Sedang Membaca
Gamelan dan Islam
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Gamelan dan Islam

Bandung Mawardi
  • Sumarsam tampak mahir melakukan lacakan data dan menjelaskan kaitan-kaitan gamelan dan Islam di latar sejarah dan agama.

Di Solo, International Gamelan Festival berlangsung 9-16 Agustus 2018. Acara pentas-pentas gamelan digenapi penerbitan dan obrolan buku. Orang-orang mungkin memilih melihat pentas ketimbang membaca buku bertema gamelan.

Kehadiran buku ada di urutan belakangan saat festival meminta keramaian atau kerumunan orang. Buku penting turut mengartikan International Gamelan Festival berjudul Memaknai Wayang dan Gamelan: Temu Silang Jawa, Islam, dan Global (2018) susunan Sumarsam. Buku apik terbitan Gading, Jogjakarta.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Buku itu ingin terbaca dan memberi tambahan bacaan bagi publik, setelah menikmati buku berjudul Hayatan Gamelan: Kedalaman Lagu, Teori, dan Perspektif (2002) dan Gamelan: Interaksi Budaya dan Perkembangan Musikal di Jawa (2003) berasal dari disertasi Sumarsam di Universitas Cornell (Amerika Serikat).

Di buku terakhir, kita ingin menekuni perkara gamelan dan Islam di Jawa mengacu ke tulisan dijuduli “Laporan Awal tentang Wayang Jawa dan Dakwah Islam” dan “Persoalan-persoalan dari Dulu hingga Saat Ini tentang Gamelan dan Wayang Kulit.”

Sumarsam tampak mahir melakukan lacakan data dan menjelaskan kaitan-kaitan gamelan dan Islam di latar sejarah dan agama. Dua tulisan mungkin tak setenar esai-esai Sumarsam dalam menjelaskan estetika gamelan, dari masa ke masa. Pemberian perhatian pada Islam lanjutan dari gejala-gejala pendakwahan Islam di jalan seni, memiliki referensi sejak ratusan tahun silam.

Sumarsam mengawali dengan perdebatan belum usai mengenai musik di Islam. Perdebatan pun ada di Jawa dalam menentukan sejarah, identitas, estetika, dan religiositas. Gamelan ada di ruang perdebatan panjang sejak kedatangan Islam di Nusantara. Tumpukan argumentasi berdebat semakin meninggi tapi gamelan justru terpilih dalam berdakwah. Kemunculan gamelan dalam acara-acara pengajian atau seni berdakwah mengesankan berlangsung hibriditas di Jawa. Gamelan memungkinkan ungkapan seni dan keagamaan di capaian keharmonisan.

Sumarsam cenderung menempatkan dan menjelaskan gamelan tanpa repot menengok ke studi-studi Jawa pernah dikerjakan oleh Clifford Geertz dan Koentjaraningrat. Pilihan seni ditentukan status bercap priyayi, santri, abangan. Gamelan ada di pemaknaan sering mengarah pada kedudukan tinggi para priyayi dalam memberi arti dan penilaian menggunakan dalil-dalil estetika Jawa.

Di kalangan santri, gamelan memang ada dengan mengalami penambahan atau penguatan makna berkaitan ajaran-ajaran Islam. Gamelan pun melulu ritual di Jawa berpatokan pada petuah atau teladan para leluhur telah berlangsung ratusan tahun.

Koentjaraningrat di buku berjudul Kebudayaan Jawa menempatkan gamelan (1984) sebagai jenis hiburan bagi kaum priyayi. Pada gamelan, hiburan dan ajaran ditemukan melalui cara penikmatan. Pembacaan pada segala perlambang mengantarkan pengertian-pengertian telah dibuat dan terwariskan, dari masa ke masa. Pilihan pada gamelan sering bermanunggal dengan pentas wayang kulit. Di Jawa, pembedaan itu terjadi sejak lama.

Kini, orang-orang di Jawa agak melonggarkan pelbagai keterangan para peneliti asing atau Indonesia dalam memberi hubungan gamelan dan publik Jawa berbeda status sosial.

Di mata Sumarsam, gamelan dan Islam menempuhi jalan penjelasan berbeda tapi ringkas. “Seiring tersebarnya Islam ke pelbagai belahan dunia yang berbeda-beda, setelah kelahirannya pada abad VII, musik Islami dan ideologi-ideologi Islam masuk mengalami lokalisasi dan percampuran secara kontekstual, mengakibatkan pandangan terhadapnya menjadi semakin dipenuhi ambiguitas dan kompleksitas,” tulis Sumarsam. Hal itu berlaku di Jawa. Gamelan selalu ambigu di tautan seni dan agama. Ribuan penjelasan belum memadai dalam mengerti kebermaknaan gamelan mendakwahkan Islam, memberi kadar estetika dalam pemberian pesan atau ajaran.

Acuan paling gampang teringat adalah Sekaten di Jawa mengartikan gamelan dan dakwah Islam. Konon, keberlangsungan Sekaten sudah sejak abad XVI. Gamelan mengiringi peningkatan jumlah penganut agama Islam. Pengaruh itu masih samar terjelaskan melalui bukti-bukti berargumentasi. Sumarsam ingin mengarahkan pembaca mendingan mengingat sejarah gamelan dan Islam di Gresik.

Pada abad XIX, para sarjana dan pejabat kolonial melaporkan keberadaan gamelan di Gresik, kota penting di pantai utara dalam sebaran dakwah dan seni Jawa. Gamelan berfaedah dalam kebangkitan dan kebesaran Islam. Watak pesisiran dan Islam menggampangkan gamelan berterima dengan pemaknaan religius, tak selalu dipandang hiburan.

Masa lalu itu menjadi kontras pada abad XX dan XXI. Sumarsam mengingatkan: “Bahkan, di dalam masyarakat muslim yang taat, gamelan, wayang, dan tari Jawa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Islam.” Penjelasan mengacu pada dokumen dan kesaksian-kesaksian masa lalu. Situasi lekas berubah pada abad XX. Perdebatan sengit muncul lagi seperti ingin “merendahkan” seni di kepentingan dakwah. Gamelan berada di perdebatan ramain sangkaan dan kejutan. Sekian pendakwah justru menggunakan gamelan berbarengan serangan-serangan berdalih doktrin agama.

Lacakan sejarah hubungan gamelan dan Islam sejak abad XVI sampai XX memunculkan simpulan:

“Pada abad XX saat organisasi Islam sekaligus organisasi sosiopolitik memasuki arena kebudayaan, makna dan konteks seni-seni pertunjukan meluas dan menebal, persis seperti juga perdebatan-perdebatan mengenai hal-hal tersebut.”

Sumarsam sudah berusaha menelusuri segala dokumen, teks sastra, dan pementasan untuk mengerti lakon terbaru gamelan dan Islam. Keberadaan ormas dan partai politik semakin memberi ambigu atas perjalanan sejarah gamelan dan tata cara berdakwah agar tak monoton. Gamelan tetap saja di jalan dakwah dengan pelbagai sajian garapan dan pengimbuhan makna agar kontemporer.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pahit-manis masih terasa dalam kaitan gamelan dan Islam tapi publik semakin memiliki hak beragama secara estetis tanpa abai ajaran-ajaran pokok dalam Islam. Begitu.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top