Sedang Membaca
Semesta Muhammad Iqbal (4): Filsafat Pendidikan Iqbal

Penulis Buku Penjara Perempuan (2020). Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo dan alumnus MASTERA ESAI 2019

Semesta Muhammad Iqbal (4): Filsafat Pendidikan Iqbal

Whatsapp Image 2020 08 18 At 11.23.05 Pm

Muhammad Iqbal adalah pemikir dan filosof muslim mahsyur sejak beratus tahun yang lalu. Ia dilahirkan pada tahun 9 November 1877 menurut penelitian S.A. Vahid. Ia berasal dari kasta brahmani, di wilayah Punjab Barat.

Dididik dan dibesarkan oleh pendidikan maktab (madrasah), lalu sekolah di Scottish Mission School. Di sekolah ini ia mendapat pengaruh dari gurunya Mir. Hasan yang mengerti bakat kepenyairannya. Karena kepandaiannya di sekolah, ia bergabung ke Government Collage di Lahore. Pada Goverment Collage ia berguru kepada Profesor Sir Thomas Arnold yang diakuinya telah mengenalkan peradaban Barat dengan sangat baik. Perpaduan Mir Hasan dan bimbingan Sir Thomas Arnold kelak membawa Iqbal mampu menyerap dengan baik nilai-nilai Barat dan Timur.

Tahun 1905, ia menjejak di Universitas Cambridge untuk mempelajari filsafat, dan menjelajahi Jerman untuk menyelesaikan studi di Universitas Heidelberg dan Munich. Disertasinya diterbitkan di London di tahun 1908 dengan judul The Development Metaphysics in Persia.

Pada tahun yang sama, Iqbal menerbitkan karya puisinya berjdul Shikwah (Pengaduan Kepada Tuhan) dalam bahasa Urdu. Tiga tahun setelah itu, tahun 1915 terbit karya puisinya Asrar-I-Khudi (Rahasia Diri) dalam bahasa Persia. Tahun 1917 terbit buku puisinya Ramuz-I-Bekudi (Misteri Peniadaan Diri) dalam bahasa Urdu. Dan menyusul karya berikutnya berjudul Bang-I-Dara (Genta Lonceng Kafilah) terbit dalam bahasa Urdu. Tahun 1924, terbit buku puisinya yang merupakan respon Faust dari Goethe berjudul Payam-I-Mashriq (Pesan dari Timur).

Di tahun 1927 terbit buku puisinya dalam bahasa persia Zabur-I-Ajam. Satu tahun berikutnya, terbit kumpulan ceramah sekaligus kuliah Iqbal dengan judul The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Pembangunan Kembali Pemikiran Keagamaan dalam Islam). Buku ini mendapat tanggapan dan respon dari barat maupun dari timur. Dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa indonesia.

Filsafat Iqbal adalah perpaduan antara dunia Barat dan Timur. Iqbal mencari dan menyelami Barat untuk menemukan Timur. Setelah ia belajar filsafat ke Barat, saat di Cambridge, maupun Munich, ia mendalami filsafat Barat. Dan dari sana ia tidak menemukan selain dari filsafat barat yang keropos. Ia menyebut peradaban barat seperti sarang yang dibangun di atas kerapuhan dahan. Walau begitu, ia tidaklah menolak sepenuhnya pada sajaknya ia mengatakan : Singkirkan Timur dan jangan merindukan Barat/ karena yang demikian itu tidak bernilai/ sadarilah bahwa pribadi itu bukan Timur dan bukan pula Barat/ suatu mutiara yang berharga jangan kau hipotesakan/meskipun dengan tangan malaikat jibril.

Sebelum menelisik lebih lanjut filsafat pendidikan Iqbal, mari kita lihat bagaimana pandangan Iqbal tentang pengetahuan. Dalam sajaknya Asrar-e Khudi ia menulis : Mendapatkan informasi tentang pengetahuan dan ilmu/ bukanlah satu-satunya tujuan/ kuncup dan kembang tidak mungkin menggantikan padang rumput/ pengetahuan haruslah menjadi alat/ untuk memelihara kehidupan/ pengetahuan haruslah menjadi alat/ untuk menyatakan dan menegaskan diri. Bila Descrates mengatakan aku berpikir maka aku ada, maka bagi Iqbal, saya berbuat maka saya ada (I act, therefore I exist). Ego barulah punya arti bila kontaknya dengan Supreme Ego (Tuhan) tetap intim dan membara (Maarif, Syafii Ahmad, 1985 :125).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Tentang "Kerata Basa": setelah "Pasa" lalu "Bada" dan "Kupatan"

Miss Luce dan Claude Matre (1985) menulis pandangannya tentang filsafat Iqbal dengan mengatakan:

“Filsafat Iqbal adalah filsafat yang meletakkan semua kepercayaannya pada manusia yang dilihatnya memegang kemungkinan tak terbatas, kemampuan mengubah dunia dan dirinya sendiri. Sebab pada hakikatnya manusia adalah pencinta”

Ahmad Syafii Maarif pernah menuliskan satu bab tulisan tersendiri mengenai filsafat pendidikan Muhammad Iqbal dalam bukunya Islam dan Politik : Upaya Membingkai Peradaban (1999). “Iqbal tidak mewariskan kepada kita suatu pemikiran yang utuh tentang pendidikan. Maarif hanya mengutip sajak Iqbal yang berkaitan dengan pemikirannya tentang pendidikan. Ta’lim Aur Us Nataij (Pendidikan dan Konsekuensi-konsekuensinya) Iqbal melihat sisi positif dan negatif pendidikan Barat.

“Kita percaya bahwa pendidikan, yaitu sistem pendidikan Barat/ akan membawa kemakmuran/ Tetapi kita hanyalah mengenai sedikit/ Bahwa pendidikan itu akan membuahkan ateisme.” Dalam pesannya kepada kita ia juga memberikan penilaiannya tentang Barat dan Timur. Di Barat, intelek merupakan sumber kehidupan/ sedangkan di Timur, cinta dasar kehidupan/ melalui cinta intelek tumbuh berkenalan dengan realita. Sedangkan intelek memberikan keseimbangan kepada cinta/ menimbulkan dan membentangkan dunia-dunia baru/ dengan menyatukan intelek dengan cinta.”

Fazlur Rahman memberikan pendapatnya tentang bagaimana filsafat pendidikan Iqbal. Dalam bukunya Islam dan Modernitas (1985) Rahman menulis: “ Iqbal tidak menulis filsafat pendidikan, apalagi suatu program pendidikan kaum muslimin. Iqbal sedang mencari suatu sistem pendidikan yang tidak saja “berpengetahuan” tapi juga kreatif dan dinamis. Mengenai kaum ulama ortodoks dan kaum sufi ia menulis: “Tuhan, aku mengadu kepada-Mu perkara para guru itu: Mereka mengajar anak-anak Rajawali untuk berkubang di lumpur.”

Pesan Kerudung Bergo
Baca juga:  Puisi dan Kiai

Kecaman Iqbal terhadap pengetahuan modern ia lontarkan dalam sajaknya : Mata yang memandang mencucurkan air mata darah/ pengetahuan modern telah menjadi perusak agama. Iqbal khususnya mengecam keras pengetahuan modern yang baginya nampak hampir seluruh condong kepada teknologi materialisme dan merusak nilai-nilai manusia yang lebih tinggi ( Rahman, Fazlur, 1985 :66). Kritiknya pada pengetahuan, atau filsafat barat ia tuangkan dalam sajaknya Hikmah dari Barat dalam bukunya Pesan dari Timur(1985): Kematian adalah seluruh nafas hidup filsafatnya/inilah cuma yang dipikirkan ilmu pengetahuan/ kapal selamnya adalah buaya-buaya raksasa/ penuh tipu daya dalam merampok.

Ada satu buku yang saya temukan cukup menarik yang membahas filsafat pendidikan Iqbal yang sejalan dengan pemikiran Fazlur Rahman yang menilai bahwa filsafat pendidikan Iqbal yang berpangkal pada penilaian manusia sebagai makhluk yang memiliki nilai-nilai tinggi. Buku itu ditulis oleh K.G.Sayidain dengan judul Iqbal’s Educational Philosophy (1945). Konon buku ini jadi rujukan ketika membahas filsafat pendidikan Iqbal.

Sebagaimana yang dikatakan Syafii Maarif, buku  karangan Sayidain ini pun pada akhirnya membahas pemikiran Iqbal dalam puisinya. Ini seperti yang dikatakan oleh Haidar bagir bahwa meski karya Iqbal kebanyakan dalam bentuk puisi dan sajak, namun tak bisa dipungkiri Iqbal memiliki andil besar dalam pembangunan intelektual islam. Sebagaimana yang dituliskan oleh K.G. Sayidain saat menuliskan pandangannya tentang filsafat pendidikan Iqbal ia mengatakan : “in the vision of life which Iqbal’s poetry opens out before us, Intellect, Action and Love are fused into an integral and dynamic unity which can even defeat the machinations of Death by making man’s Individuality indestructible What a miserable contrast does our ordinary education provide to the education which this great vision postulates!” (h. 150).

Baca juga:  HTI versus NU: Lalu Lainnya Melakukan Apa?

Iqbal dalam pandangan K.G. Sayidain membagi bagaimana pendidikan mendidik manusia yang berkarakter. Ada beberapa ciri atau sifat manusia berkarakter yang seharusnya dihasilkan dalam dunia pendidikan. Pertama, melakukan usaha yang aktif dan berjuang (active effort and struggler). Sikap ini diwujudkan dengan kreatif dan autentik (creative and original), maksudnya ia aktif berhubungan dengan lingkungannya dan dinamis dalam mewujudkan cita-cita dan tujuannya. Kedua, karakter manusia yang mesti dimiliki adalah mempraktikkan ilmu yang dikuasainya untuk mengeksplorasi sumber daya alam dengan kekuasaan dan pengetahuannya. Inilah yang disinggung Iqbal bahwa manusia memiliki tugas kekhalifahan dalam memimpin dan mengubah dunia dengan mendekat kepada Tuhannya.

Menurut Iqbal pendidikan kita selama ini didominasi oleh rasa takut yang ditimbulkan oleh ibu maupun perawat bayi, belum lagi ditakuti imajinasi hantu dan setan, di sekolah anak-anak juga ditakuti oleh gurunya dan opini publik yang tidak rasional, sehingga anak sulit untuk berani. Padahal keberanian adalah salah satu karakter yang perlu ditanamkan dalam dunia pendidikan.

Pada akhirnya filsafat pendidikan Iqbal adalah upaya menggali sikap dan autentisitas manusia sebagaimana yang dikehendaki Tuhan, sehingga dengan begitu ia bisa berfikir kreatif dan mampu mengolah apa yang ada di masyarakat, alam dan dunia pada umumnya. Kemampuan itu tentu saja dilandasi dengan kesadaran eksistensial kepada Tuhan sebagai puncaknya Ego yang membimbing dan menuntun manusia. Karena itulah, filsafat pendidikan Iqbal amat erat dengan nilai-nilai relijiusitas yang aktif dan kreatif.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top