Sedang Membaca
Pameran Toleransi di Bandung, Surabaya, dan Makassar
Penulis Kolom

Guru Madrasah, Mahasiswa Pascasarjana Institut Pesantren KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto.

Pameran Toleransi di Bandung, Surabaya, dan Makassar

With Narsum Talkshow

Konsorsium  Creative 7oufh for Tolerance  (CREATE), menyelenggarakan ‘CREATE‘ Moments: Pameran Seni dan Budaya untuk Toleransi, serentak di tiga kota: Bandung, Surabaya, dan Makassar (20-3/012022.) Kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap karya anak muda, khususnya siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat.

Pameran serentak ini mengangkat tema besar toleransi, keberagaman, kesetaraan gender, dan inklusi sosial. Konsorsium CREATE mengadopsi pendekatan berbasis seni dan budaya yang inovatif sebagai titik masuk bagi upaya untuk mempromosikan toleransi dan pluralisme di tingkat sekolah, serta meningkatkan peran orang tua dalam mendukung praktik-praktik toleransi.

Lebih dari 50 karya seni berupa lukisan, instalasi, audio-visual, hingga performance art dibuat oleh para siswa yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Banten, hingga DKI Jakarta, dan bisa dinikmati oleh publik.

“Daya kreasi anak muda dalam menyikapi isu intoleransi yang disalurkan melalui pendekatan seni dan budaya patut diapresiasi dan dirawat. Mereka berupaya membangun kesadaran dalam bahasa universal tentang kesetaraan dan persaudaraan. Karya-karya mereka adalah refleksi bahwa upaya untuk menjadikan Indonesia lebih toleran adalah juga upaya yang persisten,”jelas Mokhamat Iqbal selaku, Project Manager Ahad (23/01/2022) melalui sambungan WhatsApp

Iqbal menambahkan, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam membangun lingkungan yang damai dan toleran. “Dari para siswa ini kita juga belajar untuk mendapatkan tambahan asa, dan keyakinan tentang masa depan negara-bangsa yang kita cintai ini,” tambahnya.

Baca juga:  Memetik Hikmah dari Lika-liku Hidup Buya Syafii Maarif

Di Bandung, pameran dilaksanakan di Galeri Popo lskandar dengan mengangkat tema lokal “SAMPURASUN: Seniman Muda Peduli Toleransi, lnklusi, dan Kesetaraan” Selain menampilkan karya dari para siswa SMA di Jawa Barat, pameran juga menampilkan orasi budaya, lokakarya tari jaipong, lokakarya komik strip, hingga diskusi bersama komunitas Masyarakat Adat Karuhun Urang.

Di Surabaya, para peserta mengangkat tema “Setara: Sekolah (seharusnya) Tanpa Kekerasan”. Tema ini diangkat sebagai bentuk kritik bahwa setiap orang seharusnya diperlakukan sejajar dengan menghormati keberagaman tiap individu dan menjungjung tinggi martabatnya.

Sebagian besar siswa menyalurkan informasi terkait isu kekerasan seksual dalam bentuk karya lukisan hingga karya audio-visual. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Pemuda, Surabaya. Selain pameran karya, terdapat pula kelas-kelas kecil seperti, lokakarya Bahasa isyarat, lokakarya watercolour, lokakarya seni cukil kayu, hingga kelas art fheraphy.

Pelaksanaan pameran di Makassar, digelar di Artmosphere Studio, sebuah ruang kolektif seni tempat para seniman sering menampilkan karya-karyanya. Karya seni berupa lukisan, instalasi, hingga kolase, dan audio-visual dengan tema kekerasan seksual, toleransi, dan keberagaman dibuat oleh para siswa. Selain menampilkan karya seni dari para siswa di kota Makassar dan

sekitarnya, pameran di makassar juga menghadirkan lokakarya Bahasa Lontara, lokakarya fotografi, hingga penampilan mini teater dari para siswa.

Baca juga:  Wawancara Santai dengan Gus Mus 27 Tahun Silam: Bagaimana Santri yang Ideal di Era Globalisasi?

“Semua kegiatan pameran di tiga kota ini terbuka untuk umum dan bisa diikuti secara gratis tanpa dipungut biaya. Kami optimis, generasi muda saat ini mampu menghargai keberagaman antar sesama. Lebih dari itu, kami berharap akan lebih banyak lagi masyarakat yang semakin memahami makna toleransi, pluralisme, kesetaraan gender, inklusi sosial, hingga isu kemanusiaan lainnya,” kata Iqbal.

Konsorsium CREATE merupakan inisiasi Yayasan Hivos yang terinspirasi oleh nilai-nilai humanis bekerja sama dengan Rombak Media, Perkumpulan Pamflet Generasi, Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR), Youfh Interfaith Forum on Sexuality (YIFOS), dan Center for Marginalized Communities Studies (CMARs), dengan dukungan dari The Omited States Agency for International Development. Konsorsium CREATE bersama-sama membuat program yang bertujuan untuk meningkatkan pluralisme dan toleransi di kalangan siswa. CREATE mengadopsi pendekatan berbasis seni dan budaya yang inovatif sebagai titik masuk bagi upaya untuk mempromosikan toleransi dan pluralisme di tingkat sekolah menengah.

 

sekitarnya, pameran di makassar juga menghadirkan lokakarya Bahasa Lontara, lokakarya fotografi, hingga penampilan mini teater dari para siswa.

“Semua kegiatan pameran di tiga kota ini terbuka untuk umum dan bisa diikuti secara gratis tanpa dipungut biaya. Kami optimis, generasi muda saat ini mampu menghargai keberagaman antar sesama. Lebih dari itu, kami berharap akan lebih banyak lagi masyarakat yang semakin memahami makna toleransi, pluralisme, kesetaraan gender, inklusi sosial, hingga isu kemanusiaan lainnya,” tambah Iqbal.

Baca juga:  Sikap Katib Aam PBNU atas Kasus Tanah di Kendal

Konsorsium CREATE merupakan inisiasi Yayasan Hivos yang terinspirasi oleh nilai-nilai humanis bekerja sama dengan Rombak Media, Perkumpulan Pamflet Generasi, Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR), Youfh Interfaith Forum on Sexuality (YIFOS), dan Center for Marginalized Communities Studies (CMARs), dengan dukungan dari The Omited States Agency for International Development. Konsorsium CREATE bersama-sama membuat program yang bertujuan untuk meningkatkan pluralisme dan toleransi di kalangan siswa. CREATE mengadopsi pendekatan berbasis seni dan budaya yang inovatif sebagai titik masuk bagi upaya untuk mempromosikan toleransi dan pluralisme di tingkat sekolah menengah.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top