Sedang Membaca
Lola Amaria: Berat Sekali Menghadapi 21
Penulis Kolom

Jurnalis, penyair

Lola Amaria: Berat Sekali Menghadapi 21

“Saatnya nanti akan datang. Optimis dan positif saja, Suharto aja tumbang,” ujar Lola Amaria penuh keyakinan mengetahui jaringan bioskop 21/XXI memperlakukan film yang diproduseri sekaligus disutradarainya, berjudul 6,9 Detik diperlakukan tidak adil.

Lola Amaria juga sekaligus mempertanyakan fungsi BPI dan Bekraf,  yang harusnya melindungi film nasional, tapi melakukan pembiaran. Sehingga ekosistem industri perfilman berjalan tanpa arah. Padahal, menurut dia, rumah produksi film (PH) semenjana seperti miliknya,  Lola Amaria Productions, sangat banyak jumlahnya di Indonesia.

Dan biasanya, cenderung senantiasa diberlakukan tidak adil oleh jaringan bioskop raksasa seperti 21/XXI, jika dibandingkan dengan PH besar. Terutama ihwal pembagian nominal layar bioskop, yang diputar di jaringan bioskop tersebut.

Meski Lola sangat menyadari. Sumber persoalan tentang pembagian layar film di Indonesia yang tidak adil, terjadi karena Peraturan Pelaksana (PP) UU Perfilman No. 33 tahun 2009, belum ada,  sejak diundangkan di era presiden SBY, sampai sekarang. Sehingga PP tentang tata edar perfilman Indonesia menjadi seperti sekarang.

Tidak jelas. Absurd. Sehingga yang terjadi,  gesekan yang tak terhindarkan antara pemilik jaringan bioskop,  dengan produser film,  saat film ditawarkan dan mohon diputarkan di jaringan bioskop 21/XXI — yang dipercaya menguasai layar bioskop di Indonesia hingga 85 persen lebih– , terjadi.

Gesekan Lola Amaria dengan pihak 21/XXI terjadi, per hari Kamis (26/9/2019) lalu, saat film produksi Lola Amaria Productions berjudul 6,9 Detik mulai beredar dan diedarkan di jaringan bioskop 21/XXI.

Untuk semua wilayah edar di seluruh Indonesia, film yang juga disutradarai oleh Lola Amaria itu,  mendapatkan 83 layar. Meski sayangnya, untuk wilayah edar di Jakarta, film 6,9 Detik “hanya” mendapatkan 11 (sebelas) layar.

Dari kesebelas layar yang disediakan itu, menjadi makin membuat masygul Lola Amaria,  karena tiga (3) layar yang dia minta selaku produser,  yaitu di Kemang Village, Megaria dan Gading tidak diluluskan pihak 21/XXI.

“Padahal tiga tempat itu, akan banyak kegiatan nonton bareng dari berbagai komunitas. Juga komunitas Panjat Tebing Indonesia. Terpaksa saya harus memindahkan nobar (nonton bareng), meski sudah kami skedul jauh-jauh hari, ” kata Lola Amaria di Jakarta,  Kamis (26/9/2019).

Ihwal 11 layar di wilayah Jakarta yang hanya diberikan oleh Jaringan 21/XXI kepada film 6,9 Detik, menimbulkan pertanyaan besar bagi Lola Amaria. Dia membandingkan dengan film Danur 3 yang mendapatkan 40 layar. Bahkan film Hayya yang beredar dari Minggu lalu, atau 19 September,  sampai Kamis (26/9) ini masih mendapatkan 15 layar. Juga film Pretty Boys yang masih mendapatkan 35 layar.

“Bagaimana mungkin kami bisa mengembalikan modal kami,  kalau persoalannya selalu seperti ini. Berulang terus, tidak ada azas keadilannya, ” kata Lola yang menganalogikan cara pemberian layar pihak Jaringan 21/XXI mencederai prinsip berniaga yang adil.

Karena nasib rumah produksi film semenjana seperti Lola Amaria Productions, juga akan diperlakukan serupa oleh pihak 21/XXI. Berbanding terbalik dengan perlakukan pihak 21/XXI terhadap rumah produksi besar dan mapan. Serta mempunyai posisi tawar yang baik dan kuat. “Aku udah nggak sanggup nih mau negosiasi sama mereka (21/XXI). Karena pasti kalah,” tekan Lola.

Ihwal kegundahan Lola Amaria sebagai pelaku film yang mendaku sepanjang memproduksi film, belum pernah mendapatkan layar di atas bilangan 100 layar itu,  mendapatkan tanggapan dari Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Chand Parwez Servia.

Baca juga:  Semangat Toleransi dalam Sinema Lintas Ruang (4): Zootopia, Simbol Jinaknya Mayoritarianisme di Negeri Pluralistik

Menurut Chand Parwez Servia pembagian layar yang diberikan pihak 21/XXI berdasarkan banyak pertimbangan dan hal, “Seharusnya yang berhak jawab (persoalan ini)  bukan saya,” kata pemilik rumah produksi film Star Vision itu. Tapi, imbuh dia,  dari pengalaman yang ada, sebuah film bisa dilihat potensi pasarnya dari berbagai referensi, juga dari promosinya.

“Pemberian jumlah layar selalu dikoreksi sesuai minat penonton terhadap film tersebut. Karena yang dievaluasi itu OR atau occupancy rate, yaitu persentase kursi terisi secara rata-rata film yang beredar,” katanya.

Justru dengan layar tidak kebanyakan, menurut Chand Parwez Servia, penonton justru fokus di layar-layar yang ada. Sehingga perolehan penonton per layar persentasenya bagus atau OR-nya tinggi. “Kalau OR lebih tinggi dari yang lain, maka langsung diberikan tambahan layar. Juga sebaliknya. Mana lebih baik ditambah atau dikurangi? Tentunya untuk citra peredaran, ditambah jauh lebih baik,” katanya.

Sepengalaman Parvez yang makan asam garam sistem industri pembagian layar film, umumnya para produser sudah mengalami dan maklum dengan hal ini, “Di mana ketika sukses mendapatkan layar yang sangat banyak. Ini berlaku umum di dunia,” ujar Parwez.

Ketika ditanya lebih jauh, sebenarnya Lola Amaria secara kiasan ingin meminta tolong kepada BPI, agar paling tidak menjembatani kepentingan produser film dengan pihak 21/XXI, Chand Parwez Servia menjawab, “Kalau filmnya berhasil tapi tidak diberi kesempatan, pantas minta tolong. Mari kita bersabar menunggu hasilnya saja. Ingat bioskop juga unit usaha, kalau OR di bawah 30% mereka rugi,” pungkasnya.

Mengetahui jawaban Ketua BPI, Lola Amaria mengaku sangat kecewa. Karena alihalih mendapatkan pertolongan, dia merasa mengalami pembiaran, dan akhirnya harus kembali berjuang sendiri. “Memang percuma sih ribut sama pihak mereka. Selalu punya jawaban pamungkas, “Film kamu itu gak laku, gak ada promosi dan lain-lain”. Intinya, gimana mau balik modal kalau dikasih layar aja sedikit dan harus berantem dulu,” kata Lola Amaria yang akan terus melawan dengan sebaik-baiknya, dan sehormat-hormatnya.

Occupancy Rate (OR) Adalah Kunci?

Menanggapi “sentilan” , “kemarahan” dan “perlawanan” Lola Amaria selaku sutradara sekaligus produser film 6,9 Detik, tentang filmnya yang hanya diputar di 11 (sebelas) layar di wilayah Jakarta di hari pertama penayangannya pada Kamis (26/9) malam.

Sedangkan perolehan layar film Hayya, yang telah tayang sejak Seminggu lalu, atau tanggal 19 September, masih mendapat 15 layar di Jakarta. Juga film Pretty Boys yang masih tayang di 35 layar di Jakarta, serta film Danur 3 di hari pertama penayangannya malah mendapatkan 40 layar di Jakarta, Catherine Keng, Corporate Communications Cinema XXI memberikan penjelasan. Setelah sebelumnya sempat mengabaikan pertanyaan penulis dari pagi.

Menurut Keng, setiap bioskop atau ekshibitor memiliki mekanisme masing-masing dalam hal penentuan jumlah layar. Proses ini, seperti ia ceritakann, telah berjalan puluhan tahun, dan selalu di perbaiki dari masa ke masa. “Kami sungguh menyayangkan sikap bu Lola yang sudah sering menayangkan filmnya di bioskop (jaringan kami), (tapi)  masih mempertanyakan hal yang sama,” kata Keng di Jakarta.

Dia menambahkan,  masyarakat akan dengan mudah mengetahui performance sebuah film di hari pertama, dengan hanya melalui sistem online ticketing, seperti Mtix XXI. “Bisa dilihat dengan sangat jelas, bagaimana performance sebuah film di hari pertamanya,” katanya.

Baca juga:  Synchronize Festival 2019: Menggelegak bersama Iwan Fals, Hanyut bersama Chrisye

Sebagai informasi, imbuh dia,  kebijakan penambahan ataupun pengurangan layar dilakukan berdasarkan kinerja film. Dan dibuktikan dengan tingkat occupancy rate (OR)-nya setiap hari tayang, berdasarkan animo dari penonton.

Occupancy rate adalah jumlah penonton dibagi dengan jumlah kursi yang tersedia. “Kami tidak perlu membuka angka OR film 6,9 Detik di sini. Karena justru dapat berdampak lebih buruk lagi bagi film tersebut,” kata Keng.

Pada prinsipnya, sepengakuan Keng, jaringan bioskop XXI selalu berusaha mendukung perfilman nasional. Namun dukungan itu,  menurut dia, sering disalah-artikan oleh beberapa sineas dengan meminta ‘mengistimewakan’ film mereka.

“Tentu kami tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. Karena pada akhirnya ‘pengistimewaan’ satu film akan mendiskriminasi film sineas lain, dan sekaligus merampas kesempatan film lain utk memaksimalkan hasil penontonnya,” jelasnya.

Keng sangat yakin masyarakat perfilman nasional dan penonton Indonesia sudah sangat mengerti bagaimana mekanisme ini berjalan. Dan menurut dia berhasil meningkatkan market share film Indonesia secara umum. “Karena mekanisme ini juga berlaku di seluruh dunia,” ujarnya.

Keng menegaskan,  sebuah film akan berhasil atau tidak, laku atau tidak, sepenuhnya ada di tangan penonton. Mengetahui tanggapan Chaterine Keng, Lola Amaria dengan santai menjawab, “Gak menjawab pertanyaanku,” katanya. Karena sejatinya yang dia minta dari pihak XXI sangat sederhana.

Yaitu mengapa layar di bioskop Metropole, Kemang Village, dan Gading tidak diberikan sesuai dengan permintaannnya, meski jauh-jauh hari dia memintanya. Karena di tiga layar bioskop tersebut,  menurut Lola,  ceruk penonton film 6,9 Detik sangat bagus sekali. Tersebab banyak agenda nobar (nonton bareng) akan digelar di sana.

“Gak dikasih (oleh XXI). Padahal udah minta baik-baik. Karena ada banyak yang mau nobar (di tiga layar bioskop itu). Intinya, aku gak minta layar banyak. Cuma minta ditambah di 3 lokasi itu. Ampun dah,” kata Lola Amaria yang sangat menyadari, langkah beraninya mempertanyakan ihwal pembagian layar tidak akan mengubah keadaan. Dan akan menimbulkan implikasi yang beragam bagi dirinya, juga rumah produksinya.

Tapi dia sudah tidak terlalu ambil pusing. Lola hanya ingin menyuarakan sesuatu yang menurutnya benar,  dan selama ini selalu dikalahkan pihak yang dominan atau besar,  seperti jaringan bioskop 21/XXI. Toh sepemahamannya,  nasib baik hanya berpihak pada orang-orang pemberani. Dan Lola Amaria sudah berusaha menjadi berani.

Mendapat Tambahan Tiga Layar

Jum’at (27/9/2019) pagi,  Lola mengabari, pihak 21/XXI akhirnya meluluskan permintaannya,  menambah tiga layar yang dia tuntut. Yaitu, tiga layar di Jakarta, seperti di Kemang Village, Metropole, dan Kelapa Gading. “Hahaha harus ribut dulu baru dikasih. Makan itu OR.  Masih mau diklecein (dimuslihat)  dengan bahasa OR, ” katanya.

Meski saat bersamaan Lola tetap menarik nafas panjang. Karena sejumlah layarnya otomatis dikurangi karena rumus OR di hari Jum’at itu juga. Di hari pertama pemutaran filmnya,  pada Kamis (26/7) hanya 4500-an penonton berhasil diraih film 6,9 Detik. Angka yang sangat mengecewakan. Hal sama dikonfirmasi oleh Chaterine Keng,  yang mengirim foto gambar raihan kursi film 6,9 Detik,  pada pemutaran pukul 21.00 di hari Kamis (26/9) malam,  di beberapa titik,  hanya satu dua terisi. Sisanya kosong. Melompong.

Baca juga:  Dari Keluarga Yahudi, Masuk Islam, dan Mengislamkan Jutaan Orang

Bukan soal kosong atau terisinya kursi bioskop yang sebenarnya menjadi pertanyaan mendasar Lola Amaria. Tapi sistem niaga yang adil, yang harusnya diterapkan bahkan sejak dari pemikiran. Karena Lola sangat menyadari,  setiap film mempunyai nasibnya sendiri. Tapi,  Kalau nasib dibiarkan begitu saja, hasilnya akan lebih mengerikan. Nasib,  bagi Lola,  harus diperjuangkan,  diikhtiarkan sekaligus tetap dirayakan.

Meski Lola juga tetap berusaha menerima dan berlapang dada,  toh akhirnya film 6,9 Detik, per hari Minggu (29/9), hanya mendapatkan 9.246 penonton. Dan pada Senin (30/9), layar tersisa di Jakarta hanya lima (5), itupun hanya satu,  dua,  dan maksimal tiga kali jam tayang. Sehingga dia memprediksi raihan penonton filmnya di angka 10 ribuan. Atau jika dirupiahkan, angka pemasukannya 250 juta. Dari hasil pengalian Rp. 25.000,- ( dari harga ratarata HTM Rp. 50.000,- dibagi dua dengan eksebitor,-) dikalikan jumlah total penonton.

“250 juta hanya nutup biaya presscon dan premiere. Belum biaya produksi dan postproduksi,” katanya Senin (30/9) sembari mendaku ongkos produksi 6,9 Detik sebesar 4,5 Milyar.

“Bikinnya pake mikir, pake tenaga, pake waktu, dan pake duit sih yang pasti. Bikinnya senang. Prosesnya menarik. Tapi ketika berhadapan dengan sistem (yang tidak fair) bubar kabeh,” kata Lola sambil mengaku menyerah dengan kondisi perfilman, khususnya sistem tata edar di Indonesia.

“Aku kayak udah nyerah sama film. Gak tau mau ngapain abis ini. Bingung juga kalau ditanya. Padahal review-nya bagus-bagus, yang udah nonton seneng karena katanya dapat insight dari filmnya. Bikinnya serius banget. Tapi ya nasibnya berkata lain,” kata Lola seperti menguatkan dirinya sendiri.

Sebagai petarung yang teruji, Lola tentu sudah membangun struktur keuangan, agar ada pintu pemasukan lainnya dari film 6,9 Detik. Terutama setelah open window film ini terbuka. Seperti menjualnya ke stasiun TV,  meski harga tertingginya “hanya” bisa mencapai angka 500 jutaan. “Karena alasannya gak ada bintang Setahun, bisa dua (2) kali tayang,” kata Lola merujuk pada pengalamannya menjual film Jingga dibeli Trans 7 cuma dengan harga 350 juta tahun 2015, lalu.

Plus melakukan kerjasama dengan Pusbang Film Kemendikbud RI untuk melakukan penayangan ke sekolah-sekolah. Setelah Pusbangfilm membeli hak tayang film. Atau kerjasama dengan Djarum Foundation, juga melakukan road show ke sekolahsekolah untuk keperluan yang sama: edukasi. “Dikit (bayarannya) , paling 20 jutaan dan bayarnya lama…. bisa sampe setahun,” kata Lola yang juga akan berencana menjual 6,9 Detik ke Iflix, Neflix atau HOOQ, serta platform OTT Digital.

Di luar melakukan roadshow ke luar negeri. “Tapi ya gak besar juga (pemasukannya). Paling dapat screening fee aja, besarannya 5-10 jutaan. Seperti film Lima yang dikelilingkan tahu lalu. Juga menjual ke sejumlah Penerbangan,  seperti Garuda,  yang juga tidak terlalu besar besarannya. Selain menjual film di sejumlah pasar film di berbagai belahan dunia.

Di atas semua drama yang terjadi selama waktu penayangan film 6,9 Detik,  ada satu pelajaran penting yang Lola Amaria dapatkan. Lola tidak akan pernah gentar untuk terus berkelahi. Sampai nanti. Betapapun berat dan pedihnya perkelahian itu. (SI)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top