Sedang Membaca
Pendidikan Pesantren (4): Menabur Benih Kepemimpinan dari Pesantren

Penulis Buku Penjara Perempuan (2020). Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo dan alumnus MASTERA ESAI 2019

Pendidikan Pesantren (4): Menabur Benih Kepemimpinan dari Pesantren

Whatsapp Image 2022 10 25 At 20.40.07

Dunia pesantren adalah dunia yang luas. Seluas rambut kita. Bila kita menghitung satu persatu rambut kita, seperti tidak ada habisnya. Begitupula dengan pesantren. Pesantren nampak biasa dari luar. Ia seperti rumah burung dara. Tidak ada yang istimewa, tetapi mengapa sistem pendidikan berbasis pesantren diam-diam menjadi pilihan dan idaman banyak orang?. Sebagai sistem pendidikan tertua di Indonesia , ia memiliki kekhasan dan tradisi yang dipertahankan sampai sekarang.

Banyak orang kembali kepada sistem pendidikan pesantren karena kerinduan mereka pada sistem pendidikan tradisional sebagai anti tesis sistem pendidikan barat. Orang tua banyak menganggap bahwa pesantren sebagai sistem pendidikan yang masih murni. Belum tersentuh dari pengaruh luar. Selain itu, orangtua merasa bahwa anak-anak mereka memerlukan bekal pengetahuan agama yang cukup sebelum menghadapi dunia luar yang dinilai banyak tantangan yang lebih luas. Pesantren dipilih karena dianggap mampu membentuk mentalitas anak, mendidik anak-anak mereka berproses dan memiliki bekal agama yang cukup.

Pergeseran pola asuh yang ada di masyarakat modern telah mengubah orangtua bukanlah sentral dalam pengasuhan. Era sekarang bukan lagi era Agus Salim yang mendidik anak-anak mereka dari rumah. Krisis ini muncul karena faktor ekonomi serta pergeseran masyarakat kita. Migrasi perempuan ke ruang publik ikut mempengaruhi bergesernya pola asuh anak. Dulu ibu adalah sentral dalam mendidik anak-anak kita, sedangkan lelaki biasanya bekerja.

Saat ini, kaum perempuan dengan bekal pendidikan yang cukup tinggi, mereka merasa bahwa mereka memerlukan kerja/ karir. Pergeseran ini membuat anak-anak mereka dididik oleh kakek, nenek, atau pengasuh yang sering bukan dari keluarga mereka sendiri.

Baca juga:  Timur Tengah dalam Sastra Indonesia: Menimbang Kontribusi Fudoli Zaini (2/2)

Hillary Clinton dalam bukunya It Takes A Village (1996) menulis : “sejak mereka baru dilahirkan, mereka bergantung pada  sejumlah orang dewasa lain, kakek, nenek, tetangga, guru, pendeta, pekerja, tokoh politik, dan entah siapa lagi yang menyentuh mereka baik secara langsung maupun tidak langsung. ”Di Jawa, pendidikan biasanya berpusat pada Ibu atau perempuan. Tetapi, pergeseran pola asuh di masa sekarang membuat anak-anak kita tidak dididik lagi oleh ibunya. Menjadi ibu tidak lagi merasa bertugas mendidik anak.

Pergeseran ini membuat ibu atau calon ibu merasa tidak terlalu mementingkan ilmu pengasuhan. Saat mereka merasa anak-anak mereka memerlukan didikan dari orang lain, maka mereka tinggal mengajak lembaga pendidikan atau sekolah untuk mendidik anak-anak mereka.

Pendidikan pesantren menjadi salah satu pilihan dengan kesadaran dan harapan bahwa orangtua belum banyak pengetahuan atau bekal untuk mendidik anak mereka dalam urusan agama. Mereka para orangtua berharap dengan memasukkan anak mereka ke pesantren, anak mereka punya cukup bekal.

Dalam pendidikan pesantren itulah, nilai-nilai pendidikan karakter yang ada di sana diharapkan bisa mendidik dan mengawal santri-santrinya memiliki pribadi yang kuat dan mentalitas yang tahan banting.

Semakin terkikisnya pendidikan adab dan moral membuat orangtua membawa anak mereka ke pesantren. Mereka orangtua berharap setelah masuk ke pesantren, anak-anak bisa menjadi lebih baik.

Baca juga:  Anjing dalam Masyarakat Arab: Dipelihara Istri Nabi hingga Menjadi Teman Sufi

Pola pendidikan pesantren yang khas dan juga holistik memungkinkan murid atau santri bisa belajar lebih banyak dengan gurunya. Santri bisa mengamati, melihat dan meneladani apa yang ada dalam hidup kyai sehari penuh.

Saya membaca kisah Dahlan Iskan di harian Dis’way . Dahlan Iskan ditawari banyak gelar Profesor kehormatan dari berbagai kampus luar negeri dan dalam negeri. Ia adalah lulusan Madrasah Aliyah dari sebuah Pesantren di pelosok Magetan Jawa Timur. Nama pondok pesantren itu adalah Sabilil Muttaqin. Dahlan Iskan dibesarkan dan dilahirkan dari rahim pesantren. Siapa sangka pesantren mendidik santrinya menjadi pemimpin yang tawadu’. Inilah yang akan saya bahas di dalam tulisan ini.

Sebagai pendidikan tertua di Indonesia, pesantren telah berkontribusi nyata dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, serta memberi sumbangsih besar terhadap penyebaran warna dakwah Islam yang rahmatan lil ngalamin. Pesantren turut serta menyebarkan Islam yang toleran, inklusif dan penuh rahmat.

Dalam mengembangkan nilai-nilai Islam yang damai dan toleran, pesantren tidak bisa dilepaskan dari peranan Kiai. Kiai menjadi model sekaligus panutan santri dalam bertindak, belajar agama, juga belajar kehidupan secara lebih luas. Kiai biasanya tinggal di pesantren dan hidup selama 24 jam penuh di asrama. Sehingga para santri di pesantren dapat melihat utuh kehidupan Kiainya dan meneladaninya lebih utuh.

Seorang Kiai memiliki peran dalam menyaring nilai-nilai yang perlu untuk pengembangan pesantrennya. “Kiai berperan sebagai alat penyaring informasi yang masuk ke dalam lingkungan kaum santri, menularkan apa yang dianggap berguna dan membuang apa yang dianggapnya merusak.” (Soebahar, Abdul Halim, 2013 : 7).

Baca juga:  Gus Dur dan GUSDURian

Peranan Kiai tidak sebatas sebagai benteng dari nilai-nilai yang dianggap merusak apa yang sudah menjadi bangunan pendidikan pesantren, namun Kiai juga ikut serta menabur bagaimana benih-benih kepemimpinan tumbuh dan berkembang dalam dunia pesantren.

Seorang Kiai dianggap memiliki kharisma dan kemampuan agama yang mumpuni. Sehingga Kiai dihormati, dijunjung dan sedikit dimitoskan dalam dunia pesantren.

Azyumardi Azra dalam bukunya Pendidikan Islam : Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (2000), ia menulis “ Posisi Kiai salah satu elemen terpenting di pesantren, dia adalah sosok yang disegani, maka tidak heran Kiai memiliki beberapa kemampuan dan kedudukan, antara lain : beliau sebagai arsitektur, pendiri, pengembang, dan juga pemimpin atau manajer.”

Sebagai orang yang memiliki pengetahuan, kemampuan memanagerial, sampai dengan orang yang menjadi pusat dalam pendidikan pesantren. Kiai memiliki peranan strategis dalam membuat perubahan secara nasional maupun global. Dari apa yang mereka ajarkan kepada santrinya, perubahan itu pun menjadi komunal atau masyarakat bukan sekadar revolusi individu.

Revolusi pesantren bukanlah revolusi besar-besaran, ia lebih merupakan revolusi mental. Mental yang konstruktif, kontributif, dan mental yang merdeka, itulah mentalitas yang hendak dicapai dan diwujudkan dari kelahiran pesantren.

Sistem pendidikan pesantren dibuat untuk membuat transformasi yang besar sebab santri nantinya diharapkan menjadi agen atau pemimpin yang berkontribusidi masyarakat.

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top