Sedang Membaca
Buku dalam Benak Ibnu Khaldun
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Buku dalam Benak Ibnu Khaldun

M. Fauzi Sukri

Ibnu Khaldun (1332-1406 M), salah satu tokoh pemikir pendidikan-pengajaran Islam, pernah menulis perihal buku yang sungguh aneh tapi sangat menarik: bahaya jumlah buku yang banyak.

Pada satu bagian dari buku termasyhurnya, Muqaddimah, Ibnu Khaldun (2009: 748) mewanti-wanti penulisan buku diktat pembelajaran, “Banyaknya buku ilmu pengetahuan yang ditulis merupakan penghambat memperoleh ilmu pengetahuan”.

Yang perlu diperhatikan, Ibnu Khaldun masih hidup di zaman manuskrip. Penulisan buku masih menggunakan tangan. Penggandaan buku sangat lambat. Produksi buku belum menggunakan teknologi cetak tipografi ala Gutenberg (1455) atau litografi (cap batu) ala Alois Senefelder (1819).

Dunia perbukuan Islam, yang mencapai kejayaan akbar berkat etos intelektual dan kedigdayaan kertas, masih belum memampukan banyak orang punya banyak buku akademik bermutu tinggi. Belum ada produsksi buku secara massal apalagi kapitalisme percetakan seperti yang kita kenal sekarang.

Dalam persepsi umum mutakhir, sedikitnya buku apalagi jika sampai pada taraf tiada buku adalah penyebab utama penghambat memperoleh ilmu. Tak terbayangkan apalagi pada tingkat doktoral perguruan tinggi belajar tanpa buku yang cukup melimpah.

Tak ada kajian dan karya kepenulisan yang bagus dan cukup bisa diandalkan jika tidak didukung dengan literatur yang memadai. Seorang penulis/pembelajar bisa saja terjebak dalam pengulangan dan pengulangan yang tak perlu bahkan fatal jika tidak didukung dengan literatur yang cukup.

Itulah kenapa, terutama sejak mesin percetakan modern mampu mencetak buku secara massal dan hampir persis, buku-buku diktat pengajaran mutlak menjadi perlengkapan proses pembelajaran di seluruh dunia. Pengajaran lisan memang masih dominan, tapi pengaruh buku diktat (text book) sebagai pola pengajaran berbasis keaksaraan semakin kuat dan semakin sangat kuat saat memasuki jenjang pendidikan-pengajaran yang lebih tinggi.

Baca Juga:  Gus Dur di Buku Kiai Saifuddin Zuhri

Manusia tak pernah lahir sudah membaca buku-buku yang ada sejak zaman Yunani sampai zamannya: tiap bayi adalah bodoh, meski berpotensi jenius. Buku bagus bisa merangsang penjeniusan pemikiran manusia.

***

Adalah sangat menarik membaca argumen pedagogis Ibnu Khaldun perihal banyaknya buku sebagai penghambat pengajaran-pendidikan di zaman kapitalisme cetak-digital. Pernyataan Ibnu Khaldun tentu bukan untuk mengecam kapitalisme perbukuan yang telah berhasil merangsang penulisan dan memperbanyak jumlah buku di dunia. Kritik Ibnu Khaldun jauh lebih esensial dalam penulisan buku dan, yang menarik, justru sangat relevan di zaman kapitalisme percetakan.

Dalam sejarah khazanah tradisi pemikiran pendidikan-pengajaran Islam, etiket terhadap buku (kitab) sudah menjadi pemikiran tersendiri dan mantap dalam tiap buku etika pengajaran (ta’lim). Namun, dibandingkan pemikiran ilmuwan Muslim dalam buku ta’lim termasuk karya Hadlratussyekh M. Hasyim Asy’ari, Ibnu Khaldun barangkali adalah ilmuwan pertama yang memikirkan bahaya banyaknya buku dalam tradisi perbukuan-pengajaran ilmu-ilmu keislaman.

Yang dikhawatirkan Ibnu Khaldun adalah kekaburan bahasa yang digunakan dalam berbagai ragam pendekatan, penyajian, dan metode yang berbeda dalam penulisan buku dalam satu disiplin ilmu. Alasan pedagogis Ibnu Khaldun: “Berbeda-bedanya istilah-istilah yang diperlukan dan dipakai untuk pengajaran, serta beragamnya metode yang dipergunakan di dalamnya…” akan menghambat proses belajar.

Kita tahu, sering beberapa ilmuwan-ulama apalagi dengan kecenderungan bahasa sendiri menggunakan istilah (terminologi) yang berbeda-beda untuk satu pengertian atau satu benda yang sama. Terminologi ilmu yang dipakai dan metode pengajaran yang berbeda dalam satu buku dengan buku yang lainnya akan menghambat proses pencernaan-pemahaman dalam pikiran dan penghafalan, meski sebenarnya ilmu yang hendak disampaikan sama.

Seorang pembelajar akan sangat sibuk menjernihkan pemahaman akibat segala perbedaan yang ada dalam berbagai literatur untuk mendapatkan dan menguasai pemahaman yang baik dan jelas.

Akibatnya, kata Ibnu Khaldun, seorang pelajar bahkan jika seumur hidup mempelajari satu disiplin ilmu tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari semua perbedaan-perbedaan terminologi dan menguasainya sehingga akhirnya layak disebut seorang sarjana/ulama. Padahal, pada zaman Ibnu Khaldun, calon sarjana biasanya wajib mempelajari berbagai disiplin keilmuan: bahasa, logika, kalam, hadis, tafsir, fikih, dan seterusnya.

Baca Juga:  Tren Habib dan Ulama

Tradisi pengajaran sarjana ensiklopedis (the encyclopedic scholar) pada zaman Ibnu Khaldun, sebagaimana dikatakan Zaid Ahmad (2003) dalam The Epistemology of Ibnu Khaldun, harus mewaspadai jumlah buku melimpah yang menggunakan terminologi yang berbeda-beda yang bisa merancukan pemahaman.  

Baca Juga

***

Selain itu, Ibnu Khaldun juga membuat satu kesimpulan menantang perihal perbukuan yang semakin relevan untuk saat ini. Ibnu Khaldun (2009: 750) mengatakan, “Banyaknya ringkasan tentang bermacam masalah keilmuan mengganggu proses pengajaran”. Pernyataan ini sebenarnya adalah kritik keras terhadap pola penulisan buku dalam tradisi Islam: ada kitab matan, lalu diberi penjelasan (syarah), lalu kitab syarah diberi penjelasan lagi (hasyiyah), lalu karena sudah terlalu tebal dan mahal ulama membuat ringkasan. Tentu saja, yang banyak adalah kitab ringkas(an) mengingat posisinya sering digunakan sebagai kitab diktat dasar pengajaran-pendidikan.

Alasan Ibnu Khaldun sangat sederhana: ringkasan adalah penyederhanaan yang seringkali dipaksakan. Buku ringkasan tentu saja mengurangi isi dan bobot buku asal bisa merugikan gaya bahasa buku asal. Ia juga akan memperpendek atau memperlemah daya tahan-jelajah akal untuk mengasah dan membuat rasionalisasi dan memberikan penjelasan-penjelasan yang kompleks, sistematis, dan logis, tanpa terjebak dalam simplifikasi berbahaya.

Buku ringkasan barangkali hanya penting untuk murid tingkat dasar. Namun, bagi calon sarjana/ulama, buku utuh dengan segala kompleksitas dan gaya bahasanya adalah yang utama. Membaca buku kompleks adalah bagian dari pelatihan dan keterampilan seorang sarjana.

Betapa berbahaya dan penuh prasangkanya jika seorang sarjana/ulama hanya membaca sekian kalimat atau beberapa lembar slide power point dari buku yang ditulis dengan riset lama, penulisan yang rumit, dan penjelasan argumentatif menawan nan kompleks. Pengalaman kepembacannya, jika hanya membaca kalimat pendek atau power point, jelas akan sangat minimalis, tak teruji, pemahamannya pantas diragukan, dan hampir pasti membuat rasa inferioritas intelektualitas di masa depan.

Baca Juga:  Pulau Simeulue Menuju Kehancuran Ekologis

Dalam jangka panjang, model peringkasan ini sebenarnya bisa termasuk dalam jenis pembodohan. Seorang pelajar/mahasiswa/santri tidak pernah diberi kesempatan untuk mengenal buku asli dari seorang penulis atau penemu suatu teori sehingga mengetahui proses penemuan satu rumus atau teori langsung dari penemu atau penulisnya sendiri.

Daya etos belajar menjadi lemah karena sudah terbiasa dengan ringkasan yang praktis tanpa hendak membaca buku aslinya dengan sabar, teliti, telaten, dan kritis. Semua ini tidak akan dialami dalam pikiran-hati jika hanya membaca kitab/buku ringkasan.

Akhirnya, meskipun Ibnu Khaldun tidak hidup di zaman kapitalisasi percetakan pendidikan-pengajaran, peringatan dan kecemasan Ibnu Khaldun jauh lebih pantas dipikirkan di zaman ini bagi tiap orang pembelajar.

Lihat Komentar (1)

Komentari