Sedang Membaca
Membedah Fiqih Sirah Nabawiyah Karya Said Ramadhan al-Buthi
Penulis Kolom

Mahasantri Mahad Aly Sa'iidusshiddiqiyah Jakarta; alumnus pesantren Al-Isti'anah Plangitan Pati.

Membedah Fiqih Sirah Nabawiyah Karya Said Ramadhan al-Buthi

278173637 405804404691944 7245560489036282660 N

Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi adalah ulama kontemporer berpengaruh di Timur Tengah. Beliau sangatlah produktif dalam menulis buku. Karyanya lebih dari 60 buku dengan diskursus yang beragam, meliputi syariah, sastra, filsafat, sejarah, sosial dan lain sebagainya. Dan karyanya selalu proporsional dengan rujukan sumber yang kaya serta tak melenceng dari akar masalah yang diusung.

Seperti halnya buku fiqih sirah karangannya ini. buku sejarah Nabi yang sangat monumental ini digarapnya dengan penuh kehati-hatian. Sumber yang bervariatif memperkuat argumentasi kesejarahan kehidupan Nabi yang agung. Sumber-sumber rujukan yang dipakai adalah para ulama klasik yang benar-benar dapat dipertanggung jawabkan validitas keilmuannya. Semisal Ibnu Hisyam, Ibnu Ishaq, hadist riwayat Imam Bukhori, bahkan tak segan-segan juga menukil dari ayat suci al-Quran bila ada asbabun nuzul (latar belakang cerita dalam alquran) yang berkaitan dengan alur ceritanya.

Dr. Buthi juga memaparkan beberapa hikmah dalam setiap rangkaian kejadian peristiwa yang dialami Nabi berikut para sahabat dan keluarganya pada perjuangan mendakwahkan Islam. Maka buku monumental ini akan lebih jauh mengena dan memberikan kesan tersendiri bagi para pembaca dan pengkaji Sirah Nabawiyah.

Seperti yang telah disinggung di depan tadi, bahwa Dr. Buthi tak pernah melenceng dari akar masalah yang diusung. Buku berdiskusrus Sirah Nabawiyah ini mendedah setiap fragmen kehidupan Nabi dengan rangkaian hikmah yang terselip di dalamnya. Metodologi penulisan yang digunakannya itu dapat mengoreksi para penulis sejarah Nabi yang luhur ini dari kekeliruan dan ketersesatan yang tak kunjung menemui jalan terangnya.

Baca juga:  Dari Novel Merahnya Merah hingga Revolusi Mental Presiden Jokowi

Dalam rangkaian setiap kejadian Nabi yang agung selalu bisa dipetik pelajaran di sana. Sejarah Nabi bukanlah sekedar rangkaian episode yang nirhikmah, nirpelajaran dan penafian-penafian hal lainnya yang tak memiliki nilai pengaruh. Semua memiliki keterkaiatan dan penempatan nilainya masing-masing. Namun Ulama kontemporer atau bahkan mungkin klasik, ternyata ada saja yang salah dalam penyampaiannya kepada awam. Sehingga sejarah kehidupan Nabi  terkesan biasa-biasa saja, kering dan tak berhasil mencerahkan.

Mereka yang melakukan hal itu, hanya menulis dan menganalisis kehidupan Nabi semata-mata hanya dalam kacamata kemanusiaannya saja. Tidak lebih, dengan menyampaikan Sirah Nabawiyah tidak dengan petikan hikmah yang bisa diserap oleh awan sebagai refleksi atas kehidupan Nabi. Seolah-olah kehidupan Nabi tak jauh berbeda dengan para tokoh berpengaruh yang hidup pada kurun sebelum-sebelumnya.

Ada sebuah kerancuan juga yang mengisahkan, semisal pergerakan dakwah Nabi beserta para sahabatnya adalah dianggap sebagai ambisi merebut kekuasaan dari non-Arab. Perjuangan Nabi itu hanya disampaiakan dengan upaya memperoleh keduniawian saja. Sebuah argumen yang salah kaprah terhadap dangkalnya pemahaman sejarah Nabi. Bila hal demikian terus-menerus dibiarkan, maka akan menggiring kepada para pembaca ke dalam lubang kebodohan. Umat Nabi, terutama kaum muslimin di seluruh dunia pasti akan terjerembab dalam keragu-raguannya terhadap Islam.

Baca juga:  Menyandingkan Perpustakaan dengan Pasar: Sebuah Refleksi Peringatan Hari Buku Nasional

Maka buku ini perlu kita baca dan renungkan bersama agar dapat memperoleh hikmahnya. Semisal al-Buthi memberikan penjabaran hikmah dari kaum muslim yang mendapat siksaan dari kafir Qurays ketika awal Islam didakwahkan. Rasulullah Saw. bersama para sahabatnya mengalami siksaan dan terintimidasi.

Bahkan dalam salah satu ceritanya Nabi tatkala sujud di sekitar Masjid al-Haram, tiba-tiba ada seorang bernama Uqbah bin Abu Mu‘ith melilitkan kain pada leher beliau dan mencekiknya sekuat tenaga. Beruntung Abu Bakar datang menolongnya dan terselamatkanlah Nabi. Uqbah melakukan hal demikian lantaran membenci Nabi karena dianggap membawa ajaran yang bertentangan dengan nenek moyangnya. Ia mengingkari Nabi dan tak percaya dengan dengan adanya Tuhan Allah.

Lantas timbullah pertanyaan dalam benak kita semua. Mengapa Nabi dan para sahabat menderita, sedang mereka adalah pihak yang benar. Apakah Allah Swt. tak mengetahui hal tersebut sehingga dibiarkan tanpa ada pertolongaan yang nyata.

Penting diketahui bahwa Dr. al-Buthi  dalam bukunya ini menjelaskan terkait siksaan yang diterima kaum muslimin. Bahwa Allah Swt. sebetulnya berkuasa atas segala kehendak-Nya. Namun manusia memiliki beban dan kesulitan yang perlu ditanggungnya untuk mencapai kemenangan.

Sementara itu, dakwah menegakkan Islam adalah beban yang sangat berat yang perlu dijalankan oleh setiap umat muslin di seluruh dunia. karena itu akan menunjukkan kehambaannya kepada Allah Swt. Karena tidak ada artinya mengimani ketuhanan Allah Swt. tanpa adanya penghambaan total kepada-Nya. Untuk itu Allah Swt. mewajibkan setiap orang untuk memikul beban kesulitan dan perjuangannya melawan hawa nafsu.

Baca juga:  Mengenal Kitab Pesantren (35): Kitab Al-Adzkar, Ensiklopedia Zikir dan Doa

Pendek kata, hal ini akan membedakan antara kaum muslimin dan orang-orang musyrikin. Bahwa kaum muslimin mampu menundukkan hawa nafsunya sehingga dapat patuh terhadap ajaran yang dibawa Rasulullah Saw. Tanpa itu semua, akan sulit membedakan antara yang beriman dengan yang mengingkari. Antara yang benar-benar mencintai dengan yang munafik dan membenci.

Kitab Fiqih Sirah telah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa di belahan dunia. Termasuk di tanah air sendiri yang banyak penerjemah mengalih bahasakan tanpa mengurangi sedikit esensi dari kitab aslinya. Berbagai judul digunakan untuk buku yang sudah dialih bahasakan itu. Semisal buku “Menghayati Islam dari Fragmen Kehidupan Rasulullah Saw.” yang diterbitkan oleh penerbitan buku Naura Books. Buku tersebut tersusun dengan bahasa indonesia yang rapi dan mudah dipahami sesuai kaidah kepenulisannya.

Membacanya akan membuat keislaman kita semakin kokoh dan bermakna. Kita tak hanya ikut-ikutan saja dalam beragama. Islam dalam pandangan kita bukan sekedar syariat yang mencegah dan memerintah. Karena hikmah yang terpetik dalam setiap perjalanan dakwah Nabi memiliki dinamika untuk direfleksikan, dianuti, diteladani dan dimaknai dengan bijaksana.

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top