Sedang Membaca
Mengunjungi Penerbit Mustafa al-Babi al-Halabi yang Hampir Mati (?)
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Mengunjungi Penerbit Mustafa al-Babi al-Halabi yang Hampir Mati (?)

Sunarwoto

Bisa mengunjungi kota bersejarah bagi umat Islam seperti Kairo, Mesir, tentu merupakan nikmat tersendiri, setidaknya bagi saya. Tidak lama, saya hanya berada di sana hanya enam hari termasuk hari kedatangan dan kepulangan.

Dua hari terakhir saya gunakan untuk menyusuri jalan dan gang dekat Universitas Al-Azhar dengan tujuan, terutama, untuk melihat toko-toko kitab-kitab kuning. Entah berapa ratus jumlah toko kitab dan penerbit di daerah itu. Salah satu nama yang sudah terpatri dalam ingatan saya adalah penerbit lawas, “Matba’ah Mustafa al-Babi al-Halabi”, yang begitu akrab di kalangan pesantren dan juga penikmat kitab-kitab kuning di Nusantara.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Penerbit Mustafa al-Babi al-Halabi didirikan pada 1859 oleh Ahmad al-Halabi, imigran asal Syria dengan nama awal Matba’ah Maimanah (Sekilas tentang penerbit ini, lihat, misalnya, http://raffy.me/publisher/19545/مطبعة-مصطفى-البابي-الحلبي . Beberapa koleksi kitab Nusantara dari Christiaan Snouck Hurgronje (wafat 1936) yang tersimpan di perpustakaan Leiden, Belanda, diterbitkan oleh Matba’ah Maimanah ini.

Selasa, 22 Oktober 2019, lalu saya main ke Maidan Mustafa al-Babi al-Halabi al-Shuraka, salah satu gudang penerbit legendaris ini. Tempatnya di pojok jalan. Menurut penuturan teman, ada gudang lain yang lebih dekat ke kampus Al-Azhar. Ada bapak tua penjaga yang menunjukkan ruang tempat buku-buku. Begitu masuk, yang tampak adalah gudang yang kotor dan berdebu. Sebagian buku tidak tertata dengan rapi di depan dekat pintu masuk. Di tempat itu beberapa buku ulama Nusantara, mulai dari Aceh, Jambi, Pontianak, Bogor, hingga Semarang tergeletak tak tertata dengan baik. Bahkan seperti sampah buangan.

Baca juga:  Kekuatan Nama-nama Islam

Kitab Nusantara yang tersisa

Tidak banyak tersisa kitab Nusantara cetakan penerbit ini. Tampak sekali bahwa kitab-kitab itu dicetak dengan kertas yang bermutu rendah, sehingga sering tidak jelas. Saya berhasil mengumpulkan sekitar 20-an karya berbahasa Melayu, baik saduran, terjemahan, maupun asli karangan beberapa ulama Nusantara seperti Dawud bin Abdullah al-Fatani (dari Patani, Thailand), Muhammad Zain ibn al-Faqih Jalal al-Din (dari Aceh), Husn al-Din bin Muhammad Ma’sum bin Abi Bakar al-Dali al-Sumatrawi (Deli, Sumatra), Usman bin Shihab al-Din (dari Pontianak), Husain Nasir ibn Muhammad Tayyib al-Mas’udi al-Banjari (Banjar, Kalimantan), Muhammad Salih bin ‘Umar al-Samarani atau Kyai Saleh Darat (Semarang), Raden Haji Muhammad ibnu Raden Natanegara (Bogor), dan Hasan bin Haji Yahya (dari Jambi).

Di samping kitab-kitab berbahasa Melayu, kitab-kitab berbahasa Arab karya ulama Nusantara juga masih ada, misalnya Manhaj Dhawi al-Nazhar karya Shaikh Mahfud Termas dan beberapa karya Syaikh Nawawi Banten seperti Tanqih al-Qawl dan Maraqi al-‘Ubudiyah.

Tertinggal zaman?

Saya mengumpulkan semua yang masih layak dibeli. Usai kumpul, bawa ke penjaga kasirnya, seorang bapak tua. Harganya bukan main, yang dulu harga cuma 3 pound naik 6 pound, 10 pound jadi 20 pound dan seterusnya. Tidak apa sih. Di samping penyesuaian harga, konon kenaikan ini dikarenakan mereka tahu bahwa buku-buku ulama nusantara yang langka banyak dicari oleh orang Indonesia dan sekitarnya dan kemudian dicetak ulang.

Baca juga:  Para Pencinta Rasulullah Saw Menurut KH. M. Hasyim Asy’ari

Hanya ada satu hal yang membuat agak gemas campur kesal. Si bapak menghitung manual dari 24 buku yang saya pilih. Bukan hanya menghitung, dia tulis judul-judulnya dulu lalu hitung harga sambil cek daftar harga lama. Harga lama 100 persen lebih murah dari harga sekarang. Jengkel lagi, saat teman membantu dengan kalkulator HP, dia menolak. Dan akhirnya nunggu lama, sementara saya harus kejar waktu. Selesai hitung, temen saya mencoba mengecek dengan kalkulator, dan hasilnya sama. Di sini saya terkesan kemampuan bapak tua mengingat dan menghitung.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Jika dibanding penerbit-penerbit baru seperti Darul Hadis, Mustafa al-Babi al-Halabi tampak sekali tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Tidak ada komputer dan kalkulator saja sudah menunjukkan betapa kunonya penerbit legendaris yang berjasa besar menerbitkan karya-karya ulama Nusantara. Penerbit-benerbit baru mencetak buku dengan luks dan di toko-tokonya dipajang dengan rapih dan bersih, dengan bantuan komputer bisa dilacak dengan mudah buku-buku yang diinginkan dan beserta harganya, dan tentu penghitungan harga yang cepat.

Melihat kondisi penerbit legendaris ini, tentu menyedihkan, terutama bagi pecinta kitab kuning. Sekitar dua tahun lalu saya membeli buku Fathul Bari, syarah Sahih Bukhari, di Kairo melalui seorang teman yang sedang belajar di sana. Dari berbagai edisi, saya memilih terbitan Mustafa al-Babi al-Halabi ini. Edisi yang saya beli adalah hasil tahqiq dari Ibrahim ‘Atwah ‘Aud, pengajar di Universitas Al-Azhar.

Baca juga:  Sabilus Salikin (106): Tarekat Akbariyah dan Riwayat Ibnu Arabi (1)

Selain harganya lebih murah dibanding lainnya, pertimbangan mendasar saya memilih edisi karena cetakan penerbit ini relatif bebas dari intervensi muhaqqiq berideologi Salafi atau Wahhabi, terutama oleh Shaikh Nasir al-Din al-Albani. Tentu ini pilihan subjektif saya.

Koleksi penulis

Bagaimana pun, penerbit ini berkontribusi besar untuk penyebaran kitab-kitab Nusantara di masa lalu. Akankah bisa bertahan atau sedang sekarat menuju kematiannya?

 

Delanggu, 2 November 2019

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top