Sedang Membaca
Hitam Putih Muawiyah

Alumni International University of Africa, Republik Sudan, kini menjadi pendidik dan pengajar di Pondok Pesantren Al-Bayan, Banten Selatan.

Hitam Putih Muawiyah

2560px Tomb Of Caliph Muawiya Bin Abi Sufyan

“Seandainya dulu saya hanya rakyat biasa, hanya seorang pria Qurays yang tinggal di Dzu Thuwa (negeri Syam), dan andai saja saya tak pernah menjadi penguasa.”

Pernyataan Muawiyah sebelum wafatnya itu disaksikan langsung oleh seorang sahabatnya, Muhammad bin Uqbah. Muawiyah tak lain adalah penguasa muslim yang ambisius, dan menjadi khalifah antara tahun 661-680 Masehi. Sebelum Muawiyah, penguasa muslim yang berasal dari Bani Umayah adalah Utsman bin Affan.

Sebagai gubernur Syiria yang dinonaktifkan setelah wafatnya Utsman, Muawiyah dinilai terburu-buru menuntut pembalasan atas kematian sang khalifah. Tetapi, menurut Sayidina Ali (selaku khalifah penggantinya), perlu ada pembuktian ilmiah untuk menyatakan seseorang itu bersalah atau tidak. “Jangan terlampau dendam,” ujar Sayidina Ali, “karena orang yang mencari kebenaran itu lebih baik, walaupun kebenaran itu tak diperolehnya. Ketimbang mereka yang mencari-cari kesalahan walaupun sudah berhasil diraihnya.”

Muawiyah tergolong penguasa pertama dari keturunan Bani Umayah, yang berhasil menjadikan garis keturunan ini sebagai dinasti di tubuh kekhalifahan. Karir politiknya selaku penguasa daerah berkat jasa-jasa mendiang Umar bin Khattab. Kala itu, di hadapan Umar, Muawiyah menunjukkan diri sebagai penguasa daerah yang sukses, di antaranya adalah parade militer, serta dibukanya angkatan laut di wilayah Syiria.

Ketika Khalifah Ali wafat, perseteruan antara Hasan bin Ali selaku penerus ayahnya, dengan ambisi Muawiyah untuk merangsek di tampuk kekuasaan semakin meruncing. Akhirnya, Hasan melepaskan jabatannya. Ia hanya meneruskan kepemimpinan sekitar enam hingga tujuh bulan saja. Dengan kekosongan itu, Muawiyah serta-merta tampil selaku penguasa tunggal kekhalifahan sejak 661 Masehi.

Pada masa kekuasaannya, Muawiyah mengadopsi sistem kekuasaan para raja di jazirah Arab dan sekitarnya. Pasukan militernya mengepung Konstantinopel, kemudian berhasil menaklukkan dan menduduki wilayah di sekitarnya. Dalam literatur Madinah, pada awalnya penaklukan itu dipuji-puji sebagai prestasi Muawiyah yang gemilang, namun kemudian di masa Abbasiyah mengalami pergeseran nilai, yakni suatu penaklukan dan penjajahan wilayah secara ambisius yang merupakan tabiat dan karakteristik keluarga besar Bani Umayah.

Baca juga:  Kisah Ashabul Kahfi: Sejarah Perlawan Rakyat kepada Pemimpin Zalim

Ambisi Muawiyah dan Wafatnya Utsman

Saydina Ali tidak serta-merta menyimpulkan bahwa Muawiyah adalah orang yang bertanggungjawab di balik pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan. Meskipun, ia membaca kondisi yang tak selazimnya ketika Muawiyah menggelar yel-yel dan memajang baju Utsman yang berlumuran darah di pintu gerbang masjid Damaskus. “Kamilah pembela-pembela Utsman bin Affan… kamilah pembela-pembela Utsman bin Affan…!” teriak para pengikut Muawiyah.

Kelicikan di balik siasat dan ambisi politik kekuasaan, sebenarnya terbaca dengan jelas oleh Saydina Ali, hingga ia pun pernah berkomentar, “Kalau saya menghendaki kejahatan, saya bisa melakukan sesuatu yang lebih lihai daripada Muawiyah.”

Bagaimanapun, Saydina Ali memahami prinsip-prinsip hukum dan keadilan, bahwa membebaskan seribu orang yang bersalah, jauh lebih baik daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah. “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu berlaku tidak adil kepada kaum tersebut.” (al-Maidah: 8).

Di masa tuanya, ketika nyawa sudah di kerongkongan, Muawiyah sempat meminta pada anaknya Yazid, agar membangunkannya dalam posisi duduk. Dan orang-orang pun membantu Yazid untuk mendudukkannya. “Sekarang Anda menyadari kekuasaan dan keperkasaan Allah, wahai Muawiyah, setelah usiamu menua dan tubuhmu begitu lemah tak berdaya. Padahal, dahulu tubuh ini begitu kuat dan kekar,” kata salah seorang yang ikut mendudukkan Muawiyah.

Dikisahkan tentang datangnya beberapa sesepuh dari suku Qurays menjenguk Muawiyah di pembaringannya. Mereka menyaksikan kulit-kulit tubuhnya pecah-pecah, melepuh dan gosong seperti tersengat matahari. Kemudian, Muawiyah berseru seperti menyesali dirinya sendiri: “Apalah arti kehidupan dunia ini? Ketahuilah, demi Allah, kalaupun kita pernah merasakan kesenangan dan kenikmatan, itu hanya sesaat dan sepintas lalu saja.

Baca juga:  Manaqib KH. Syamsul Arifin Jember: “Nyongkel Sekep” dan Kesombongan Teologis di Masa Pandemi

Tidak ada artinya. Setelah itu, kita semua akan menua, lemah dan binasa, lalu dunia ini akan menuntut pertanggungjawaban kita semua. Kita akan termakan usia, usang dan lusuh seperti baju kotor yang terkoyak-koyak. Dulu kita bertampang gagah mengangkat senjata, tapi sekarang dunia ini yang mengangkat senjata untuk menyerang kita. Ah, buruk sekali kehidupan dunia ini… sungguh buruk sekali…!”

Pada kesempatan lain, di pembaringannya, Muawiyah berseloroh lagi, “Sekarang aku ini seperti tanaman yang buahnya sudah habis dipetik dan dipanen. Aku sudah lelah memerintah kalian, dan siapapun yang kelak menjadi penggantiku, pasti akan lebih buruk kekuasaannya daripada aku. Begitupun halnya dengan kekuasaanku yang jauh lebih buruk ketimbang khalifah sebelum aku.”

Pada titik ini, di dalam hatinya ia mengakui keabsahan dan kredibilitas pemimpin sebelum dirinya, Khalifah Ali bin Abi Thalib yang merupakan garis keturunan dari Bani Hasyim sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Pengangkatan Yazid bin Muawiyah

Sebelum wafatnya, Muawiyah sempat mengangkat Yazid, puteranya untuk menduduki tampuk kekuasaan. Ia kemudian diperingatkan oleh Abu Amr bin A’la, “Apakah Tuan tidak mau memberi wasiat?”

Setelah terdiam sejenak, Muawiyah kemudian tersadar, “Ya Allah, maafkan kekhilafanku… maafkan kebodohan hamba-Mu ini… juga kebodohan orang-orang yang  bergantung pada selain-Mu. Tak ada tempat mengadu selain hanya kepada-Mu.”

Tak lama kemudian, ia berkata dengan mulut bergetar dan terbata-bata, “Dialah Sang Maut, tak ada yang bisa menyelamatkan diri darinya. Sungguh, kejadian-kejadian setelah mati akan lebih dahsyat dan lebih mengerikan lagi.”

Untuk menahan rasa sakitnya, Muawiyah minta kepada Abdul Malik bin Umair agar menggosok kepalanya dengan minyak, serta mengompres kedua matanya. Ia minta didudukkan di atas karpet, lalu meminta orang-orang untuk mendekat kepadanya. Tak berapa lama, seorang laki-laki mendekatinya, dan berseloroh lantang, “Inikah laki-laki yang ambisius itu? Inikah orang bernama Muawiyah yang dulu dikenal gagah perkasa itu…?!”

Baca juga:  Soekarno, Tan Kiem Liong, dan Makan Siang Kiai-Kiai

Setelah lelaki itu keluar, Muawiyah berkata dengan mata terpejam, “Saat ini, saya harus tabah menghadapi orang-orang yang menghina dan mencela aku. Dan nanti, ketika sang maut datang menjemputku, kalian akan saksikan sendiri bahwa segala jimat dan penangkal apapun, tidak ada yang bisa menolong dan menyelamatkan kita semua….”

Dalam konteks kekuasaan masakini yang lebih eksklusif dan terbuka (dan Islam terus mengalami transformasi), kita dapat mengajukan pertanyaan yang prinsipil: siapakah sosok Muawiyah itu yang sebenarnya? Apakah konsep ajaran Islam membenarkan penganutnya untuk bersikap obsesif dan ambisius dalam politik kekuasaan yang bersifat duniawi?

Apakah benar Muawiyah memperjuangkan nilai-nilai islami, ataukah semata-mata penguasa yang menganggap Islam hanya sah dan legitimate jika diperjuangkan oleh keturunan Bani Umayah? Apakah ia tulus memperjuangkan Islam berdasarkan hatinuraninya, ataukah hanya sibuk memperjuangkan ambisi leluhurnya dengan memakai baju Islam?

Dari perspektif manusia modern, Muawiyah tegolong penguasa yang cerdas dan jenius, tetapi dalam kacamata Islam (religiusitas), ia hanyalah seorang bodoh (jahil) karena ia lebih menentingkan kehidupan dunia yang semu dan sesaat, ketimbang negeri akhirat yang abadi dan sejati.

Hal ini bisa disandingkan dengan ambisi kepala negara yang berkuasa selama 32 tahun dalam buku Pikiran Orang Indonesia, yang sedang ramai menjadi perbincangan publik. Penulisnya yang kelahiran Banten itu, menyebut Soeharto seakan-akan memakai baju Pancasila demi untuk melanggengkan status quo serta memperkaya diri, anak-cucu dan para kroninya. Di akhir hayatnya, tanpa ia sadari, tiba-tiba mengganti pakaiannya dengan jubah Islam, hingga layak disejajarkan dengan sosok Muawiayah dalam sejarah peradaban Islam. (*)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
2
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top