Sedang Membaca
Lapar: Iman dan Kekuasaan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Lapar: Iman dan Kekuasaan

Bandung Mawardi

Ratusan tahun silam, ulama kondang bernama Al Ghazali menggarap kitab berjudul Ihya Ulumuddin. Al Ghazali menginginkan ada pembelajaran agama secara kritis dan komprehensif. Dari masa ke masa, umat terus membaca dan mempelajari Ihya Ulumuddin, referensi pengetahuan dan amalan agama. Al Ghazali mengajukan bab mengenai lapar. Latar teologis tentu menjadikan lapar memiliki peran besar dalam pembentukan manusia beriman dan bertakwa. Lapar adalah bekal kemuliaan dan kehendak mendekatkan diri kepada Tuhan. Lapar berarti kesanggupan menaklukkan nafsu. Al Ghazali menggarap tema lapar dengan pengertian-pengertian bersumber dari Al Quran, hadis, dan kisah orang suci.
Al Ghazali mengutip sabda Nabi Muhammad: “Orang sengaja lapar berarti memperkuat kemampuan pikir dan mencerdaskan hati.” Lapar mengantarkan orang beribadah dengan kemampuan pikir untuk sampai makrifat dan kecerdasan hati untuk menjangkau hakikat ketuhanan. Lapar adalah tema besar. Sejarah peradaban Islam dan biografi orang-orang saleh mengandung pemaknaan lapar, berfaedah dalam urusan iman sampai kemanusiaan. Lapar memiliki pengaruh menginsafkan orang dengan derita, kebersahajaan, dan keadilan sosial.
Tahun demi tahun berlalu. Lapar telah bertambah makna. Di Indonesia, ajaran-ajaran lapar sudah ada tapi mendapat tambahan sejak berlangsung imperialisme-kolonialisme dan kapitalisme. Lapar tak cuma berkaitan iman dan ibadah. Masa 1930-an, Soekarno menganggap lapar adalah “dampak” dari keserakahan dan perebutan rezeki. Soekarno dalam Indonesia Menggugat (1930) berkata: “Bagi PNI, pendjadjahan itoe asal-asalnja jang dalam, asal-asalnja jang diepliggend dan fundamenteel, ialah nafsoe mentjahari benda, nafsoe mentjahari redjeki belaka adanja.” Pencarian dan pengerukan rezeki dari negeri jajahan mengakibatkan kemelaratan dan kelaparan. Negeri penjajah merasa mendapat rezeki melimpah, menikmati dengan impian kemakmuran dan kesejahteraan. Rezeki adalah urusan kaum serakah tapi mencipta kaum lapar. Di Indonesia, penjajahan telah memunculkan lapar sebagai derita dan petaka berkepanjangan.
Gerakan politik kebangsaan dan agenda pembentukan Indonesia dimaksudkan menghapus kelaparan. Slogan-slogan diserukan lantang. Tindakan-tindakan politik dilakukan demi kemakmuran dan pemerataan rezeki. Lapar pun berarti alasan melakukan perang, revolusi, diplomasi. Jutaan kaum lapar menggugat! Mereka ingin perubahan nasib, memperoleh rezeki, memartabatkan diri dengan merampungi lapar. Di negeri jajahan, lapar adalah derita dan sumber perlawanan atas kolonialisme dan kapitalisme.
Pada masa 1950-an, Indonesia berikhtiar menjadi negeri berlimpah rezeki. Situasi politik-ekonomi malah semakin menjadi Indonesia menanggung dilema-dilema. Demokrasi belum bergerak dan bergairah. Kondisi ekonomi masih rawan. Indonesia: negeri agraris belum bisa mencukupi kebutuhan pangan. Agenda-agenda industrialisasi pun masih tebar impian tanpa pembuktian. Kaum lapar masih jutaan. Indonesia memang ingin revolusi tapi lapar menjadikan gerakan lamban dan gamang. Lapar membuktikan ada persaingan ideologi, ketidakberesan dalam mengejawantahkan misi-misi kekuasaan.
HR Bandaharo (1958) dalam puisi berjudul Dia jang Lapar mengisahkan: pagi dan petang/ bersatu dalam kerdja// kini dan nanti/ dikedjar lapar/ lapar dan kerdja/ keduanja siksa. Di Indonesia, lapar menjelaskan nasib apes. Janji-janji politik dan angan kemakmuran masih ada di langit, tak pernah turun membahagiakan manusia. Bandaharo melanjutkan: ketika hatinja terbuka/ dia berhadapanmuka/ dengan kenjataan// ketakwaan bawa kematian/ penentangan bahwa kehidupan// jang tjinta hidup kenal lapar/ jang kenal lapar kenal diri/ dalam sunji sembunji/ relung-relung hati/ tidakpuasan membakar. Di Indonesia, lapar berdalih rezeki bisa menjadi alasan pemberontakan. Protes terhadap penguasa pun biasa menggunakan slogan lapar dan tuntutan agar ada kemakmuran dan kesejahteraan. Lapar bisa menimbulkan “ketidakpuasan membakar”, mengakibatkan goncangan dan konflik. Semula, Al Ghazali menganggap lapar sanggup menguatkan iman. Di Indonesia, lapar adalah konsekuensi perang dan revolusi. Lapar bisa membarakan perlawanan.
Lapar sanggup meruntuhkan kekuasaan. Jutaan orang lapar adalah risiko bagi penguasa. Sejak masa 1950-an, Soekarno sering mendapat kritik soal penanganan kelaparan. Program-program politik dan ekonomi dijalankan demi ketersediaan pangan, memberi “sesuap nasi” bagi kalangan jelata. Soekarno tak ingkar bahwa urusan pangan adalah efek dari perang dan penambahan jumlah penduduk. Memori kolonialisme masih membekas saat revolusi ingin diwujudkan. Pada masa 1960-an, Soekarno semakin mendapat serangan kritik. Kebijakan pembangunan monumen, patung, hotel, dan stadion memicu gugatan atas ketidakpekaan penguasa atas kondisi kelaparan di Indonesia.
Soekarno sedang menjalankan misi besar, tak bermaksud meremehkan derita kaum kelaparan. Soekarno pernah berkata: “Manusia tidak hanja hidup untuk makan.” Soekarno memberi tangkisan atas pelbagai tuduhan: “Jah, memberantas kelaparan memang penting, akan tetapi memberi makan djiwa jang telah diindjak-indjak dengan sesuatu jang dapat membangkitkan kebanggaan mereka — inipun penting” (Adams, 1966). Kelaparan harus diberantas. Penguasa wajib memberi nasi bagi jutaan mulut kaum kelaparan. Soekarno tak mau sekedar berurusan dengan jawaban klise. Soekarno menginginkan Indonesia “harus membangkitkan diri kepada dirinja sendiri dan mengikis habis perasaan rendah-diri.”
Hari demi hari berganti. Penguasa pun berganti. Soeharto menggerakkan Orde Baru, menabur janji mengentaskan kemiskinan dengan pembangunan. Soeharto mengajukan mantra besar: swasembada pangan. Pelbagai program dijalankan demi memberantas kelaparan dan mengurangi angka kemiskinan. Politik bagi kaum lapar dibarengi dengan instruksi-instruksi untuk menampilkan kepatuhan dan ketertiban di hadapan penguasa. Soeharto menjawab urusan lapar tapi melakukan politisasi atas hak bermartabat berdalih adab, demokrasi, humanisme. Lapar ditanggapi dengan pencitaan stabilitas politik dan “manipulasi” situasi ekonomi.
Pemaknaan lapar dan kelaparan membuat kita ingat Tuhan, kolonialisme, kapitalisme, kemiskinan, revolusi, pembangunan. Sekarang, kita berikhtiar untuk melawan kelaparan dengan dakwah dan demokrasi. Pemberantasan kelaparan selalu memberi hak bagi kita melaksanakan titah Tuhan. Ikhtiar memberi martabat bagi kaum kepalaran pun menjelaskan idealitas berdemokrasi: gapaian kemakmuran dan kesejahteraan. Begitu. (RM)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top