Sedang Membaca
Menjaga Amanat Kekhalifahan
Penulis Kolom

Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), pengasuh pondok pesantren Riyadlul Fikar, Serang, Banten. Menulis cerpen dan esai di harian Kompas, Republika, Tempo, www.kompas.id, Jurnal Toddoppuli, simalaba.net, kawaca.com, litera.co.id, harianhaluan.com, dan lain-lain.

Menjaga Amanat Kekhalifahan

Fenomena Covid-19 saat ini terkait erat dengan gaya hidup dan perubahan perilaku manusia, yang seakan abai dan tak peduli adanya keterhubungan antara jagat mikro dengan jagat makro. Konsumsi kendaraan yang menimbulkan polusi, pembangunan pabrik-pabrik berskala besar, penebangan liar dan pembakaran hutan, limbah rumah-tangga dan pencemaran laut, semuanya itu menimbulkan gas rumah kaca yang membuat panas matahari terperangkap di kolong-kolong langit.

Pramoedya sudah menulis persoalan penting dan krusial ini melalui karya Tetralogi Buru (terutama Rumah Kaca), tetapi kemudian ia diserang oleh segerombolan orang yang notabene adalah seniman-seniman latah yang sukanya genit-genitan baca puisi di panggung gembira. Kita selaku generasi baru, tidak paham apa yang mereka bacakan dan apa manfaatnya karya-karya seniman macam itu, untuk kemajuan peradaban bangsa ini.

Setelah tampak jelas kerusakan di darat maupun di laut, masih saja kita temukan ratusan bahkan ribuan artikel dan karya seni mengenai Corona dan Covid-19, yang hanya berkutat di wilayah akibat melulu, tanpa mempedulikan bahwa kita semualah yang menjadi penyebab utama segala kerusakan itu (Ar-Rum: 41). Dalam buku “What’s the Future and Why It’s Up to Us” karya Tim O’Reilly (2017), secara eksplisit dijelaskan mengenai utang-utang manusia modern kepada alam semesta, yang menimbulkan ketakseimbangan kosmik. O’Reilly menawarkan solusi bagi kita agar membayar utang-utang itu dengan cara menyetop dan menghentikan diri berutang kembali kepada alam semesta. Selain itu, kita juga harus membayarnya dengan melakukan kebaikan-kebaikan, sebelum alam semesta mengambil dan merenggut apa-apa yang sudah kita miliki.

Tidak ada utang manusia pada alam semesta yang tak terbayar, seperti juga tidak ada dosa-dosa yang tak terampuni jika manusia bertobat dengan sesungguhnya (taubatan nashuha). Lakukan kebaikan pada sesama dan pada alam semesta. Perbuatan baik terhadap sesama tidak selalu harus berbentuk materi. Banyak sekali bentuk kebaikan yang perlu kita lakukan, misalnya membantu orang yang dalam kesulitan, memancarkan kebaikan dan cinta-kasih kepada setiap orang, tak peduli apakah kebaikan kita akan dibalas ataukah tidak. Justru dengan memberi kebaikan kepada orang yang tak mampu membalas kebaikannya kepada kita, akan memancarkan energi positif, yang suatu saat akan dikembalikan oleh energi makrokosmos dalam bentuk kebaikan yang berlipatganda.

Baca juga:  Posisi NU dan Muhammadiyah di Era Priayisasi Islam

Juga bagi kalangan penulis dan sastrawan, teruslah berkarya demi kemajuan peradaban bangsa. Tak perlu risau dan takut, apakah karya Anda dibaca orang atau tidak, tetapi tetaplah konsisten berkarya seoptimal mungkin. Juga tak perlu menyibukkan diri dengan berkerumun (berdebat) membicarakan hal sepele dan remeh-temeh belaka. Hal itu akan menguras banyak, bahkan merontokkan ide-ide kreatif Anda.

Jika kebaikan yang kita berikan dengan maksud pamrih dan riya, justru nilai kebaikan itu kurang memancar ke alam semesta. Inilah ujian berat bagi kalangan seniman yang senang pamer dan genit tampil di panggung-panggung gembira, meskipun sebgian besar menolak untuk dipersamakan dengan kaum selebritas yang gemar mengumbar ghibah dan gosip. Karena itu, pancarkan energi positif dengan melakukan banyak kebaikan, dan sebarkan cinta-kasih terhadap sesama. Sebab, jika yang kita sebarkan adalah kebohongan, stigma politis, ketakutan dan kepanikan, maka kita telah ikut andil dalam perusakan mikro dan makrososmos yang mengganggu tatanan keseimbangan.

Pada prinsipnya, sesederhana itulah energi keseimbangan alam bekerja. Jika kita ingin ditolong oleh Tuhan, sudahkah kita rela menolong makhluk-makhluk-Nya? Jika kita ingin dihormati orang, sudahkah kita mampu menghormati orang lain dengan tulus? Jika kita ingin dipentingkan orang, sudahkah kita sanggup menahan ego dan kepentingan diri, untuk hidup bermaslahat dan melayani orang lain? Jika kita ingin sukses dan meraih sesuatu yang kita dambakan, sudahkah kita membuka pintu-pintu maaf, serta membantu orang lain agar meraih apa yang mereka inginkan?

Baca juga:  Benarkah Taliban Lebih Moderat?

Irhamu man fil ardhi yarhamukum man fissama’i (Cintailah mereka yang ada di bumi, niscaya para penghuni langit akan senantiasa mencintaimu), demikian sabda Rasulullah.

Selama ini, kita telah merusak rumah hijau yang telah kita huni sedemikian lama. Kita terlampau jauh menerobos batas dan melanggar norma kehidupan. Segala aturan hidup yang semula terabaikan, bahkan dengan sengaja dinafikan. Kita terlampau sibuk bersaing dalam urusan-urusan duniawi, picik, kerdil, dan remeh-temeh belaka. Karya-karya sastra kita – terlebih yang bersebarangan dengan Pramoedya – hanyalah karya-karya genit dari buah pena orang-orang narsis yang sibuk mengharap-harap pujian orang. Bukankah mereka tak ubahnya dengan anak-anak ingusan yang tak memberi edukasi pada generasi muda, dan sebab dari kebodohan itu, kita semua yang harus menaggung akibatnya.

Sekarang ini, kita yang sudah kadung bercerai-berai, terpaksa disatukan oleh keadaan yang tak bisa ditampik. Keadaan ini memaksa kita merenung, introspeksi, serta berkaca diri dengan sebaik-baiknya. Kebersihan jiwa, pikiran dan perasaan kita akan jadi penentu seberapa cepat kita memulihkan kondisi yang carut-marut ini. Oleh keadaan itu, kita dipaksa agar sadar-diri bahwa keahlian dan keprofesionalan – terutama yang jadi pakar di masa Orde Baru – terpaksa harus menyarungkan ego dan kepongahannya. Ketahuilah, akan muncul karya-karya baru yang brillian, dari anak-anak bangsa yang betul-betul serius menekuni jalan kebenaran, bahkan tak membutuhkan upah dan bayaran apapun.

Sebagian orang bertumpu pada persoalan ekonomi yang harus segera dipulihkan, namun pada hakikatnya kesadaranlah yang mesti dibangkitkan agar mencapai tahap emansipasinya. Kenyataan hidup yang kita alami, pada akhirnya membutuhkan penerimaan, disyukuri, dijalani dengan penuh keikhlasan. Tanpa itu semua, hidup yang kita jalani akan menjadi beban yang berat untuk dipikul. Padahal, Tuhan tidak menyodorkan suatu beban derita, kecuali sesuai dengan kesanggupan manusia untuk memikulnya (Al-Baqarah: 286).

Baca juga:  Sekulerisme dan Ketidakmampuannya Melindungi Perempuan dalam Industri Hiburan

Fenomena Corona dan Covid-19 adalah musibah yang merata di mana-mana, sebagai peringatan global yang mengandung moral massage bagi seluruh manusia yang hidup di kolong langit ini. Selama ini, betapa banyak orang yang kadar keimanannya hanya bersarang di wilayah retorika dan intelektual, tetapi tidak merasuk ke dalam kalbu dan hati nurani. Orang-orang saleh bertebaran di mana-mana, tetapi tidak didukung oleh kualitas ilmu yang mumpuni. Beragama tanpa akal sama saja dengan gerakan-gerakan syariat tanpa disertai hakikat. Dengan demikian, ahli-ahli ibadah seakan mengultuskan dirinya selaku kiai atau ulama, mengumbar retorika agama di layar-layar kaca, tak kalah genitnya dengan seniman-seniman yang sentimen dan irihati tadi.

Padahal, sayariat-sayariat secara tekstual, adalah nol besar bila tak diimbangi dengan ilmu dan pelayanan kepada masyarakat (amal) yang memadai.

Keberagamaan secara tekstual paling-paling hanya sibuk menghakimi kejadian, tetapi lupa pada Yang Mencipta Kejadian. Kadangkala mereka mengklaim dirinya suci, seakan mengambil peran-Nya yang Maha Suci dan Maha Meliputi segala sesuatu.

Bagaimanapun, kita harus bisa menerima ujian Covid-19 ini untuk mengubah peradaban kita. Tetapi, Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum sebelum mereka sendiri berkemauan untuk mengubah dirinya (Ar-Ra’d: 11). Kualitas iman kita pada hakikatnya ditakar dari fenomena ini. Semua itu harus diterima sebagai bagian dari rencana Tuhan yang tak bisa kita hakimi.

Mari kita terus berusaha dan berdoa semaksimal mungkin. Akan lebih optimal iman kita, jika kita membaktikan diri atau mengabdi dan terjun untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Di situlah kualitas dan hakikat ibadah akan teruji dengan baik. (*)

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top