Sedang Membaca
Hijrah: Pendulum dan Gasing
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Hijrah: Pendulum dan Gasing

Alim

Hijrah menjadi tren baru setelah booming hijab, semarak kosmetik halal, gairah umrah, hingga trending istilah-istilah Arab . Sebagai gerakan moral untuk menuju kebaikan, tentulah baik, harus diapresiasi. Setidaknya, secara teori demikian. Bagaimana praktiknya?

Saya belum cari-cari referensi sejak kapan “umat ” menggunakan kata hijrah, untuk menggantikan kata taubat, sebagaimana hijab digunakan sebagai pengganti jilbab. Pertanyaan berikutnya, kenapa dipilih kata yang berbeda dan bukan memakai kata jilbab atau taubat. Apakah karena kata yang lama sudah membosankan bin menjenuhkan? Atau itu strategi marketing ala budaya pop semata?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Agaknya pendapat yang menyatakan bahwa itu “strategi marketing semata” mengaitkan itu dengan bisnis-bisnis “hijrah” yang menjamur.

Ada baju koko, gamis, peci, hijab, pashmina hingga kajian-kajian Islam yang diselenggarakan di tempat mewah dan berbayar mahal tentunya. Ini lebih engkap marena ada endrosement dari para selebriti yang juga sedang melakukan hijrah tersebut.

Secara pribadi, saya sangat gembira dengan proses pertobatan seseorang, apalagi banyak orang. Tetapi di tengah kegembiraan tersebut juga terbersit kegelisahan manakala proses pertobatan itu menimbulkan ekses negatif.

Baca juga:

Begini. Hijrah ada yang bisa diibaratkan semacam pendulum yang bergerak dari kiri ke kanan dan mungkin kembali ke kiri, lalu ke kanan lagi, dan seterusnya sampai menemukan titik keseimbangan, yaitu saat pendulum berhenti bergerak. Makin kuat dorongan gerak dari kiri ke kanan, besar pula dorongan kembali dari kanan ke kiri. Makin cepat bergerak dari kiri ke kanan, cepat pula kembali ke kiri.

Nah, hijrah itu bila dilakukan dengan grusa-grusu, dan penuh dorongan nafsu yang besar untuk segera sampai di titik pertobatan, maka besar pula dorongan untuk kebablasan.

Dan kalau sudah kebablasan, pendulum akan mendorong diri lagi ke arah titik pertobatan. Karena dorongannya besar, saat arah balik bukannya berhenti di titik pertobatan alias kesetimbangan, tapi malah kebablasan lagi. Begitu seterusnya, sampai tubuh dan jiwa lelah, raga tak kuat menyangga lagi, dan pendulum berhenti karena mati.

Baca juga:  Menyebut Diri sebagai Sufi

Dalam proses berpendulum seperti itu, goyang kanan-kiri-kanan-kiri, sangat mungkin nyampluk lingkungannya. Saat sampai di titik ‘kebaikan’, mungkin malah jadi menjelek-jelekkan orang atau bahkan mengkafir-kafirkan orang; memandang orang lain yang tidak hijrah seperti dirinya sebagai orang yang masih berkubang dalam dosa; memperlakukan orang bukan golongan ‘hijrah’ sebagai outsider, bahkan bukan sekedar “outsider of golongannya”, tapi outsider of Islam, wow!

Tentu itu sekadar contoh ekstrem. Tidak semua pendulum orang akan sama seperti itu, tergantung orang dan nasibnya. Nah, sesungguhnya yang seperti itu justru seperti pendulum yang bergerak ke arah sebaliknya, memburuk, karena merasa lebih benar di dalam ketidaksadaran.

Secara pribadi saya kurang sreg dengan hijrah model pendulum ini. Semakin ngotot, semakin kacau.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

***

Pernah mainan gasing atau gangsingan yang kalau diputar kencang akan bunyi “nguuuuuuuung”, kan?

Saya membayangkan, proses pertobatan itu seperti “gasing”. Kalau gasing itu berputar pada porosnya pelan, maka posisi gasing akan “pencilakan”, ngluwer-luwer ke sana kemari, nabrakin sekitarnya. Tapi bila muter pada porosnya kuenceng, semakin dia menetap di tempatnya, semakin nyaring “ngung”nya.

Pada orang yang menjalani proses pertobatan, semakin bersungguh-sungguh, maka makin tenang di tempatnya untuk memperdalam pertobatannya itu, makin masuk ke dalam diri. Nah, kalau sudah sampai titik kesetimbangan puncak, maka “ngung” kediriannya akan makin tinggi.

Sampai titik tertentu, ketinggian “ngung”nya jadi selaras dengan “AUM” kosmik dan frekuensinya bisa memancar sampai ‘arsy.

Dah, kembali ke Bumi. Jadi maksud saya, proses pertobatan haruslah dilakukan dengan sesadar-sadarnya, dengan kendali penuh. Tapi bagaimana mungkin mengendalikan wong kita sendiri yang menjalani proses itu? Di situlah peran pembimbing yang haq.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top