Sedang Membaca
Al-Ajwibatus Syafiyah: Himpunan Fatwa KH. Raden Muhammad Nuh Cianjur (1966)

Al-Ajwibatus Syafiyah: Himpunan Fatwa KH. Raden Muhammad Nuh Cianjur (1966)

Ahmad Ginanjar Sya'ban

Kitab ini berjudul Al-Ajwibatus Syafiyah li Dzawil ‘Uqulis Salimah karangan seorang ulama besar Tanah Sunda asal Cianjur yang hidup di paruh pertama abad ke-20 M, yaitu KH. Raden Muhammad Nuh b. Idris (w. 1358 H/1966 M). Beliau ayah dari seorang ulama besar, pejuang, dan sastrawan Nusantara generasi berikutnya, yaitu KH. Raden Abdullah b. Nuh (Bogor, Jawa Barat, w. 1987).

 

Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu aksara Arab (Jawi/Pegon), berisi himpunan fatwa KH. Raden Muhammad Nuh terkait beberapa permasalahan fikih yang diajukan kepada beliau. Terdapat 12 (dua belas) buah soal yang kebanyakan berhubungan dengan masalah amaliah yang berlaku di kalangan Muslim tradisional Tanah Sunda dan juga Nusantara lainnya, seperti ziarah kubur, membaca talkin, hukum bertawasul, merayakan maulid Nabi, dan lain-lain.

 

Tidak terdapat keterangan yang menjelaskan kapan karya ini diselesaikan. Kitab ini dicetak dalam format cetak batu (litografi/thaba’ hajar) setebal 16 halaman oleh percetakan Sayyid Yahya b. Utsman b. Yahya yang berlokasi di Tanah Abang Wilterfreden, Batavia (kini Jakarta), tanpa keterangan tahun. Melihat keterangan “Wilterfreden” yang berbahasa Belanda, bisa dipastikan jika karya ini dicetak sebelum 1942.

 

Dalam kata pengantarnya, KH. Raden Muhammad Nuh menulis:

 

ويعد مك سغكهن تله ممنتا اكنداكو اوليه ستغة سودراكو في الله اكن سفاي اكو ممفربوة سات رسالة ددالم ميتاكن ببرف سؤال دان جواب يغ فرلو فد اين ماس يغ منمبهكن قوة كفرجيائن كيت قوم أهل السنة والجماعة دان ممنتا فول سفاي اكو مغهيسكن اين رسالة دغن آيات قرآنية دان احاديث نبوية: مك اكو ممفركننكن اكن فرمنتائنن كارن سفاي جادي فرايغاتن باكي اكو دان باكي سودر2اكو يغ سفرت اكو ككوراغنن

Baca juga:  Fatimah, Perempuan Pengarang Kitab Kuning dari Banjar

 

Wa ba’da. Maka sungguhnya telah meminta akan daku setengah saudaraku fillah akan supaya aku memperbuat satu risalah di dalam menyatakan beberapa soal dan jawab yang perlu pada masa ini yang menambahkan kuat kepercayaan kita kaum Ahlussunnah wal Jama’ah dan meminta pula supaya aku menghiaskan ini risalah dengan ayat Qur’aniyyah dan ahadits Nabawiyyah. Maka aku memperkenankan akan permintaan karena supaya jadi peringatan bagi aku dan bagi saudara-saudaraku yang seperti aku kekurangannya.

Al-Ajwibatus Syafiyah (foto: ginanjar)

Menyimak kata pengantar yang dituliskan oleh sang pengarang, ia menegaskan karyanya dibuat untuk memperkuat keyakinan kalangan Muslim tradisionalis (Ahlussunnah wal Jama’ah). Besar kemungkinan karya ini ditulis antara 1920-1940-an, yang pada masa itu sedang menghangat polemik wacana keislaman antara kalangan Muslim tradisionalis (Ahlussunnah wal Jama’ah yang direpresantasikan oleh Nahdlatoel Oelama/NU) yang kerap juga disebut “kaum tua” dengan kalangan Muslim modernis yang direpresentasikan oleh beberapa perkumpulan seperti Muhammadiyyah, Al-Irsyad, PERSIS Bandung, dan lain-lain (yang berafiliasi dengan ideologi Wahhabiyyah di Nejd atau Tajdidiyyah di Mesir) yang kerap juga disebut “kaum muda”.

 

Pada masa itu, kelompok Muslim modernis masih berupa minoritas, namun kerap “membuat gaduh” suasana dengan seringnya mengkritik amaliah-amaliah yang sudah secara turun temurun dijalankan oleh kelompok Muslim tradisionalis. Amalan-amalan tersebut seperti ziarah kubur, talkin mayit, membaca usholli ketika memulai salat, membaca zikir berjamaah, merayakan maulid Nabi, praktik bermazhab, dan lain sebagainya. Kalangan modernis menganggap semua praktik amaliah itu sebagai hal yang heretik (bid’ah) dan sesat.

Baca juga:  Pesan Toleran dalam Nadzom Alkhoridatul Bahiyyah

 

Beberapa permasalahan terkait praktik amaliah yang disebutkan di atas kemudian diulas secara gamblang dan argumentatif  oleh KH. Raden Muhamma Nuh dalam karyanya ini. Jika melihat konten isinya, maka karya ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan karya berjudul Al-Ajwibatul Makkiyyah lil As’ilatil Jawiyyah (fatwa-fatwa atau jawaban-jawaban dari Makkah terkait masalah-masalah keislaman Nusantara) yang dikarang oleh Syaikh ‘Abdurrahman b. Abdullah Siraj, kepala tertinggi urusan keagamaan (qadhil qudhat) Makkah dan ditulis pada 1923.

 

Selain itu, karya ini juga berhubungan dengan karya lainnya yang mengkaji tema serupa, yaitu Risalah ‘Aqa’idi Ahlis Sunnah wal Jama’ah  karangan Syaikh Mukhtar b. ‘Atharid al-Bughuri al-Makki (Syaikh Mukhtar Bogor atau Raden Mukhtar Natanagara Bogor, w. 1930), seorang ulama-bangsawan Sunda asal Bogor yang mengajar di Masjidil Haram pada awal abad ke-20 M, yang juga guru langsung dari KH. Raden Muhammad Nuh ketika masa belajarnya di Makkah.

 

Tentu saja, kita tidak boleh melewatkan karya lainnya yang juga memiliki hubungan tak terpisahkan dengan karya ini, yaitu Risalah Ahlis Sunnah wal Jama’ah karangan Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Jombang, pendiri NU. KH. Raden Muhammad Nuh Cianjur adalah junior seperguruan dari Kiai Hasyim Asy’ari. Keduanya sama-sama murid dari Syaikh Mukhtar Bogor, Syaikh Mahfuzh Tremas, Syaikh Sa’id Yamani al-Makki, Syaikh ‘Umar Hamdan al-Mahrasi, dan ulama-ulama Makkah berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah lainnya.

Baca Juga

 

Sepulang dari Makkah, KH. Raden Muhammad Nuh mendirikan Pesantren Al-I’anah di Cianjur pada 1912, hingga kini masih berdiri. KH. Raden Muhammad Nuh juga menjadi salah satu simpul utama dari jaringan intelektual ulama Sunda pada paruh pertama abad ke-20 M. Jaringan ini menghubungkan dirinya dengan beberapa ulama besar Tanah Sunda lainnya pada masa itu, seperti Ajengan Muhammad Syathibi Gentur (Cianjur), Ajengan Syuja’i Kudang (Tasikmalaya), Ajengan Bakri Sempur (Purwakarta), Ajengan Ahmad Sanusi Gunungpuyuh (Sukabumi), Ajengan Falak Pagentongan (Bogor), Ajengan Alqo Sukamiskin (Bandung), Ajengan Abdul Halim (Majalengka), Ajengan Abbas Buntet (Cirebon), dan lain-lain.

 

Bogor, Maret 2018

 

 

 

 

 

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top