Sedang Membaca
Schuon: Sisa Manusia yang Berpikiran Perenial
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Schuon: Sisa Manusia yang Berpikiran Perenial

Antok Agusta

Dari sebagian orang penggila buku dan bacaan, nama Frithjof Schuon betapa sangat menggetarkan hati dan perasaan. Termasuk saya ada di dalamnya. Saya masih mampu merasakan getaran hebat usai membaca buku terjemahannya, Memahami Islam (dari; Understanding Islam), yang diterbitkan Pustaka Salman Bandung.

Tercengang dibuatnya, ternyata ada orang yang memiliki iman begitu kuat terhadap Islam dengan cara pandang dan keyakinan sendiri, seolah-olah tak dipengaruhi oleh faktor apa pun selain unsur Islam itu sendiri: Allah, Muhammad Saw & Sunnahnya, Alquran, dan jalan cara menempuhnya.

Kalimat pertama pada Memahami Islam itu telah menjadi pernyataan klasik: “Islam is the meeting between God as such and man as such…. Islam confronts what is immutable in God with what is permanent in man.” (Islam adalah pertemuan antara Tuhan sebagaimana adanya dan manusia sebagaimana adanya. Islam menghadapi apa yang abadi dalam Tuhan dengan sesuatu yang tetap dalam diri manusia).

Betapa berbeda cara dia beriman dan memeluk Islam dibandingkan saya yang mengandalkan dogma dan rukun biasa. Dia menjelaskan Islam dengan bahasa yang sangat tegas, tak berbelit-belit, langsung pada pokok, tanpa kompromi. Argumen yang dia ajukan tidak lagi menjadi alibi, melainkan kredo.

Betapa menakjubkan, hingga saya begitu gelisah dan ingin tahu orang macam apakah dia, yang khazanah pengetahuan tradisinya begitu luas, seakan-akan menjadi segelintir orang yang khusus dipilih untuk menjaga hikmah dan tradisi primordial, asli, itu agar tidak sampai lenyap dari muka bumi. Padahal, seorang profesor sempat berkomentar bahwa dia “terlalu mengerikan, menakutkan” dengan segala kapasitas dan kemampuan yang dimiliki itu.

Sudah tak terhitung berapa banyak para cendikia berpendapat bahwa tulisannya sungguh sukar dimengerti dan dipahami. Yang menyebabkan barangkali bahasa dalam menjelaskan masalah ruhani dan spiritualisme memang selalu imajinatif, penuh metafora, bersayap, dan diawang-awang. Diperlukan kemampuan khusus, teliti dan tertentu pula untuk memahami wacana itu.

Sekelas Seyyed Hossein Nashr saja, salah seorang murid dan penerusnya, butuh sekira dua tahun untuk membaca, menyelesaikan sekaligus mengerti secara dalam tentang buku Memahami Islam. Sempat dia sampaikan, meskipun tipis, buku itu sangat sukar.

 

Awalnya, saya berpikir tak ada sesuatu yang membuat kenapa buku ini sebegitu pentingnya. Tapi sekarang, bila saya mengenang kembali kehidupan saya dulu, ketika masih menjadi mahasiswa seni yang sedang tertarik belajar kajian agama, hampir lebih dari lima tahun setelah saya mulai membacanya, baru kemudian saya menemukan alasan untuk memahami, mengerti, memaknai dan menghargainya. Dalam benak terdalam, bagaimana mungkin saya yang baru bisa cuman membaca empat buku terjemahannya?

Frithjof Schuon memang luar biasa. Sepanjang hidupnya, dia telah menulis hampir 25 buku. Semuanya bertopik sangat pelik dan misterius: kesejatian manusia dan hikmah yang menjadi khazanah kehidupan manusia. Di Indonesia, lima bukunya sudah diterjemahkan, yaitu; Memahami Islam, Mencari Titik Temu Agama, Islam dan Filsafat Perenial, Akar Kondisi Manusia, dan Transfigurasi Manusia. Selain menulis, dia juga seorang satrawan penyair dan perupa mistik. Buku puisinya yang terkenal adalah Songs for a Spiritual Traveler, yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Tulisan Schuon selalu bertemakan tentang bayang-bayang pencarian dan hubungannya dengan sifat hakikat semesta, namun jauh dari sudut pandang normal. Cakupan pemikiran intelektualnya sekaya pengalamannya menjelajahi sudut-sudut bumi menemui suku-suku dan kelompok mistik, yang tradisonal ataupun sekte agama. Selama dapat bertaut dengan spiritualisme dan perenialisme, ketertarikannya selalu besar.

Baca Juga:  Kisah Asmara Para Ulama

Tak mengherankan apabila dia melakukan kajian hampir disemua ranah: perbandingan agama dan tradisi, perkembangan teori evolusi, feminisme, kritik kebudayaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dia mencari benang merah makna penciptaan manusia secara rendah hati: untuk terus berhubungan dengan ahli spiritual, menyaksikan, sekaligus belajar langsung kepada mereka yang menguasai, mempraktikkan, dan memelihara tradisi itu.

Sejak muda, ketika masih menjadi mahasiswa di Paris, dia sudah mulai melakukan berbagai perjalanan menjelajahi Afrika Utara, Timur Dekat, Mesir, juga Turki. Di Asia dia mendalami budaya Jepang, India, Tibet; hal itu yang membuat dia akrab dan menguasai dengan baik pemikiran Shinto, Hindu, Buddha, Tao.

Di hampir akhir hayatnya dia pindah ke Amerika untuk bergabung dengan suku Indian, yang tarian ibadah, falsafah hidup, seni, dan berbagai aspek lainnya menarik perhatian dia sejak Perang Dunia Ke-2. Karena itu dia sempat tinggal di banyak tempat, paling lama di Swiss, sekira 40 tahun, dan Amerika Serikat, sekira 18 tahun, yang dia tinggali sejak 1980 hingga 1998, yakni tahun kematiannya.

Suatu ketika, dia membawa sekte marabout Hitam ke Swiss untuk mempertunjukkan budayanya pada masyarakat Barat, Schuon berbicara kepada mereka, seorang lelaki yang dituakan kelompok itu menggambar lingkaran dengan batang radii di tanah dan menjelaskan, “Tuhan berada di pusat, seluruh jalan menuju kepada-Nya.” Maka pencarian Schuon pada Tuhan dan jalan menuju Dia menjadi satu-satunya tujuan.

Kadang-kadang itu harus dia lakukan dengan cara yang sangat berbahaya: menyelami hakikat seluruh agama Dunia, memilah-milah tradisi yang masih murni, menelusuri kitab-kitab ajaran tua yang membutuhkan kejelian, kedetailan yang sungguh luar biasa, meloncat-loncat melintasi perbedaan antaragama. Mencari Titik Temu Agama, buku pertamanya, merupakan bukti sangat kuat betapa upaya tersebut dia lakukan secara serius.

Perbedaan tradisi, ibadah, istilah, pandangan, baginya menjadi semacam kekayaan intelektual, yang akhirnya akan mengantarkan manusia pada Penciptanya. Semua itu tampak seperti ribuan aliran sungai yang akhirnya menyatu menuju laut. Lautkita tahutak pernah tumpah atau banjir meski terus-menerus diisi air dari seluruh sudut daratan.

Titik temu itulah yang dia cari terus-menerus dalam semua khazanah kebudayaan manusia, bukan menonjolkan atau meniadakan salah satu jalan setapak menuju Tuhan. Nama Muslimnya, Muhammad Isa Nuruddin, mencerminkan semangat itu bahwa perbedaan sebenarnya bisa menjadi akar yang mampu mengantarkan manusia sampai pada sumber Cahaya.

***

Schuon lahir pada 18 Juni 1907 di Basel, Swiss. Ayahnya seorang pemain biola, keturunan Jerman, ibunya dari ras Alsatia. Ayahnya tidak hanya menghadirkan khazanah musik, tetapi juga pustaka dan kehidupan spiritual yang sangat kental. Sepeninggal ayahnya, ketika dia masih kanak-kanak, ibu membawa dia dan saudaranya kembali ke keluarganya di Mulhouse, Prancis, menjadi penduduk di sana. Kehidupannya di Prancis itu membuat dia menguasai bahasa ibunya, selain Jerman.

Pencariannya pada mistisisme membuat dia mulai membaca Upanishads, Bhagavad Gita, dan karya-karya filsuf-orientalis Prancis Rene Guenon. Guenon juga yang sejak awal mendukung gerak hati intelektualnya, selain membimbing ajaran mistisisme yang mulai dia bangun. Baru, setelah berkoresponden lebih dari 20 tahun, mereka bertemu di Mesir pada 1939 dalam perjalanan ke-2 Schuon ke sana. Benarlah yang diyakini para Sufi itu, yakni tidak hanya mereka yang haus mencari mata air. Mata air pun berusaha menemui mereka yang haus.

Baca Juga:  Seakan-akan Allah Mengatakan: Kenapa Kalian Tidah Berpikir?

Dari Mulhouse dia pindah ke Paris bekerja sebagai desainer tekstil sekaligus belajar bahasa Arab di sebuah masjid. Di sini kesempatan dan minatnya pada berbagai bentuk seni tradisi semakin dalam dan menjadi. Apalagi pada 1932 untuk pertama kalinya Schuon mengunjungi Aljazair dan bertemu seorang wali qutub sufi abad ke-20 (penguasa spiritual tertinggi sebuah masa yang kepadanya bergantung eksistensi kosmos), bernama Syaikh Ahmad al-‘Alawi. Pertemuan itu mengukuhkan pencariannya pada nilai-nilai luhur dalam tradisi kehidupan manusia.

Pada 1939, tak lama setelah dia tiba di India, Perang Dunia II meletus. Keadaan itu membuatnya terpaksa kembali ke Eropa. Di Prancis dia menjalani wajib militer, namun kemudian ditawan Jerman. Dia mencari suaka ke Swiss, hingga membawanya menjadi warganegara di sana saat usia dewasanya, dan menjadi tanah air utamanya.

Di Swiss inilah dia menghasilkan banyak buku yang ditulisnya dalam bahasa Prancis, menjadi eksponen paling penting untuk gerakan perenialisme dan tradisionalisme. Sepanjang itu pula dia secara berkala menerima kunjungan ilmuwan dan pemikir agama terkemuka baik dari Barat dan Timur salah satunya adalah Profesor Huston Smith.

Sepuluh tahun berlalu, tepatnya 1949, dia menikah dengan seorang pelukis perempuan Jerman-Swiss yang sama-sama tertarik pada agama dan metafisika. Bersama sang istri pula dia akhirnya pindah ke Amerika untuk tinggal bersama orang Indian (terutama Sioux and Crow), sejak 1980.

***

Kenapa Schuon terus-menerus menulis dan menyebarkan keyakinannya itu? Dalam wawancara dengan Sacred Web, dia menyampaikan tujuannya untuk mengajak kepada orang lain juga agar terus-menerus beribadah, berdoa. Menjadi manusia esensinya adalah harus berhubungan dengan Tuhan. Hidup tak ada maknanya tanpa itu. Kita hidup di antara berbagai bentuk, namun tidak tidak melayang di awan.

Baca Juga

Maka yang pertama kali kita butuhkan adalah ibadah. Kemudian: kembali ke Alam! tegasnya. Dalam Islam, salah satu bentuk ibadah adalah zikir. Baginya, zikir mengandung seluruh hukum, konvensi, tatanan, dan merupakan nalar bagi keberadaan seluruh hukum yang dia maksud dan pahami secara Ilahiah.

Apa sebenarnya makna ibadah? Menurut Schuon, ibadah membuat orang menjadi mulia, mengetahui sifat sejatinya (yakni ruhul qudus), dan dengan itu manusia tak akan pernah kehilangan pandangan pada cahaya simbol, tanda-tanda Tuhan. Sebagai eksponen sejati gerakan Sophia Perennis, dia selalu berusaha menjelaskan sifat sejati manusia, berusaha mengingatkan kita agar kembali kepada asal keadaan spiritual. Seperti sufi lain, dia juga yakin bahwa kehidupan manusia ini menanggung kesaksian terhadap sifat asal itu.

Menurutnya, pada tingkat spiritual, setiap manusia membutuhkan tiga hal yaitu: kebenaran, praktik spiritual, dan moral. Ketiga hal itu dikandung oleh metafisika, esoterisme, perenialisme, tradisi. Pemahaman mendalam pada simbol agama adalah esoterisme itu. Esoterisme murni bersemayam di setiap agama. Apakah dia begitu yakin? Tampaknya iya.

Pandangan esoterisme berdasar pada ruhul qudus, yang bersifat sempurna karena merupakan penglihatan intelek sejati, bersumber dari wahyu. Esoterisme, metafisika, sufisme memuaskan kebutuhan terhadap bakat intelektual manusia. Maka perhatian metafisika tidak hanya pemikiran, melainkan seluruh keberadaan manusia jauh melampaui filsafat dan agama dalam makna biasa yang terkandung dalam kata tersebut.

Keyakinan ini sekali lagi tentu saja sangat mengejutkan, jika mengingat betapa materialisme, ateisme, agnostisme, seakan-akan menjadi sesuatu yang tak bisa dibantah menyertai manusia modern, tak bisa dipisahkan darinya yang hidup di dunia barat dan dikelilingi oleh budaya barat yang sekular dan duniawi. Apalagi semua pendapat itu dibela dan dirayakan oleh para filsuf, pemikir, seniman, bahkan selebritis. Betapa beda Schuon dengan Nietzsche, misalnya. Atau dengan mereka yang dengan gagah melemparkan Tuhan ke sudut gelap hatinya, seakan-akan Dia adalah sesuatu yang layak ditertawakan seperti Dante dalam Divine Comedy-nya.

Baca Juga:  4 Estetikawan Muslim Abad Pertengahan

Seruan ituyang dilakukan Schuon bersama kawan-kawannyaseakan terlalu mudah menguap dihajar hiruk pikuk kesibukan. Sungguh sangat mengharukan, bahwa masih ada orang yang yakin tentang kerinduan manusia pada Tuhan, jika saat ini kita yang sebenarnya terlalu mudah tergoda oleh dosa, syahwat, tubuh, uang, peperangan, kekuasaan, arogan, korupsi, dan segalanya. Sekali lagi mengharukan sekaligus memprihatinkan, karena bagi sebagian orang keyakinan itu merupakan sasaran empuk bahan tertawaan, satir, dan sinisme.

Akan tetapi, semua itu bisa dibuktikan dengan keyakinan dan seruan Schuon, bahwa semuanya itu bukan hal yang main-main, atau bisa dimentahkan dengan mudah. Pemikirannya, upayanya, buku-bukunya, memberi pengaruh luar biasa pada gerakan perenialisme. Seorang profesor agama, Huston Smith, yang menulis The World’s Religions (Agama-agama Manusia, versi Indonesia, YOI), mengakui pengaruh Schuon dengan mengatakan, “Dia telah memberi banyak makan jiwa saya, yang tidak bisa dilakukan oleh penulis lain yang masih hidup. Dia legenda hidup. Suri teladan zaman. Saya tahu dan yakin, tak ada pemikir lain yang masih hidup dan mampu menandinginya”.

T.S. Eliot, sastrawan besar pendiri Faber & Faber yang menerbitkan buku Schuon edisi Inggris The Transcendent Unity of Religions, juga mengatakan dengan kalimat yang hampir senada, “Saya tak menemukan lagi karya yang lebih mengesankan tentang kajian perbandingan agama Timur dan Oksidental. Karena tulisannya itu, barangkali dia adalah penulis kajian agama yang paling menggugah minat di abad ke-20 ini.

Berbeda dengan penulis dan pemikir umum, tampaknya Schuon barangkali tak pernah menggunakan buku lain sebagai daftar bahan rujukan. Minimal keempat bukunya membuktikan itu. Tampaknya dia lebih mengandalkan intuisi sebagai argumen. Semua pengetahuan intelektual atau pendapat yang dia kutip selalu dibandingkan dan dibenturkannya dengan wacana yang dikuasainya, atau dibuat sintesis dengan cara yang imajinatif. Ini sangat jelas membedakan dia dengan Annemarie Schimmel, misalnya, yang bisa mendaftar rujukan ratusan referensi buku atau catatan kaki hingga puluhan halaman.

Tentu saja, itu pun mengherankan saya. Seolah-olah dia tak membutuhkan pembenaran atau dukungan pendapat dari mereka yang juga pakar. Barangkali dia semata-mata menyandarkan pada sesuatu yang lebih agung dari itu semua, yakni intuisi dan bimbingan ruh dari Yang Maha Kudus. Ya semacam laduni mungkin..

Secara pribadi, saya membaca dan berusaha memahami buku-buku Schuon terasa sangat menegangkan. Sebab seolah-olah dia mengajak saya untuk berkelana menelusuri diri yang paling dalam, yang murni dan tidak membutuhkan apa-apa selain kerinduan-kerinduan pada yang Kudus dan Sang Khaliq Yang Maha Suci. Memang tidak selalu mudah, tetapi bahasa yang imajinatif, argumen yang cerdik, dan keluasan wawasannya menantang kita untuk semakin dalam berusaha masuk pada pusat maknanya nan sejuk, intelektual dan Ilahiah itu.

Yah mungkin, Pak Schuon ini, Anda memang benar-benar penuh misteri dan menyeramkan!?

Yaa Rabb, seperti “hidup” ini…

Lihat Komentar (0)

Komentari