Habib Salim Putra Habib Umar bin Hafiz: Saya Bukan Habib!

Alfan Khumaidi

Hari ini, tanggal 1 Januari 2019, adalah hari pertama Maulana Habib Umar bin Hafiz memberi kuliah Kimiya’ul Yaqin di masjid Maulana Sidi Syekh Soleh Ja’fari Darrasah Kairo. Beliau baru tiba dari India sore kemaren, bakda Subuh langsung memberi kuliah di Kairo. Jadwal perkuliahan waktu Duha, di pelataran Sidnal Imam Husein juga menanti.

Pesona beliau memang beda. Selain masyhur juga memiliki haibah yang besar juga memiliki daya tarik yang luar biasa. Habib Umar lahir di Tarim, Yaman, 27 Mei 1963.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Habib Umar tinggal di tanah kelahirannya, tapi waktunya nyaris dihabiskan untuk memberi kuliah di pelbagai negara, termasuk Indonesia. Lembaga pendidikan yang didirikannya, Darul Musthofa, snagat terkenal dan terus melahirkan kader ulama dari penjuru dunia. Perkuliahnya di berbagai tempat selalu “full house”. Mereka yang menunggu perkuliahannya bukan saja mahasiswa dan masyarakat umum, tapi juga para ulama yang seringkali lebih senior.

Setelah memberi kuliah, umat menunggu salim, sesak, padat. Habib masuk ruang dekat mihrab. Tidak keluar lagi. Banyak yang menduga Habib sudah ke Rawdah di pelataran Sidnal Imam Husein, tapi khalayak di depan masjid yang juga menunggu tidak mendapati “idolanya” lewat keluar masjid. Kami pun yang di dalam juga sama. Kalau pun toh beliau keluar, berati lewat pintu belakang.

Ternyata benar, Habib sudah di Sidnal Imam Husein. Akhirnya semua bubar, saat di tempat acara juga sudah di ujung.

Saat masih banyak yang menunggu di dalam masjid, Habib Salim, putra Mualana Al-Habib masuk ruang Al-Habib lalu keluar lagi, banyak yang minta salaman dan tabarruk sama beliau. Tapi sang Habib enggan dijabat-cium, sambil terus berjalan, terlihat juga ada salah satu pelajar tampak ngeyel memohon ijazah dari beliau sambil memegangi tangan habib, tepat di depan saya menggendong Mas Elky, sambil bilang pada banyak orang:

“Saya bukan Habib. Saya bukan Habib! Semua itu dari ayah saya, saya bukan Habib!”

Saya mencium tangannya. Lalu meminta berkah bagi anak kami, Elky. Dicium Elky dan dioakan oleh Habib Salim. Lalu melanjutkan jalan.

Pelajar tadi, yang minta ijazah, masih melanjutkan perjuangannya, Habib bilang, “Ajaztuka bittiba’ sunnati rasulillah!” Maksudnya, “Saya ijazahkan kepadamu ‘mengikuti sunah Rasulullah’.”

Ucapan Habib Salim bin Habib Umar tadi masih terngiang. Tampaknya beliau mengikuti ajaran bahwa tidak semua “Sayyid” itu “Habib”. Habib adalah ia, keturunan Rasulullah, yang alim, amil lagi bisa memberi uswah dan qudwah hasanah.

Tiba-tiba saya teringat Maulana Habib Quraish Shihab yang enggan dipanggil “Habib”. Sebab merasa belum pantas menyandang gelar itu. Saya teringat, saya teringat nama-nama “habib” yang lain. Banyak sekali.

Lalu angan saya menerawang jauh. Jauh sekali. Lalu mengandai. Mengandai tentang sayid dan habib tadi. Begitu agung nan bening.

Gamaleya, 1/01/2019

Lihat Komentar (8)
  • APA BENAR ADA PEWARIS KETURUNAN NABI DAN RASUL?

    Di dalam Al Quran tidak istilah ya keturunan nabi atau keturunan rasul karena nabi dan rasul itu nama jabatan yang merupakan anugerah Allah SWT kepada hamba-Nya manusia yang mulia.

    Kalau dicontohkan dengan nama jabatan buatan manusia seperti presiden atau kanselir, apakah ada KETURUNAN PRESIDEN atau KETURUNAN KANSELIR? Pasti tidak ada juga!

    Anak-anak Pak Presiden Joko Widodo saja dibilang KETURUNAN PRESIDEN pasti tidak mau, mereka bilang KETURUNAN JOKO WIDODO begitu juga yang seperti KETURUNAN SUHARTO dsb.

    Soal penulisan ini Al Quran lebih dulu mencontohkannya seperti istilah KETURUNAN NABI atau KETURUNAN RASUL tidak ada tapi yang ada istilah KETURUNAN ADAM, KETURUNAN IBRAHIM (QS. 19:58) ya begitu juga ada KETURUNAN NUH tapi sayangnya tidak diabadikan di dalam Al Quran karena ada peristiwanya.

    Begitu juga istilah KETURUNAN MUHAMMAD (QS. 19:58) tidak juga diabadikan di dalam Al Quran ada sama halnya tidak adanya istilah KETURUNAN NUH kenapa? Ya karena memang kedua tokoh umat manusia ini NASAB-nya diputus Allah SWT sehingga tidak ada hak lagi bagi yang NGAKU-NGAKU pewaris atau pelanjut dinastinya.

    Beda pemutusan nasab kedua tokoh ini adalah kalau nasab keturunan Nuh As diputus Allah SWT karena ahlul baitnya durhaka:

    Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. 11:46),

    Sedangkan Nabi Muhammad SAW nasab beliau diputus karena ahlul bait, anak kandung lelakinya diwafatkan Allah SWT ketika masih kecil-kecil sehingga tidak dianugerahi lagi pewarisnya.

    Walau pun ada riwayat nabi yang memohon pewarisnya tapi Nabi Muhammad SAW tidak berkenan berdoa kepada Allah SWT agar dianugerahi lagi anak lelakinya, seperti Nabi Zakaria As. ini:

    Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah WarisYang Paling Baik. (SQS. Al Anbiya, 21:89).

    Kenapa Allah SWT memutus pewaris Keturunan Nabi Muhammad SAW, ya itu rahasia Allah SWT. Anehnya, masih ada saja mereka yang mengaku-ngaku sebagai keturunan nabi-lah atau keturunan rasul-lah bahkan sampai ada identitas tertentu yang dibanggakannya.

    Kemudian di dalam tubuh umat Muslim dari dulu sampai sekarang masih ada mereka yang ngaku pewaris keturunan nabi atau rasul itu?:

    Simak penjelasan satu ini:

    HABIB merupakan gelar mulia untuk KETURUNAN HUSSEIN bin Ali bin Abi Thalib (Muhsin Labib)
    Untuk tidak salah dalam mengartikan sebutan ‘habib’ maka simak artikel ini:

    Habib merupakan gelar mulia untuk keturunan Hussein bin Ali bin Abi Thalib. Cucu Nabi Muhammad ini dibunuh secara kejam di Karbala. Anaknya, Ali Zainal Abidin, karena tekanan penguasa khalifah “Islam”, hanya bisa menjadi ahli ibadah, maka di belakang namanya ada gelar abidin.

    https://muhsinlabib.com/mencari-habib-sejati/

  • Yang dimaksud alhabib salim ialah saya bukan habib umar.. karena pada saat itu didepan pintu banyaaaak orang2 yg ingin tabarrukan menunggu keluarnya habib umar. ketika beliau keluar ( habib salim) bilang ana lastulhabib..maksutnya: saya bukan habib umar yg kalian2 maksud.. Saya tepatt didepan pintu waktu itu saat beliau ngendiko seperti itu.. Mohon untuk makna habib tidak prlu diperdebatkan..

  • Maa Syaa Allah, Kisah diatas saya alami sendiri dan beliau Habib Salim bin Habib Umar bin Hafidz, beliau awalnya menolak utk kami mintai Ijazah dari beliau, Namun pada akhirnya beliau mengajak saya keluar komplek masjid dan memberi ijazah kpd saya, sungguh beliau berkata demikian maksudnya ketika saya meminta ijazah maka beliau berkata yg maksudnya ” Saya Bukan Habib, Habib (Habib Umar) sedang berada ada di dalam ruangan ” …
    Lalu, setelah saya dan beliau keluar kompleks masjid, saya mengikutinya sampai saya terkejut melihat beliau memasuki sebuah mobil yg mana di bagian depannya ada Al Habib Umar bin Hafidz, saat Al Habib Umar melihat saya, spontanitas saya tersenyum dan menyampaikan salam kepada beliau dan beliau juga membalasnya dengan senyuman yang sangat sangat indah, baru pertama kali saya diberi senyuman oleh Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz.
    آه عاشق آه عاشق …
    Begitulah kerendahan hati seorang Habib Salim yg mewarisi Akhlak Habibana Umar bin Hafidz.

  • Anwar Hadia, habib Salom itu kekasih Allah saw, khoiru ummah, ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil mungkar, wa tu’minuna billah, wa jihad fii sabiliah. Emangnya beliau pergi ke berbagai negeri utk apa klo bukan utk jihad fi sabilillah, ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil mungkar?

  • Ya, itu mungkin krn memang beliau rendah hati aja. Klo kata Cak Nun, bahasa habib kan sebenernya salah kaprah. Definisi keturunan nabi kan ada syarif sama said. Jalur syarif dari husain, jalur said dari hasan. Demikian klo gak salah. Asal memang ada garis keturunan nabi ya sah menyandang satu di antara dua jalur itu

  • kalau memang kualitasnya belum sekualitas habib, kenapa mengaku habib? Habib itu kekasih Allah saw, khoiru ummah, ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil mungkar, wa tu’minuna billah, wa jihad fii sabiliah…

Komentari

Scroll To Top