Sedang Membaca
Minumlah Sirup!
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Minumlah Sirup!

Marjan, Kartini, 3 16 Juni 1985

Hari-hari di rumah, orang-orang memilih menonton televisi saat wabah belum tamat. Di depan kotak pujaan, datanglah iklan sirup. Ramadan belum datang, iklan Marjan sudah datang. Iklan berupa “cerita bersambung”. Di hitungan sekian detik, penonton gampang mengartikan sirup (Marjan) itu menandai Ramadan. Kita mungkin diajak menata segala hal dan berbelanja Marjan untuk bergembira bakal masuk di bulan suci. Marjan di rumah mungkin membuat keluarga tenang dan berimajinasi segar sepanjang hari. Iklan itu seperti memberi jeda bagi orang-orang murung gara-gara wabah. Minumlah, segarlah! Minum di rumah saja. Pemerintah masih menganjurkan orang-orang jangan berkumpul dulu. Kita minum sirup di rumah, tak perlu mengundang kekasih, teman, atau tetangga. Peristiwa minum untuk segar, bukan memicu petaka.

Sirup di abad XXI, berbeda dengan “sirop” di masa lalu. Kita tak mendapat pengumuman resmi kedatangan sirup ke Nusantara. Pembawa mungkin orang Portugis, Belanda, Inggris, India, atau Tiongkok? Di alam tropis, minum sirup tampak berbeda selera dengan minum teh, kopi, arak, dan lain-lain. Pada suatu masa, minuman-minuman dari negeri-negeri asing dikenalkan ke bumiputra. Pilihan minuman bertambah tapi peraturan-peraturan membuat minum “ini” dan “itu” bukan perkara gampang. Di hajatan pernikahan, pesta para pejabat, kongres, rapat umum, pasar malam, restoran, angkringan, para peminum memiliki pilihan dan kaidah. Di jajaran elite, minum itu urusan hak, kehormatan, selera, jabatan, identitas, dan lain-lain. Di sejarah kolonialisme dan lakon revolusi, sirup bersama orang-orang di Indonesia, diminum dan dimaknai.

Buku Kiai Said
Baca juga:  Orang Asia di Tengah Demonstrasi George Floyd

Pada suatu masa minum berkaitan ibadah atau waktu suci. Di majalah Kartini, 3-16 Juni 1985, iklan mewah sehalaman. Iklan dari Marjan untuk para pembaca majalah wanita terduga di kalangan menengah-atas. Lihatlah dua botol sirup Marjan: berdiri dan tergeletak. Gelas berisi es sirup diisi degan (suwiran kelapa muda). Segar. Segar. Segar. Di iklan, minuman itu disebut “Es Ramadhani”. Ada pensifatan “religius” ke minuman. Anjuran ke pembaca: minumlah: untuk berbuka puasa dan Lebaran. Orang-orang berduit membeli Marjan, menaruh di kulkas dan membuat es segar setiap hari. Marjan itu memberi tambahan kesan kesanggupan berpuasa seharian, ditebus minum “Es Ramadhani.” Iklan itu memberi resep bagi ibu-ibu bila ingin suguhkan Marjan di meja makan. Pada masa lalu, Marjan itu minuman bagi keluarga-keluarga mapan dan memiliki selera menikmati hari-hari berpuasa.

Di toko, botol-botol sirup menggoda pembeli. Orang belum memiliki kemampuan membeli sirup dalam kemasan botol, memilih membeli bahan-bahan murah: membuat sirup tanpa merek. Sirup buatan itu diwadahi di botol-botol bekas. Siasat orang miskin turut mengartikan bulan suci dengan sirup, tak malu kalah dengan orang-orang mapan dan berduit. Sejak puluhan tahun lalu, Marjan telah mendatang keluarga-keluarga Indonesia. Kini, Marjan telanjur mengingatkan kita dan Ramadan. Pembuatan ingatan memerlukan waktu lama dan iklan-iklan, selain cerita atau bualan para peminum. Ramadan tak cuma Marjan. Dulu, Marjan teringat sirup berwarna merah. Di majalah Pertiwi, 4-17 Mei 1987, ada iklan ABC, mengenalkan sirup berwarna kuning. Merah juga ada. Kuning lebih teringat. Iklan berseru agar kita minum sirup ABC saat berbuka puasa. Keterangan penting: “Ibu-ibu bijaksana yang selalu memperhatikan keluarganya hanya akan membeli yang terbaik.” Sirup dan Ramadan mengacu ke selera, duit, dan bijaksana. Begitu.

Baca juga:  95 Tahun Nahdlatul Ulama: Bagaimana Menggerakkan Diaspora Santri?
Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top