Sedang Membaca
100 Tahun Rosihan Anwar: Pembaca, Pengalaman, Islam
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

100 Tahun Rosihan Anwar: Pembaca, Pengalaman, Islam

Rosihan

Ia masih mengaku wartawan. Ia sadar tak lagi memiliki atau mengelola perusahaan pers (koran). Predikat wartawan tak ditanggalkan. Hari demi hari, ia tetap menulis. Ia masih muda, 40 tahun. Di hadapan penguasa, ia berani dan menerima risiko. Di keseharian, Rosihan Anwar pernah menggerakkan Pedoman. Pengalaman itu berakhir akibat kemarahan penguasa. Pedoman itu ditamatkan. Ia pun terus menulis artikel dan rutin menulis buku harian. Sumber-sumber dari pengalaman, pengamatan, dan percakapan. Berita-berita di pelbagai koran dan majalah menjadi acuan dalam menulis catatan harian. Ia masih penulis!

Rosihan Anwar mengungkapkan: “Catatan-catatan ini memberikan suatu sejarah politik yang tidak selalu diketahui oleh generasi muda Indonesia sekarang. Ia melukiskan keadaan masyarakat masa itu dari sudut ekonomi, sosial dan budaya, juga manusia-manusia Indonesia yang sebagian sudah meninggal dunia, sebagian masih hidup dan sudah tua. Kalau kesinambungan catatan-catatan tidak selalu terpelihara dengan rapi atau kalau sifatnya berbeda-beda kedalamannya, maka keterangannya ialah: memang begitulah adanya. Ia ditulis tidak terlepas dari pengaruh keadaan pribadi, dan suasana perasaan pada suatu ketika.”

Penjelasan bagi pembaca buku berjudul Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965 (1981) diterbitkan Sinar Harapan. Buku mengingatkan masa 1960-an. Penulis catatan itu sering marah. Halaman-halaman buku sering politik. Pembaca cuma menemukan sedikit hal di luar politik. Kita membaca catatan bertanggal 10 Mei 1961. Rosihan Anwar berulang tahun. Ia berusia 40 tahun. Peristiwa menandai pertambahan umur: “Tadi pagi, aku ke rumah Buya Hamka di depan masjid Al Azhar. Aku datang padanya membawa sebuah naskah buku berjudul ‘Islam dan Anda’ yang baru selesai kutulis. Aku minta Buya Hamka supaya membaca dan mengoreksi naskah itu.”

Baca juga:  Mengenal Teologi Negatif Ibn ‘Arabi (2)

Dulu, orang-orang kaget dengan keberanian Rosihan Anwar menulis buku bertema Islam. Pembaca buku mendingan mengamati lagi penulisan nama di buku Sebelum Prahara. Di situ, kita membaca: H Rosihan Anwar. “H” itu haji. Gelar mungkin agak membenarkan Rosihan Anwar menulis tentang Islam.

Penulisan buku berkaitan dengan nasib. Ia mengaku sebagai wartawan menganggur tapi memiliki kekuatan untuk membaca dan menulis. Kemauan besar mempelajari Islam berlanjut dengan menulis buku. Situasi dan peristiwa itu menjadikan Rosihan Anwar tak berputus asa. Ia berpegangan firman-firman Allah dalam Al Quran.

Belajar agama dipengaruhi pula kepulangan dari naik haji, 1957. Babak menjadi mahasiswa di Jogjakarta menentukan kemampuan membaca buku-buku agama. Ia sempat diragukan kepahaman dalam ilmu agama. Rosihan Anwar memang bukan ahli agama tapi merasa berhak turut berdakwah dengan buku.

Pada saat belajar di Jogjakarta, Rosihan Anwar mondok di rumah Dr Tjan Tjoe Siem. Intelektual itu memiliki bibliotik. Rosihan Anwar terpukau dan suka membaca koleksi buku-buku berbahasa asing. Ia beruntung pernah diajari bahasa Arab oleh Tjan Tjoe Siem: “Caranya unik. Meneer Tjan menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Buku teks yang kami pakai ditulis dalam bahasa Jerman, dan catatan yang kami buat memakai bahasa Arab. Kendati pembelajaran itu tidak lama, saya memperoleh pengetahuan dasar tentang bahasa Arab dan bisa membanding-bandingkannya dengan gramatika bahasa Latin yang saya pelajari di sekolah.” Pada saat masih muda, ia berada di jalan terbuka untuk mendalami Islam.

Baca juga:  Rekam Jejak Perjuangan Gus Dur dengan Semangat Ekologi Qur’ani

Ia belajar beragam hal. Agama tetap dipelajari melalui buku-buku selain mengamalkan dalam hidup keseharian. Seorang muda ingin bergerak jauh. Ia belajar politik, filsafat, pers, sastra, sejarah, sains, agama, dan lain-lain. Pada masa berbeda, publik membaca buku berjudul Islam dan Anda (1962). Buku telah berjejak sejak lama. Rosihan Anwar (1962) menerangkan: “Risalah ini diberi djudul Islam dan Anda dan penamaan itu adalah berdasarkan pikiran dan pertimbangan bahwa Anda nistjajalah djuga menaruh perhatian pada soal-soal Islam.”

Rosihan Anwar (2004) mengenang: “Kegiatan belajar di bawah asuhan Meneer Tjan membuat saya rajin membaca buku tentang sejarah dan agama Islam yang ada di bibliotiknya. Sebuah dimensi baru ditambahkan pada edukasi saya. Sebuah dunia baru yang dibukakan. Kurang lebih dua puluh tahun kemudian, tatkala saya menulis Islam dan Anda, saya banyak dibantu oleh hal-hal yang saya baca di rumah kos Meneer Tjan.”

Masalah agama tak semua bisa dipahami. Naskah buku masih memerlukan koreksi. Rosihan Anwar memilih Hamka untuk turut berperan dalam mutu buku. Rosihan Anwar berdalih: “Dalam naskah ‘Islam dan Anda’ itu terdapat bab tentang mistik dan tasawuf. Aku minta Buya Hamka meneliti bab itu kalau-kalau ada kekeliruan di dalamnya. Maklum, aku tidak punya bakat untuk mistik.” Pada usia 40 tahun dan sudah memiliki gelar “H” di depan nama, ia mulai tampil sebagai penulis buku agama.

Baca juga:  Ulama Banjar (17): KH. Muhammad Ramli (H. Walad)

Pada 1982, terbit buku berjudul Naik di Arafat susunan H Rosihan Anwar. Buku kecil dan tipis berisi kenangan dan warta. Buku menandai 25 tahun setelah naik haji pada 1957. Dulu, ia sudah menulis pengalaman naik haji diterbitkan Pembangunan dengan judul Dapat Panggilan Ibrahim. Buku itu habis dan susah dicari setelah puluhan tahun berlalu. Buku menghimpun tulisan-tulisan sudah dimuat di Pedoman dan Siasat. Buku itu diolah lagi dan mendapat tambahan untuk terbit menjadi Naik di Arafat.

Pencantuman “H” di depan nama makin bermakna dengan penulisan buku-buku dan artikel-artikel di pelbagai majalah. Ia berpesan: “Saya harap dan percaya buku ini tidak saja berguna dan menarik bagi mereka yang telah melakukan ibadah haji, tetapi juga bagi mereka yang berniat dan hendak melaksanakan ibadah haji di masa datang.” Kini, kita menghormati Rosihan Anwar dengan membaca buku-buku dan mengamati perkembangan Islam di Indonesia abad XXI. Begitu.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top