Sedang Membaca
Dari Benares Menuju Arafah: Merayakan Waisak Bersama Sang Buddha dan Nabi Muhammad SAW
Penulis Kolom

Mahasiswa Pascasarjana Fak. Teologi UKDW Yogyakarta.

Dari Benares Menuju Arafah: Merayakan Waisak Bersama Sang Buddha dan Nabi Muhammad SAW

Foto Viral Biksu Mengambilkan Air Wudu Untuk Muslim

When you find peace within yourself, you become the kind of person who can live at peace with others

(Buddha)

Di tiap peringatan Waisak, umat Buddha di seluruh dunia akan berziarah ingatan pada peristiwa di bulan Waisak dengan Tri Hari Suci yang di dalamnya terdapat tiga momen yakni kelahiran, pencerahan serta wafatnya Sang Buddha. Tiga peristiwa krusial tersebut diperingati bersamaan, khususnya ketika masuk pada bulan Waisak dimana refleksi Sang Guru Agung diperingati dan direfleksikan kembali.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sebagai sosok yang mengalami pencerahan dalam kehidupannya, Siddhartha juga mengalami transformasi dalam kehidupannya, tak berbeda jauh dengan sosok yang lahir beberapa abad setelahnya di tanah Arab, yaitu Nabi Muhammad SAW. Pada dimensi kemanusiaannya, hal yang sudah barang pasti memiliki kesamaan adalah momen pencerahan.

Siddhartha Gautama menjadi Guru Agung dan bergelar Sang Buddha atau orang yang mencapai pencerahan. Hal yang sama ketika Muhammad bin Abdullah juga mengalami pencerahan juga pada eranya kemudian menjadi Nabi sekaligus Rasul. Pada dua tokoh ini, titik pencerahan yang mereka alami tidak saja membawa perubahan pada aras personal, namun juga pada aras transformasi masyarakatnya.

Membuka ulang catatan sejarah, Sang Buddha pernah menyampaikan khotbah dalam karir perutusannya, hal serupa juga dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Khotbah monumental sepanjang hidup mereka akhirnya turut memancarkan cahaya kebaikan dan kebijaksaan di kalangan yang tidak saja umat dimana mereka diutus dan hidup—namun hingga saat ini khotbah tersebut terus berdengung menginspirasi umat manusia di seluruh dunia.

Khotbah Buddha Gautama di Benares

Setelah Siddharta Gautama mencapai pencerahan yang kemudian dikenal dengan sapaan Buddha Gautama, dia kemudian datang ke Isipatana, dekat Benares (sekarang Varanasi), di Taman Rusa—bertemu dengan lima orang petapa yang menganggap Siddhartha kembali tergiur oleh kenikmatan duniawi karena meninggalkan penyiksaan diri yang sangat keras.

Baca juga:  Binatang Menjelma Karya Sastra

Para petapa itu semula tidak menghiraukan kedatangan Siddhartha, namun ketika dia mendekat dan para petapa itu melihat langsung perubahan besar yang ada dalam diri Siddhartha, mereka pun akhirnya menerimanya. Selanjutnya, Siddhartha menyampaikan pesan pertamanya yang kemudian dikenal sebagai Khotbah Pemutaran Roda Dharma (Dhammacakkappavattana Sutta).

Dalam khotbahnya, Buddha Gautama membabarkan jalan untuk mencapai kebebasan dari penderitaan atau untuk mencapai pencerahan. Dia lebih lanjut menawarkan jalan tengah di antara dua ekstrem yang menurut Buddha Gautama sama-sama tidak bermanfaat dan tidak terhormat. Pertama, pengumbaran hawa nafsu lahiriah dan kelekatan pada hal-hal yang bersifat duniawi. Kedua, pengekangan diri. Dari dua jalan tengah ini, Sang Buddha hendak mengantar manusia pada pandangan terang, kebijaksanaan, ketenangan, pengertian yang luhur, penerapan agung, dan tercapainya kebebasan (Nirwana) dimana manusia terbebaskan dari dari penderitaan (dukkha) serta jeratan lingkaran kehidupan kembali yang terus berulang (lingkaran samsara).

Lebih lanjut, dari dua jalan ini membawa manusia untuk membawa dirinya pada kemajuan batiniah yang bisa mengontrol tataran lahiriahnya. Sang Buddha menekankan bagaimana titik pusatnya adalah diri sendiri yang diliputi penderitaan dimana Buddha menawarkan empat jalan mulia untuk membebaskan diri dari penderitaan; dimulai dari menyadari penderitaan, mengetahui penyebab penderitaan, mengakhirinya dan menempuh jalan akhirnya yang beruas delapan (yang dimulai dari pengertian yang benar hingga kontemplasi/konsentrasi yang benar).

Khotbah Nabi Muhammad SAW di Arafah

Lepas sepuluh tahun hijrah ke Madinah, setelah tatanan masyarakat serta kehidupan di sana sudah mulai tertata. Nabi Muhammad SAW melaksanakan ibadah haji yang pertama dan terakhir kali. Ibadah haji yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW diikuti oleh ratusan ribu lebih pengikutnya yang belakangan menjadi komunitas Muslim atau umat Islam.

Baca juga:  Setelah 95 Tahun, Lalu Apa Pentingnya Proliferasi NU

Dalam peziarahan ibadah haji, para jamaah yang berada di tempat suci, pada bulan-bulan suci pula ditekankan pengolahan batin untuk tidak mengotori hati, ucapan serta tindakan mereka. Selain itu, tidak melakukan tindakan atau perbuatan yang tercela serta menyinggung perasaan orang lain, seperti perasaan orang lain bahkan membunuh hewan atau merusak tanaman.

Dari pengolahan batin tersebut, peziarahan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW memberi teladan para pengikutnya bahwa aktifitas haji atau berziarah ke Mekkah tidak sekadar tawaf mengelilingi Ka’bah, namun ada pengolahan batin yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas batin, karena haji sesungguhnya bukan peristiwa lahiriah semata.

Pada momentum haji yang dijalani Rasulullah SAW pada waktu itu, saat melakukan wukuf di Arafah, Sang Nabi SAW menyampaikan khotbah yang kemudian dikenal dengan Khotbah Perpisahan (Khotbah Haji Wadha’). Pada peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW mengajak kepada para jamaah untuk menyimak beberapa pesan seraya mengisyaratkan bahwa momentum tersebut adalah pertemuan terakhirnya karena kemungkinan setelah itu Sang Nabi SAW akan segera mengakhiri karir kenabiannya dan pulang ke pangkuan Ilahi Rabbi.

Tak berselang lama, tiga bulan setelah itu Nabi Muhammad SAW wafat. Dalam pesan terakhirnya, Rasulullah SAW menekankan bahwa periode jahiliyah yang ditandai dengan sikap balas dendam dan pertumpahan darah harus ditinggalkan, transaksi yang menindas seperti praktik riba yang merupakan penindasan orang kaya kepada kaum miskin dan memerlukan uluran tangan pembebasan dari kemelaratan harus dihapuskan sehingga dalam masyarakat tak ada lagi kezaliman dan tak ada lagi yang terzalimi dan tertindas.

Baca juga:  Haul Haul Nurcholish Madjid (3): Kepada Cak Nur, Kita Belajar Melindungi Kemerdekaan Beragama

Selain itu, Rasulullah SAW menekankan bahwa umat manusia itu adalah satu, perbedaan warna kulit, ras dan agama tidak boleh melahirkan diskriminasi. Jiwa dan harta benda sesama manusia tidak boleh digangu gugat, kamu perempuan harus diperlakukan dengan baik dan terhormat serta martabat manusia dijunjung tinggi.

Dari Benares Menuju Arafah: Menuju Kalimatun Sawa’

Sang Buddha menjadikan pikiran sebagai kunci. Ada banyak orang yang menderita akibat pikirannya. Tidak saja membuat dirinya menderita, tapi juga membuat orang lain ikut menderita. Bagi Sang Buddha, neraka bukan satu tempat yang nun jauh di sana, ia berada di dalam pikiran yang benar yang tidak berisi kebencian, dengki, iri, dan seterusnya.

Dari Buddha Gautama di Benares dan Nabi Muhammad SAW di Arafah, kembali membawa manusia menemukan titik jumpa (kalimatun sawa’) bahwa untuk menghadirkan pencerahan dalam struktur sosial-masyarakat, tapi dimulai dari menghadirkan pencerahan dari dalam diri. “Kamu tidak punya kaki untuk pergi?”, kata Rumi. “Maka lakukanlah perjalanan ke dalam dirimu sendiri—yang menuntunmu pada perubahan dari debu menjadi emas murni!”.

Dari ziarah di Benares menuju Arafah, umat manusia kembali diingatkan untuk tidak lagi membawa derita bagi diri dan sesama ciptaanNya, namun justru berbalik menggapai pencerahan dengan membawa bahagia, kedamaian, ketentraman, kesejahteraan, keamanan bagi makhluk lainnya. Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā. Semoga semua makhluk berbahagia!

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top