Sedang Membaca
Tafsir Kalimat Tauhid: Membaca Krisis Keberagamaan Lewat Kitab Imam Fakhruddin ar-Razi

Alumni Pascasarjana UGM, Penikmat Sejarah dan Tasawuf asal Jakarta.

Tafsir Kalimat Tauhid: Membaca Krisis Keberagamaan Lewat Kitab Imam Fakhruddin ar-Razi

Tafsir Kalimat Tauhid

Dalam salah satu pengajiannya via youtube. Gus Baha menjelaskan tentang Nabi Ibrahim. Saat itu Nabi Ibrahim menangis. Kemudian ditanya oleh Allah SWT. “Wahai Ibrahim mengapa engkau menangis? Aku menangis karena Engkau Dzat yang begitu agung pusat dari segala yang ada, namun kenapa hanya aku yang menyembah-Mu”.

Tangis Nabi Ibrahim adalah kekhawatiran tentang sikap manusia yang terkadang lupa tentang keesaan Allah. Padahal segala sesuatu bersumber dari-Nya. Asal-muasal sesuatu berasal dari-Nya, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.  Oleh karena itu, tangis Nabi Ibrahim adalah tangis harapan bahwa kelak ada dari anak keturunannya yang selalu  mengajak orang-orang untuk ingat kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, Nabi Ibrahim dijuluki sebagai “bapak tauhid”.

Ketakutan dan kekhawatiran Nabi Ibrahim adalah sikap sosial yang selalu mementingkan umatnya dan orang lain. Berbeda dengan sikap keberagamaan kita hari ini. Seseorang yang semakin soleh dalam beragama justru semakin egois dan merasa paling benar sendiri.

Padahal beragama merupakan sikap yang rendah hati, sikap yang selalu istiqamah mengingat Allah SWT dalam setiap aktivitas kehidupannya, terutama yang berkaitan dengan keesaan Allah. Dalam Islam, tauhid atau keesaan Allah, yakni ‘Tidak ada Tuhan yang berhak dan pantas disembah selain Allah’. Menempati posisi teramat penting bagi seorang muslim.

Keimanan pada ajaran tauhid harus dimiliki selama hayat masih dikandung badan dan bahkan mesti dipegang seteguh-teguhnya di saat seorang muslim menyongsong kematian. Oleh karena itu, melalui buku setebal 191 halaman yang berjudul, “Tafsir Kalimat Tauhid”, Imam Fakhruddin ar-Razi berusaha menguraikan hakikat dan makna kalimat tauhid.

Mendahulukan Ilmu Pokok daripada Ilmu Cabang

Allah yang Maha Suci lagi Maha Luhur berfirman kepada Rasulullah SAW; “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan” (QS 47: 19).

Baca juga:  Tips Menjadi Pemuda yang Diinginkan Al-Qur’an

Allah SWT telah mendahulukan perintah-Nya kepada manusia agar mengetahui keesaan Allah (tauhid) daripada perintah memohon ampunan-Nya (istighfar). Alasannya, mengetahui keesaan Allah (tauhid) mengisyaratkan akan ilmu pokok, sedangkan menyibukkan diri dengan memohon ampunan mengisyaratkan akan ilmu cabang.

Sungguh, selama seseorang tidak mengetahui adanya Sang Pencipta, ia akan tercegah dari ketaatan dan sikap khidmat kepada-Nya. Ketika Nabi Ibrahim sibuk dalam doanya, beliau mendahulukan permintaan akan pengetahuan (tauhid) daripada ketaatan. Nabi Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang salih” (QS 26: 83).

Kata-kata Nabi Ibrahim, “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah”, mengisyaratkan penyempurnaan kekuatan pengelihatan akan pengetahuan hakikat segala sesuatu, sedangkan kata-kata, “dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang salih”, mengisyaratkan pada penyempurnaan kemampuan amal untuk menjauh dari kesia-sian dan sikap lalai. Maka, beliau mendahulukan ilmu daripada amal.

Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa untuk menjaga susunan ini (ilmu, kemudian amal). Dia berfirman; “Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku” (QS 20: 13-14). Firman-Nya, “tidak ada Tuhan selain Aku”, mengisyaratkan akan ilmu pokok, sedangkan firman-Nya, “Maka sembahlah Aku”, mengisyaratkan akan ilmu cabang.

Melalui beberapa argumen yang ditulis dalam buku ini, sebagaimana diuraikan di atas. Imam Fakhruddin ar-Razi menyatakan bahwa “Dia mendahulukan perintah makrifat tauhid daripada perintah untuk memohon pengampunan”.

Baca juga:  Tafsir Surah al-Fatihah (6): Mengupas Makna Hamdalah dan Keutamaannya

Faidah-Faidah Kalimat Tauhid (La Ilaha Illallah) 

Kalimat La Ilaha Illallah merupakan zikir yang paling utama. Dalam kitab ini Iman Fakhruddin ar-Razi menguraikan sembilan faidah kalimat tauhid. Beberapa diantaranya: sungguh, Allah SWT menyuruh anda agar taat melaksanakan banyak hal: salat, puasa, dan haji, dan Dia tidak menyertai Anda dalam semua hal itu. Kemudian Allah menyuruh anda mengucapkan La Ilaha Illallah, dan Dia menyertai nda dalam melakukannya.

Allah berfirman, “Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS 3: 18).

Pengulangan kalimat tauhid pada ayat di atas memiliki dua maksud. Satu, seorang hamba mesti tekun mengikrarkan kalimat tauhid sepanjang hayat. Dua, seakan Dia berkata, “Wahai hamba-Ku, Aku menjadikan kalimat ini sebagai ayat pertama dan terakhir, maka demikian juga kamu mesti menjadikannya sebagai awal dan akhir usiamu, sehingga kamu beroleh bahagia dengan kemenangan dan keselamatan”.

Diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Nabi SAW, berkata, “Allah membukakan pintu-pintu surga, lalu seseorang menyeru dari bawah ‘Arsy, ‘Hai surga dan semua nikmat yang ada padamu, untuk siapakah kamu?’ Maka surga dan yang ada di dalamnya berseru, ‘Kami bagi ahli La Ilaha Illallah, dan kami merindu ahli La Ilaha Illallah. Kami diharamkan bagi orang yang tidak mengatakan La Ilaha Illallah, juga diharamkan bagi orang yang tidak percaya pada La Ilaha Illallah’. 

Nama-Nama Kalimat Tauhid (La Ilaha Illallah) 

Selain itu, dalam buku ini Imam Fakhruddin ar-Razi juga menjelaskan tentang nama yang digunakan untuk menyebut kalimat tauhid. Diantaranya, kalimat La Ilaha Illallah, dinamakan kalimat tauhid karena kalimat tersebut menunjukkan pada negasi syirik secara mutlak, bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah”.

Baca juga:  Asal-usul Madzhab Revisionis dalam Pengkajian al-Qur’an

Kalimat La Ilaha Illallah, dinamakan kalimat tayyibah karena kalimat ini suci dari noda dan cela, bahkan berada diantara keduannya, menjadi pemilah bagi keduanya. Diharapkan pengucapnya akan memiliki nama yang baik di dunia dan akan mendapatkan tempat yang baik di akhirat.

Kalimat La Ilaha Illallah, dinamakan kalimat al-Ulya, karena jika cahaya kalimat La Ilaha Illallah masuk dalam hati, berarti itu adalah cahaya ketuhanan. Dan jika cahaya ketuhanan telah ada dalam hati, dengan serta merta akan muncul kekuatan rasa takut pada Allah. Seseorang akan memandang hina keadaan-keadaan dunia, hatinya terjaga dari perbuatan kotor, seperti korupsi dan berbuat zholimi.

Kalimat La Ilaha Illallah, dinamakan kalimat As-Sadid (Benteng yang Kokoh), kalimat ini dinamakan demikian, karena kalimat yang membentengi pengucapnya dari pintu-pintu Jahanam dan perbuatan tercela.

Kalimat La Ilaha Illallah, dinamakan ash-Shidq (Kalimat Kebenaran), Allah SWT berfirman, “Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang bertakwa” (QS 39: 33), yaitu, kalimat La Ilaha Illallah.

Ya Allah, demi hak-hak nama-Mu Yang Suci dan Disucikan, jagalah kalimat ini dalam hati kami dengan penjagaan-Mu.

Judul: Tafsir Kalimat Tauhid

Penulis: Imam Fakhruddin ar-Razi

Penerbit: Pustaka Hidayah

Halaman: 191

Tahun: 2007

ISBN: 978-979-1096-32-4

 

 

 

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top