Sedang Membaca
Relasi Tuhan dan Manusia (4): Ketika Tuhan Membicarakan Manusia

Penulis adalah redaktur pelaksana Alif.id. Bisa disapa melalui akun twitter @autad.

Relasi Tuhan dan Manusia (4): Ketika Tuhan Membicarakan Manusia

Whatsapp Image 2021 03 09 At 23.09.37

Al-Qur’an begitu luas membicarakan Tuhan dan manusia. Baik tentang konsep ketuhanan, sifat Tuhan, konsep manusia dengan segala prosesnya, dan lain-lain. Di dalam relasi antara keduanya, Tuhan disebut sebagai khaliq (pencipta) dan manusia sebagai makhluq (ciptaan).

Relasi ontologis antara Tuhan dan manusia disebut juga dengan hubungan timbal balik. Oleh sebab itu, hal tersebut menjadi alasan mengapa manusia diciptakan oleh Tuhan di bumi ini. Karena Tuhan mempunyai peran sebagai pemberi eksistensi wujud kepada manusia. Dia-lah pencipta manusia,  dan sekaligus pencipta seluruh alam semesta; mulai dari malaikat-malaikat [QS. Az-Zukhruf (43): 9], Jinn [QS. Ar-Rahman: (55): 15], langit dan bumi [QS. Ibrahim (14): 19], matahari dan bulan, siang dan malam [QS. Al-Fushilat (41): 37], gunung dan sungai [QS. Ar-Ra’d (13): 3], pohon-pohonan, buah-buahan, biji-bijian, daun-daunan [QS. Ar-Rahman (55): 11-12], dan lain sebagainya.

Munculnya istilah khaliq dan makhluq di dalam relasi ontologis, karena dalam idiom agama, khaliq sendiri berarti pencipta, sementara makhluq adalah ciptaan. Istilah khaliq mengacu pada satu entitas, yaitu Tuhan, sementara makhluq mengacu kepada semua realitas selain diri-Nya. Khaliq adalah makro dan makhluq adalah mikro. Hal tersebut bisa dibuktikan, baik secara teologis maupun empiris.

Ada juga yang menyebutkan kalau manusia merupakan mikrokosmos dari makrokosmos alam semesta. Karena karakteristik manusia itu sendiri yang memiliki kesamaan dengan alam semesta. Misalnya saja, di alam semesta ada air, di dalam manusia pun ada air, di alam semesta ada besi dan angin, di dalam diri manusia pun sama, ada angin dan besi. Sebab itu, kalau manusia menjaga kelestarian alam berarti ia menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Baca juga:  Swike Ayam, Fenomena “Kompromi” di Jagad Kuliner

Relasi ontologis juga memberikan kesadaran kepada masyarakat Arab pra-Islam mengenai konsepsi penciptaan. Karena pada masa itu eksistensi Tuhan sebagai sang pencipta justru diabaikan, yakni dengan masih menghubungkan nya masyarakat Arab dengan kekuatan-kekuatan berhala yang dianggapnya memiliki eksistensi.

Dengan demikian, di dalam relasi ini Tuhan merupakan sosok yang superior, zat Maha Agung, dan pengatur alam semesta. Sementara manusia adalah sosok yang inferior yang selalu membutuhkan anugerah serta rahmat-Nya. Relasi ini semakin menegaskan bahwa ada kaitannya antara seorang hamba (‘abd) dengan tu(h)annya atau rabb. Antara khaliq dengan makhluq. Karena di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa manusia merupakan bagian dari Tuhan, yakni dengan mendapatkan percikan ruh-Nya (QS. Shad  [38]: 72).

Relasi Komunikatif

Relasi komunikatif di dalam al-Qur’an, sebagaimana yang diungkapkan oleh Toshihiko Izutsu (1997: hal. 145) ada dua, yaitu non linguistik dan linguistik.  Dalam bentuk komunikasi non-linguistik Tuhan berhubungan atau memberi tanda kepada manusia dengan menggunakan simbol atau tanda non verbal, yakni dengan wujud ayat-ayat tuhan yang bersifat kawniyyah (jagat alam raya).  Tidak ada perbedaan penting antara tanda-tanda linguistik dan non linguistik. Keduanya sama-sama ayat Ilahi.

Ayat-ayat kawniyyah (jagat alam raya) ditunjukkan oleh Tuhan dengan melihat gejala-gejala alam seperti hujan, angin, susunan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, perputaran angin dan lain sebagainya. Semua itu menunjukkan ada campur tangan ilahi terhadap urusan manusia dan alam semesta ini.

Baca juga:  Relasi Muslim dan Non-Muslim dalam Alquran

Selain komunikasi simbolik Tuhan kepada manusia, ada juga komunikasi timbal balik, yakni antara manusia dan Tuhan, dalam bentuk shalat, doa dan bentuk ibadah lain yang berupa ritual. Ibadah ritual seperti shalat ini dalam kacamata Izutsu termasuk bagian dari relasi Tuhan dan Manusia dalam kategori komunikasi non-linguistik. Relasi yang sifatnya naik, dari manusia kepada Tuhan, sebagai ekspresi formal kekaguman manusia yang mendalam terhadap adanya Yang Maha Kuasa.

Sistem pemujaan dalam shalat juga memperlihatkan adanya pandangan baru bagi para pelakunya. Pemujaan bukanlah dengan pengorbanan atau ritual yang berbau takhayul, tetapi shalat memperlihatkan ajaran tentang kesucian, kesederhanaan, dan kedermawanan.  Menurut Mahmoud Muhammad Thaha (2007: hlm. 108), shalat merupakan sarana, bukan tujuan. Sehingga sarana atau tariqat ini mampu mencapai tujuan-tujuan yang baik dan benar.

Banyak dalil-dalil al-Qur’an yang menyebutkan pernyataan Mahmoud Thaha tersebut. Diantaranya: “Dirikan lah shalat, sesungguhnya itu mencegah kamu dari perbuatan keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar. Allah mengetahui apa yang engkau perbuat” (Lihat, QS. Al-Ankabut (29): 45).  Ayat lain, “Dirikan lah shalat untuk mengingat-Ku” (Lihat, QS. Thaha (20): 14).

Di dalam ayat ini dan ayat sebelumnya, Allah menyebutkan kesadaran akan kebersamaan dengan Allah tanpa kelengahan, dan sarananya adalah shalat. Oleh sebab itu, shalat merupakan bagian dari komunikasi antara Tuhan dan manusia. Relasi ini yang menjadikan manusia supaya mengingat Tuhan dan menyadari akan kebesaran-Nya. Karena di dalam gerakan dan bacaan shalat, seperti sujud, rukuk, dan takbiratul ihram adalah mencerminkan keagungan Tuhan.

Baca juga:  Percepatan Transformasi Digital NU

Selain shalat, ritual seperti berdoa dan berzikir merupakan bagian dari komunikasi non linguistik antara manusia dengan Tuhan.  Al-Qur’an menggunakan kata doa untuk arti yang bermacam-macam tersebar dalam 203 ayat (Mardjoko Idris: 2013, hlm. 1).  Sementara menurut istilah, doa adalah memohon sesuatu kepada Allah SWT dengan harapan Allah mengabulkan permohonan-nya. Dengan demikian relasi komunikasi antara Tuhan dan manusia di dalam doa sangat terlihat jelas eksistensi nya.

Selain bentuk komunikasi di atas, Tuhan juga berkomunikasi dengan manusia melalui wahyu yang diturunkan kepada makhluk yang dipilihnya; rasul atau nabi. Di dalam al-Qur’an, wahyu memperoleh tempat yang sangat khusus.  Karena sifatnya yang istimewa dan rahasia yang tak dapat diungkapkan oleh pikiran manusia biasa.

Dengan demikian menjadikan relasi antara Tuhan dan manusia semakin beragam di dalam al-Qur’an. Mulai dari shalat, doa, pemberian wahyu, dan lain-lain. Hal tersebut menjadikan antara keduanya pada posisi yang sangat dekat. Kedekatan Tuhan dengan manusia tersebut bisa dilihat dari beragam teks al-Qur’an yang di dalam susunan redaksinya yang selalu mengarahkan kepada peringatan, teguran, serta pujian kepada manusia oleh Tuhan. Wallahhu a’lam.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top