sangat menyengat mendadak mendung  dan beberapa saat diguyur hujan.

Residu Pendakuan

Namun, ada sesuatu yang janggal saat prosesi pemakaman Mbah Moen di Ma’la, bagian utara Masjidil Harom yang menjadi komplek pemakaman tertua di Mekkah. Yaitu, ketika sekelompok orang melakukan modus pendakuan dengan merepresentasikan Habib Rizieq Shihab (HRS) sebagai sosok yang memimpin doa pemakaman Mbah Moen. HRS yang sudah setahun lebih tinggal di Mekkah bahkan diganjar overstay oleh pemerintah Saudi Arabia ditampilkan sebagai figur pemesona dalam prosesi pemakaman Mbah Moen. 

Ada berbagai link berita yang memberitakan keberadaan HRS yang di makam Ma’la. Di antaranya: 1. Pemakaman Mbah Moen Dipimpin Imam Masjidil Haram, Bukan Habib Rizieq. 2.  Rizieq Shihab Pimpin Doa Mbah Moen di Makkah? 3.  Habib Rizieq Baca Doa Habib Hanif Baca Talqin

Baca juga:  Aceh dan Identitas Kemelayuan

Bahkan, link itu disebar ke berbagai kanal media sosial dan WA baik perseorangan maupun kelompok. Tidak cukup melalui sebaran link berita, namun cuplikan video pendek yang menayangkan HRS berdoa dan diamini banyak orang dijadikan komoditas informasi yang mewabah di media sosial. Seolah-olah melalui sebaran pesan dan video tersebut ingin menegaskan bahwa HRS menjadi representasi figur yang patut diperhitungkan di Arab Saudi.

Dalam kaitan ini, secara pribadi HRS mungkin tidak mau terlalu disanjung dan diglorifikasi sebagai salah satu lakon utama dalam prosesi Mbah Moen. Dan bisa jadi hal itu hanya kerjaan para pendukungnya yang hingga saat ini masih “patah hati” dengan kekalahan 02 dalam pilpres kemarin. Seakan tidak bisa move on seperti yang dilakukan oleh Prabowo Subianto yang sudah melakukan konsiliasi dan apresiasi atas kemenangan Joko Widodo, barisan “patah hati” itu memanfaatkan berbagai momentum untuk menciptakan provokasi digital dengan cara menyebarkan dis-informasi yang nyaris lepas kontrol. 

Termasuk memanfaatkan prosesi pemakaman Mbah Moen sebagai momentum mencuri perhatian agar bisa “menghipnotis” memori kolektif para pendukung 02 agar tetap setia terhadap figur panutannya. Implikasinya, pelintiran fakta yang sudah terlanjur mewabah di berbagai kanal media sosial menciptakan sebuah perbincangan publik yang satu sisi memecah konsentrasi duka publik terhadap wafatnya Mbah Moen dan sisi lain justru menaikkan tensi enimo masyarakat tentang kesahajaan HRS yang tampil meyakinkan dalam berdoa di Ma’la.

Bahkan, efek penyebaran link berita dan video yang menjadikan HRS sebagai sosok pusat perhatian dalam prosesi Mbah Moen meski sarat dengan pelintiran fakta tersebut, ada saja sekelompok orang yang mengembangkan dis-informasi dalam berbagai bentur flyer dan meme yang membenturkan satu kelompok dengan kelompok lain. Seolah tanpa risih, dalam flyer itu HRS digambarkan sebagai keturunan habib dan figur publik yang paling diwasiati Mbah Moen agar bisa diikuti oleh masyarakat.

Mencermati centang perenang dis-informasi ini sesungguhnya hal itu tidak mempunyai efek yang sangat berarti bagi spirit kebangsaan dan keindonesiaan yang sudah ditancapkan kuat oleh Mbah Moen. Secara mayoritas masyarakat tetap akan selektif menerima informasi yang paling tsiqah dalam menjelaskan sebuah pandangan dan pemikiran yang berkaitan erat dengan perihal merawat Indonesia. 

Namun, adanya residu pendakuan yang sangat intens menggoncang dunia pewartaan di sosial media kadang kala mengganggu perhatian banyak orang tentang sebuah titik peristiwa yang sejatinya direfleksikan bersama. Modus noise minority (kerumunan kecil yang berisik) memang acap kali menjadi cara yang dilakukan oleh pihak pihak tertentu, terutama barisan patah hati tentang bagaimana menciptakan “perang tanding gagasan”  di media sosial.

Counter Informasi

Baca Juga

Beruntunglah kita mempunyai penggiat literasi digital yang setia mewartakan berbagai informasi yang sesuai data dan fakta. Termasuk menayangkan berita yang paling absah dalam menggambarkan suasana pemakaman Mbah Moen di Ma’la. Berbagai link berita on line yang saya sebut di atas  dan cuplikan video pendek yang menjabarkan cukup detail siapa sebenarnya sosok utama pemimpin doa. Bahkan, link http://detik.id/Vn0Mid memaparkan fakta yang disampaikan H. Agus Maftuh Abe Gabriel selaku Dubes Indonesia untuk Arab Saudi bagaimana peran sesungguhnya yang dilakukan HRS kala itu.

Dengan adanya counter informasi ini tentu masyarakat akan tersadar tentang bagaimana menempatkan diri dalam jelaga informasi media sosial yang nyaris kehilangan jangkar keadabannya.

Melalui counter ini pula, perhatian masyarakat terhadap suasana kebatinan dalam merefleksikan suasana duka terhadap Mbah Moen menjadi tapak perkabungan yang sangat instrinsik.

Selain itu, tapak perkabungan itu tentu tidak hanya berhenti pada bagaimana masyarakat malafalkan doa untuk mbah Moen. Akan tetapi yang lebih urgen dan memberikan amal jariyah bagi mbah Moen adalah bagaimana melanjutkan rekam jejak mbak moen dalam berdakwah dengan cara yang humanis dan penuh kerahmatan. Adalah kewajiban kita semua dalam meneladani warisan luhurnya tentang keislaman dan keindonesiaan yang berada dalam satu tarikan nafas.

Dengan cara demikian, maka residu pendakuan apapun yang “melingkupi” prosesi pemakaman Mbah Moen hanya akan menjadi sebuah hampiran sementara lantaran letih dengan suasana rehat sejenaknya yang kemudian menghilang ditelan oleh kegigihan kita bersama dalam melanjutkan komitmen nasionalisme Mbah Moen dalam merawat dan menjaga republik ini dengan baik.

Akhirnya, kami berdoa semoga mbah Moen damai di alam baka sebagaimana spirit damai yang selalu digelorakan mbah Moen di dunia. Lahu al fatihah.. (aa)

Lihat Komentar (5)

Komentari

Scroll To Top