Sedang Membaca
Surah Yasin yang Tak Berhenti Ditafsirkan
Arivaie Rahman
Penulis Kolom

Arivaie Rahman, M.A. Akademisi dan peneliti tafsir nusantara, lulusan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Meminati studi Alquran, tafsir, hermeneutika, pemikiran Islam klasik dan kontemporer.

Surah Yasin yang Tak Berhenti Ditafsirkan

1 A Surah Yasin

Penafsiran Al-Qur’an terus berkembang seiring dengan menyebar dan meluasnya ajaran Islam dari generasi ke generasi di Nusantara. Di antara 114 surah-surah Al-Qur’an, ada satu surah yang sering menjadi bacaan serimonial, menjadi wiridan, bahkan menjadi amaliyah sekali dalam sepekan, tepatnya malam Jumat, terutama bagi kalangan muslim tradisionalis, seperti NU dan organisasi penganut Aswaja lainnya. 

Terlepas dari kontroversi dan perdebatan dengan golongan yang “anti-Yasinan”. Surah Yasin memang selalu menjadi bacaan paling mudah dilantunkan, bahkan dibacakan sambil berpejam mata oleh orang-orang yang telah sepuh akibat seringnya surah ini di-replay ulang dalam keseharian.

Surah fenomenal ini merangsang para mufasir Nusantara untuk “turun gunung” bertanggung jawab “menjiwakan” Al-Qur’an ke dalam hati orang awam, sehingga diharapkan surah Yasin bukan hanya sekedar “dilisankan”, tetapi dimengerti, dipahami, dan direnungi maknanya.

Bukan sedikit tindakan konkret yang telah dilakukan oleh para mufasir Nusantara untuk melekatkan Al-Qur’an dalam kehidupan melalui produksi teks tafsir Surah Yasin, di antaranya ialah KH. Ahmad Sanoesi (w. 1950). Beliau menulis tafsir berbahasa Sunda-Pegon dengan judul: Tafrīj al-Qulūb al-Mu’min fī Tafsīr Kalimat Sūrat al-Yāsīn.

Orang berikutnya yang bertungkus lumus pada kerja yang sama ialah KH. Bisri Mustafa (w. 1977). Ia memberi judul Tafsir Surah Yasin (1954), tafsir ini beraksara Pegon dan merujuk pada tafsir-tafsir populer dipakai “ngaji” di pesantren Nusantara, yakni Tafsir al-Jalalain, Tafsir al-Baidhawi, dan Tafsir al-Munir

Pada abad ke-21, karya-karya penulis Indonesia yang fokus menafsirkan surah Yasin semakin berkembang dan semarak dipublikasikan. Tercatat ada sembilan judul yang dihasilkan oleh penulis Indonesia yang terinventarisir melalui opac Perpustakaan Nasional Jakarta. 

Empat karya di antaranya ditulis oleh masing-masing satu orang penulis, yaitu: Muhammad Said, Pesona Surah Yasin, (Jakarta: Gema Insani, 2008); Syamsuddin Noor, Misteri Surat Yasin (Jakarta: al-Mawardi Prima, 2009); Sulaiman al-Kumayi, Membedah Jantung al-Qur’an: Memahami dan Mendalami Makna yang Terkandung dalam surat Yasin, (Semarang: Pustaka Nuun, 2009); dan karya Abdul Aziz Sukarnawadi, Detak Nurani al-Qur’an: Tafsir Sufi Surat Yasin, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2015). 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Terdapat pula dua karya tafsir yang ditulis oleh satu orang penulis, yakni Achmad Chodjim. Ia menulis karya berjudul: Menerapkan Keajaiban Surah Yasin dalam Kehidupan Sehari-hari (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2011), dan menulis judul yang sama dengan Syamsuddin Noor, Misteri Surah Yasin (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta 2013). 

Selain ditulis secara individual, tafsir Surah Yasin di Indonesia juga ditulis secara kolektif, misalnya karya: Asep Rahmat dan Dera Nugraha, Rahasia Surah Yasin: Memahami Makna Jantung al-Qur’an berdasarkan Tafsir Klasik dan Modern (Jakarta: Qalam, 2018).

Kemudian karya Enceng Saefuddin dan Ali Abdurrahman, Tafsir Surah Yasin: Menguak Kisah dibalik Jantung al-Qur’an (Bandung: Tinta Biru, 2009). Begitu pula karya tafsir Surah Yasin yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, Jantung al-Qur’an: Tafsir Surah Yasin, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2015). Karya ini dieditori oleh Muchlis M. Hanafi, Wakil Direktur Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) Jakarta. 

Selain judul-judul di atas yang merupakan buah karya penulis Indonesia, ternyata karya terjemahan tafsir surah Yasin telah duluan hadir. Misalnya karya Hamamiy Zadah, Terjemah Tafsir Surat Yasin, (Semarang: Toha Putra, 1993); Mudhahiri, Tafsir Surah Yasin Aqidah dan Makrifah, (Jakarta: Hudan Press, 1998); Desteghib, Tafsir Surah Yasin (Jakarta: Cahaya, 2005); dan karya Mohsen Qiraati, Tafsir Untuk Anak Muda: Surah Yasin, (Jakarta: al-Huda, 2005).

Bila dianalisa secara mendalam, usaha untuk menginterpretasikan surah Yasin terus mengalami peningkatan. Awal kemunculannya tafsir surah Yasin hanya ditulis oleh segelintir tokoh kharismatik, terutama kyai pesantren. Penyebarannya pun terbatas di komunitas tertentu, khususnya para santri yang mengerti aksara Pegon, berasal dari suku Sunda atau Jawa.

Akhir-akhir abad ke-20 geliat dan usaha penerjemahan terhadap karya-karya tafsir surah Yasin berbahasa Arab kian masif. Tafsir Hamamiy Zadah menjadi satu di antara tafsir surah Yasin yang fenomenal dan mendapat ruang terhormat di pesantren-pesantren tanah air. Maka tidak heran bila sejak tahun 1993 tafsir Hamamiy telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Memasuki abad ke-21 bukan tambah redup, tafsir surah Yasin semakin bertambah, baik secara individual maupun secara kolektif. Menariknya, Kementerian Agama meski hadir terlambat, mewakili karya tafsir yang ditulis dari kalangan pemerintah, turut serta berpartisipasi untuk menggagas tafsir surah Yasin. Ini menjadi sebuah apresiatif, keabsahan dan legalitas terhadap tafsir-tafsir yang lebih dahulu hadir

Belajar dari realita di atas, tidak perlu merisaukan masa depan tafsir surah Yasin di Indonesia. Sebab, selagi surah Yasin masih dibaca pada agenda-agenda pertemuan, syukuran, jumatan, kematian, dan tahlilan. Selama itu pula surah Yasin akan terus mendapat perhatian untuk dipelajari, diterjemahkan, dan ditafsirkan lebih jauh.

Baca juga:  Gemuruh Hati Melepas Anak Berangkat ke Pesantren
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
1
Terinspirasi
1
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top