Sedang Membaca
Kliping Keagamaan (2): Kisah Huruf Arab di Tahun 1950an
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Kliping Keagamaan (2): Kisah Huruf Arab di Tahun 1950an

Huruf Arab, Pandji Masjarakat, 16 Juli 1959

Pada 1916, terbit Nieuw Maleisch-Nederlandsch Woordenboek  Met Arabisch Karakter susunan HC Klinkert. Kamus diterbitkan Boekhandel en Durkkerij, Leiden, Belanda. Kamus itu menggunakan aksara Arab dan Latin untuk entri digunakan bangsa Melayu. Aksara Latin untuk pengertian dalam bahasa Belanda.

Di halaman-halaman awal, kita membaca entri memiliki asal dari beragam bahasa: “abdjad”, “abad”, “abang”, “atoer”, “atap”, “atma”, “adji”, dan lain-lain.

Pada masa lalu, kamus-kamus sering disusun sarjana, pendakwah, dan pejabat kolonial dalam misi menerjemahkan Alkitab ke sekian bahasa di Nusantara, pendidikan, dan birokrasi. Kamus lawas itu masih mengukuhkan penggunaan aksara Arab.

Di majalah Pandji Masjarakat edisi 15 November 1959, kita membaca iklan buku: Peladjaran Bahasa Arab susunan Abdullah bin Nuh. Di madrasah-madrasah, pengajaran bahasa Arab memerlukan buku-buku. Pada masa 1950-an, kertas langka. Penerbit cuma bisa mengadakan buku dalam jumlah terbatas. Iklan itu memastikan murid-murid di madrasah mengerti dan mahir menggunakan aksara Arab. Aksara itu “langgeng” meski pendidikan modern di Indonesia mulai berhuruf Latin dalam pelbagai mata pelajaran.

Keluhan disampaikan SSB nan Sati melalui artikel berjudul “Huruf Arab di Indonesia” dimuat di Pandji Masjarakat, 15 Juli 1957. Pembuka: “Masjarakat kita kenal dengan huruf Arab, tetapi ia hampir tidak dipergunakan lagi dalam masjarakat kita. Memang ada djuga, jah, ada djuga dipeladjari disekolah, tetapi sudah sama dengan mempeladjari bahasa Kawi atau bahasa Sansekerta, jang tidak akan dipakai dalam penghidupan sehari-hari.” Penulis itu pesimis! Artikel meminta perhatian pihak-pihak masih ingin memandang dan membaca tulisan-tulisan berhuruf Arab di pelbagai tempat dan peristiwa. Pesimis di masa revolusi belum selesai, tak pernah selesai.

Sati membuat daftar fakta membenarakan pesimis. Penerbitan surat kabar memilih berhuruf Latin. Nama-nama kantor tak ditulis menggunakan huruf Arab. Buku-buku beredar di pasar melulu berhuruf Latin. Pengecualian adalah buku pelajaran bahasa Arab di sekolah atau madrasah. Guru-guru agama mengajar di sekolah cenderung lancar menulis dengan huruf Latin ketimbang huruf Arab. Deretan daftar fakta masih ada.

Pada masa 1950-an, Sati adalah pemikir berhitung nasib huruf Latin di Indonesia dengan keinginan seperti masa lalu. Ia bernostalgia abad-abad silam saat huruf Arab digunakan dalam korespondensi, sastra, urusan perdagangan, dan lain-lain di Nusantara. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Nah, diajukanlah usulan-usulan agar huruf Arab moncer lagi atau langgeng. Usulan: “Rokok jang dihasilkan dalam negeri hendaknja memakai huruf Arab disamping huruf jang lain. Sedangkan barang-barang luar negeri memakai huruf Arab (tentu untuk reklame), misalnja keterangan obat-obatan, makanan dalam kaleng, lampu stormking, dan lain-lain. Mengapa kita di Indonesia tidak mau memakai huruf itu? Kalau saja tak salah, hanja minjak samin tjap Onta jang ada memakai huruf Arab biarpun hurufnja kurang baik. Disana tertulis ‘tanggung halal’. Pada uang logam 50 sen tjetakan lama ada huruf Arabnja, tapi pada tjetakan baru menghilanglah huruf Arab itu.” Kita mengimajinasikan tumpukan sedih ditanggung Sati. Ia memerlukan pendukung dalam misi pelanggengan huruf Arab di Indonesia.  

Usulan mengejutkan adalah penulisan nama atau merek rokok dihasilkan di Indonesia menggunakan huruf Arab. Ia belum berhitung risiko. Di Indonesia, orang-orang membaca tulisan berhuruf Arab gampang saja menganggap itu berkaitan agama. Wah, bungkus-bungkus rokok berhuruf Arab bakal menjadi idaman kaum lelaki mengaku beriman dan bertakwa! Rokok bisa tertuduh agamis. Polemik pasti rumit dan ngotot-ngototan. Kini, kita membaca artikel itu terpaut puluhan tahun. Sekian usulan Sati terbukti gagal. Begitu. 

Baca juga:  Ibu Berakreditasi A
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top