Umat Islam yang Sibuk Sendiri

Amrullah Hakim

“Nabi, saya malas ikut salat Subuh, karena imamnya baca suratnya panjaaang sekali.” Begitu seorang sahabat mengeluh pada Kanjeng Nabi saw.

“Sebagian dari kalian ini ada orang-orang ‘munaffirin’, yang bikin orang lain malah lari, tidak mau salat. Jika kalian jadi imam, pendekkan bacaan, karena di antara kalian ada makmum yang sudah sepuh, ada yang lemah, ada pula yang punya banyak urusan.” Begitulah respon Nabi atas keluhan sahabatnya.

Saya mengutip kalimah-kalimah di ata ayatas dari catatan Ulil Abshar Abdalla, yang tayang dua hari lalu di situs ini.

Keluhan seperti ini jamak terdengar saat ini sejatinya, terutama di masjid-masjid perkantoran di Jakarta, yang ketika salat Jumat, khotbahnya sangat panjang dan seringkali dibumbui oleh politik. Tidak cukup dengan khotbah panjang yang bernuansa politik (umumnya bernada sektarian dan kekuasaan sesaat), bacaan suratnya pun tidak kalah panjang.

Hari ini, kita tahu semua, tema agama menjadi sangat favorit. Di ruang-ruang sosial kita, bahkan di ruang-ruang yang dulu kering pembicaraan agama, sekarang ini riuh rendah: semua orang seperti mengerti agama. Ya, semua orang.

Hijrah, syariah, hijab, halal, umroh, mahram, umrah, sunnah, bid’ah, ukhuwah mudah kita dengar, kita lihat, dan kita rasakan.

Sayang seribu sayang, terma-terma agama (Islam) yang menyeruak di depan mata kita itu berkelindan dengan agenda politik yang justru banyak mendegradasi nilai-nilai Islam yang diperjuangkan Nabi Agung Muhammad saw. Fasih bilang tauthid, tapi justru menghamba pada kekuasaan. Fasih bilang khilafah tapi  a historis. Fasih bilang ukhuwah, tapi justri sektarian. Fasih bilang sunnah Rasul tapi justru bajunya saja. Dan seterusnya.

Dengan kalimat pendek, tema-tema agama yang mengemuka bermuara pada politik tertentu. Bahkan lebih nyata mendukung calon pasang Prabowo-Sandi dalam Pilpres mendatang: dengan simbol-simbol agama.

Baca Juga:  Pertikaian Massa di Indonesia: dari Soal Suku, Ras, sampai Agama

Akhirnya, untuk menghindari hal-hal yang lebih buruk, kubu PDIP, yang juga sebetulnya “sekuler”, sama seperti Gerindra (Pilpres 2009 PDIP-Gerindra berkoalisi. Jangan lupa itu), memilih tema agama juga: KH Ma’ruf Amin. Agama “ditarungkang” dengan agama.

Majalah Economist, disebutkan bahwa Pak Ma’ruf Amin, usia 75 tahun, mengatakan bahwa pemerintahannya kelak seperti bermain badminton ganda putra, jika yang satu ke kiri, maka yang lain ke kanan. Harapan dari pemilihan cawapres ini sepertinya adalah raihan 50 juta pemilih yang “saleh” dari NU.

Baca Juga

Namun jika diperhatikan dengan lebih seksama, kesalehan pemilih dari NU ini tidak sampai menyentuh ke gejala “munaffirin” seperti diuraikan di atas. Jika kita datang Jumatan di masjid NU atau ketika diimami oleh orang NU, surat yang dibaca adalah surat-surat pendek. Atau khotbahnya pendek, tapi suratnya agak panjang.

NU sendiri diakui oleh The Economist (edisi 1 Desember 2018), sebagai organisasi yang moderat, yang menahan “gempuran” haluan Islam yang “keras” atau lebih “murni”, menurut saya, termasuk hal-hal tentang “munaffirin” di atas. Di sini lah letak agak bertentangannya tujuan meraih puluhan juta pemilih dari NU. Dengan beberapa fakta bahwa Pak Ma’ruf Amin mendukung doktrin-doktrin yang “keras”, syariah, penistaan agama serta pandangannya bahwa permasalahan terbesar Indonesia saat ini adalah krisis keimanan, bukanlah korupsi atau infrastruktur yang buruk, sepertinya bertentangan dengan pandangan moderat dan maju dari pemilih-pemilih muda. Apalagi dengan usia Pak Ma’ruf Amin yang sudah sepuh.

Tulisan tentang “Munaffirin” menggugah kesadaran publik bahwa Nabi SAW sendiri melarang pelaksanaan Islam yang “keras” yang justru membuat takut orang lain. Pemilih muda NU sendiri akan terus mawas diri untuk tidak ber-“munaffirin” juga dalam melakukan hak-hak politiknya sehingga bisa tetap berpikiran kritis dan maju. Termasuk tidak hanya bermain badminton ganda putra, namun juga jago bermain pingpong dengan bola yang lebih cepat dan lincah.

Baca Juga:  Bagaimana Baiknya, Hubungan NU dan Politik Kekuasaan ini?

Tetapi akhirnya, kaum agamawan hanya sibuk sendiri, alih-alih mempersatukan, mendamaikan, menyejahterakan, memajukan, malah saling berhadap-hadapan. Mereka membuat orang-orang lari dari kebenaran Islam. Mengapa?

Karena lupa dengan visi utama kenabian: rahmatan lil alamin.

Lihat Komentar (0)

Komentari