Christian Saputro
Penulis Kolom

Nama lengkapnya Christian Heru Cahyo Saputro. Mantan Kontributor indochinatown.com, Penggiat Heritage di Jung Foundation Lampung Heritage dan Pan Sumatera Network (Pansumnet)

Catatan Webinar Sin Ci Gus Dur: Merawat Nilai-nilai Warisan KH Abdurrahman Wahid

Dsc 0529

Kegiatan Webinar Sin Ci Gus Dur yang digelar Perkumpulan Boen Hian Tong (Rasa Dharma) Semarang, Minggu, 13 September 2020,  berlangsung dengan sukses. Webinar yang ditaja dalam rangkain perayaan King Hoo Ping,  Jiet Gwee Jie Lak 2571 ini diikuti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Putri ketiga almarhum Gus Dur Anita Hayatunnufus Wahid, tokoh-tokoh lintas agama, Kristen, Hindu, Buddha, Katholik, Islam, Khonghucu  dan Penghayat serta puluhan audiens dari dalam negeri ini.

Webinar yang mengusung “Sinci Gus Dur dalam Perspektif Spiritual Agama dan Penghayat” juga disiarkan langsung  (live streaming)  lewat akun Youtube @Semawis. Webinar yang memakan waktu  sekira 3 jam ini dipandu moderator Willy Leo Santiko yang menghadirkan nara sumber; 6 pemuka agama dan juga tokoh penghayat antara lain: Xs.  Budi S Tanuwibowo (Ketua Dewan Rohanian Matakin), Bkh Cattamano Mahathera (Ketua Vihara Tanah Putih Semarang), Romo Ed Didik SJ (Pastor Kepala Paroki Bongsari Semarang), Drs,KH. Mustam Aji ,MM Ketua FKUB Kota Semarang), Noen Soeyono (Presedium Pusat  MLKI) I Ngengah Wiria D, SH, MH (Ketua PHDI Kota Semarang), Pendeta Sediyoko, M.Si (Ketua Umum PGKS) dan Naen Suryono dari Penghayat berlangsung dengan gayeng.

Belajar Berindonesia di Rasa Dharma

Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, malam ini saya hadir pada Webinar yang berbeda. Biasanya  webinar-webinar yang melulu ngrembuk  masalah Covid. “ Saya berharap para peserta webinar malam ini tidak pernah patah dan berhenti untuk menggalang solidaritas,” ujarnya.

Selanjutnya, Gubernur berkisah, ketika suatu kali datang ke Rasa Dharma di Gang Pinggir, Pecinan Semarang .”Saya pernah datang ke Rasa Dharma yang menarik saya bertemu dengan orang-orang di luar dugaan saya. Gedung Rasa Dharma sudah berusia ratusan tahun. Pengurusnya komplit, ada yang bermata sipit, melotot, bahkan ada yang kudungan,”  kisah Ganjar.

Baca juga:  Sambut Bulan Ramadan, Lomba Cerpen Santri 2018 Digelar

Kemudian di dalam gedung ada papan Sin Ci bertuliskan KH Abdurrahman Wahid. Luar biasa. “Ini benar-benar luar biasa, ketika saya masuk merinding. “Betapa seorang Gus Dur betul-betul itu menjadi jembatan, kalau ini menghubungkan dua tempat. Menjadi lem kalau ini harus merekatkan. Itu melegakan, membuat semua orang ayem, tenang dan ora gelutan,” imbuh Gubernur Jateng suka cita.

Maka tidak hanya Sincinya saja, lanjut Ganjar, tetapi nilai-nilai yang ditunjukkan di situ. “Di sana (Rasa Dharma—red) tidak ada ada aktor-aktor yang mengibarkan bendera merah putih dengan teriak-teriak, menyampaikan pesan Bhinneka Tunggal Ika tanpa harus teriak-teriak, dan juga menyampaikan pesan kemanusian dengan asik-asik aja, “ beber Ganjar.

Orang nomor satu di Jawa Tengah itu, bahkan sangat berkesan ketika dipaksa duduk untuk menikmati makanan yang disediakan. “Dari kuliner saja kita bisa bercerita bagaimana akulturasi itu berjalan. Sebagai anak bangsa suasana ini membuat saya merasa mungkin ini yang dimaksud para pendiri bangsa agar kita berindonesia,” tandas Ganjar bangga.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Lebih lanjut, Ganjar mengingatkan, berkaitan dengan situasi saat ini, masak di saat pandemi ini masih hanya mau berpikir masalah politik dan kekuasaan. “Masak berdonasi,  mau bantu-bantu masih  berpikir,  tanya suku, ras dan agama. Saya mengadakan program gerakan beli produk UMKM dan warung tetangga, tetapi kalau mau belanja, ya, jangan tanya, suku, ras, atau sukunya yang jualan,” ujarnya mengingatkan.

Baca juga:  Bersama Kiai Said, Satgas NU Peduli Terus Tanggulangi Corona

Gus Dur, tandas Ganjar, mengajarkan esensi hidup, semua sama sebagai manusia. Sama-sama sakit kalau dikampleng atau  dicubit. Ketika kita dilahirkan tak ada pilihan. Kalau bisa milih yang enak pasti pilih yang enak. Gus Dur salah satu contoh pemimpin yang mengayomi dan menjadi lem sebagai perekat.  “Dongengan ini  saya untuk memantik  untuk semangat keberagaman. Dan tak perlu dikatakan tetapi ditunjukkan. Kita harus selalu mengasah kepekaan. Kalau kita tidak peka nantinya jadi pekok. Untuk itu, nilai-nilai kemanusian yang diwariskan Gus Dur harus terus dirawat dan ditumbuhkembangkan, ” ujar Ganjar mengingatkan.

Usai menyampaikan sambutan, Gubernur Jateng yang dikenal low profil ini, sebagai apresiasinya pada kegiatan ini menyapa sebagian dari puluhan audiens  Webinar.

Pesan Kerudung Bergo

Merawat Nilai-Nilai Warisan Gus Dur

Pada kesempatan itu, Anita Wahid dari Gusdurian yang juga putri ketiga Gus Dur, sangat mengapresiasi kegiatan Webinar dengan tema : “Sinci Gus Dur dalam Perspektif Spiritual Agama dan Penghayat” yang dinisiasi oleh Perkumpulan Boen Hian Tong Rasa Dharma) Semarang ini. Perkumpulan Boen Hian Tong  juga telah memasang Sin Ci sekaligus menobatkan Gus Dur sebagai Bapak Tionghoa. “Semua ini sebagai  upaya untuk merawat  pemikiran dan nilai-nilai kemanusian, toleransi dan keberagaman yang diwariskan Gus Dur,” ujarnya.

Lebih lanjut, Anita Wahid, mengatakan, memperjuangkan toleransi bisa melalui berbagai cara dan jalur. Yang perlu dipahami memperjuangkan toleransi haruslah menggunakan nilai-nilai yang diajarkan Gus Dur. Kami sendiri putri-putrinya, lanjut Anita, punya cara dan jalur masing-masing untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusian. Contohnya, Alissa Wahid menanamkan nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur antara lain; dengan cara penguatan keluarga, Inayah Wahid paling berani menyuarakan yang tertindas, dan Yeni Wahid melalui jalur politik. Sedangkan saya sendiri melakukan  penguatan sipil (civil society) melalui Gusdurian melakukan gerakan kemanusian. “Saya juga aktif sebagai anggota Perempuan Anti Korupsi Indonesia dan juga menjabat Jadi Presedium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Pasalnya, sebagian besar kekacauan dan keributan di Indonesia disebabkan oleh fitnah dan hoaks,” tandas Anita.

Baca juga:  Mengintip Tradisi Yalda di Pelosok Iran

Ketua Perkumpulan Boen Hian Tong Harjanto Halim, dalam mengatakan, kegiatan King Hoo Ping lintas agama dan Webinar ini sebagai salah satu upaya merawat nilai-nilai warisan Gus Dur seperti sikap moderat, toleran dan moralisme harus terus bisa nantinya menjadi bagian  dari kehidupan berbangsa dan bernegara. . “Semoga acara King Hoo Ping lintas agama ini bermanfaat bagi kita semua, bagi bangsa dan negara. Harapannya bisa terus berkelanjutan dikemudian hari,” pungkas Harjanto.

Sementara itu, para pemuka  lintas agama Xs. Budi S Tanuwibowo (Ketua Dewan Rohanian Matakin), Bkh Cattamano Mahathera (Ketua Vihara Tanah Putih Semarang), Romo Ed Didik SJ (Pastor Kepala Paroki Bongsari Semarang), Drs,KH. Mustam Aji ,MM Ketua FKUB Kota Semarang), Noen Soeyono (Presedium Pusat  MLKI) I Ngengah Wiria D, SH, MH (Ketua PHDI Kota Semarang), Pendeta Sediyoko, M.Si (Ketua Umum PGKS) dan Naen Suryono dari Penghayat Kepercayaan mempunyai pandangan yang sama, bahwa nilai-nilai kemanusian, toleransi dan keberagaman sama dengan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing yang dianutnya, yaitu tentang cinta kasih baik terhadap sesama dan Sang pencipta.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top