Sedang Membaca
Rumi Masih Menari di Yogyakarta
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Rumi Masih Menari di Yogyakarta

Ahmad Muzammil

Selama sebulan, saya ikut nimbrung mengais cinta dari Rumi di Pondok Pesantren Maulana Rumi. Beralamat di Sewon, Bantul, Yogyakarta. Berdiri sudah mencapai umur lima tahun. Di bawah asuhan Kiai Kuswaidie Syafi`i, akrab dipanggil Cak Kus.

Kitab yang dikaji meliputi Masnawi (masterpice Maulana Rumi), Diwanul Hallaj karya Al-Hallaj, Al-Hikam buah pena Ibnu ‘Atho’illah as-Sakandari dan Tafsir Jailani-nya Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani. Sebelumnya sudah pernah mengkaji Fushushul hikam karya Syaikh Muhyiddin Ibnu `Arabi (puasa kali ini dikaji kembali). Sudah khatam jadi saya tidak sempat meneguk mutiara hikmahnya. Hanya empat kitab tadi yang dapat saya serap.

Kenapa harus Rumi menari? Ya, ajaran Rumi yang sampai sekarang menarik banyak kalangan baik muda maupun tua adalah tariannya. Tentu puisinya tak kalah penting. Namun lebih banyak menarik perhatian para intelektual dan sastrawan, kandungan sufistiknya menjadikan puisinya memiliki ruh yang kuat dan ini tidak mudah dipahami pembaca awam.

Berbeda dengan Tari Sufi. Melalui latihan yang kontinu bisa diperagakan. Berkaitan dengan penghayatan tentu harus dilakukan secara khusus. Tari sufi dikenal di Indonesia, sedang sema di kalangan orang Turki dan Barat menamainya dengan whirling Darwish (Darwis yang berputar artinya). Tari sufi merupakan amalan wajib dalam Thariqah Maulawiyah yang didirikan oleh putranya, Sultan Walad.

Rindu yang ditanggung Rumi begitu dalam terhadap gurunya, Syamsu Tabriz. Kepergian sang guru menjadikan Rumi mabuk kepayang oleh rindu. Lama Rumi menanti kedatangan sang guru namun yang ditunggu tak kunjung menampakkan diri. Rumi menari sepanjang malam untuk melepas beban kerinduannya.

Semenjak itulah Rumi meninggalkan segala rutinitasnya berupa mengajar dan menjadi mufti. Rumi memanggil murid-muridnya dan mengajak mereka mendendangkan lagu-lagu. Rumi pun segera menari-nari sepanjang malam.

Baca Juga:  Ngaji Rumi: Beragama dengan Gembira

Ajaran menari ini di kemudian hari mentradisi. Terkenal di Turki dan sampai pula di Indonesia. Beberapa pondok pesantren yang mengajarkan santrinya untuk bisa melakukan Tari Sufi di antaranya Al-Ishlah di Semarang di bawah asuhan Kiai Budi, jamaah Mafia Shalawat Gus Ali Gondrong dan salah satunya Pesantren Maulana Rumi.

Ajaran Rumi yang paling terkenal adalah konsep cintanya. Memancar dari dalam sosok Rumi tentang percintaan agung antara hamba dengan Tuhannya. Hubungan paling agung dalam ajaran tasawuf. Imam Ghazali mengatakannya sebagai maqam (tingkatan) tertinggi dalam pencapaian seorang salik. Adapun Rabi’atul Adawiyah mengungkapkannya sebagai hal (keadaan). Terlepas dari penamaannya sebagai maqam ataupun hal konsep cinta tetaplah mengagumkan dan menjadi pencarian banyak manusia.

Penelitian fenomenologi menemukan bahwa hubungan manusia dan Tuhan memiliki dua bentuk. Pertama, Tuhan hadir sebagai misteri yang menggetarkan (mysterium tremendum) dan misteri yang memesonakan (mysterium fascinan). Bentuk pertama dalam tasawuf dinamakan khouf dan raja` sedang bentuk kedua diwakili mahabbah dan syauq.

Pengkajian kitab Masnawi dan Diwan al-Hallaj dilakukan pada pagi hari sekira pukul 02.00 kurang. Sebagaimana ungkap Kiai Kuswaidi suatu waktu sebelum kajian dimulai, bahwa maksud dari waktu itu agar kesunyian menjadi perantara paling hikmat perenungan akan kehadiran Tuhan.

Kedekatan yang sangat intim dengan Tuhan bisa dirasakan pada keadaan sunyi. Selain waktu yang memang membawa kesunyian—waktu kebanyakan manusia tidur—letak pondok juga diujung jalan. Tidak ada lagi jalan ke timur (jalan buntu). Pas sebelah baratnya adalah makam penduduk desa.

Baca Juga

“Jangan cuma bengong, seharusnya dikesunyian seperti ini bisa merasakan Allah. Juga jangan cuma merokok tapi direnungkan. Rokok ini dari siapa. Biar cepat bisa merasakan Allah lebih nyata,” tegur Kiai Kuswaidi suatu waktu. Barangkali melihat wajah para santri tidak ada yang hikmat merenungkan kehadiran Allah yang dibantu kesunyian.

Santri yang mukim (bertempat tinggal atau menetap) waktu itu ada empat saya salah satunya. Kebanyakan santrinya kalong (hanya ikut mengaji) baik dari desa setempat maupun luar desa. Santri kalong kebanyakan pemuda dan dewasa.

Pernah suatu waktu empat santri ini ditanya apa saja yang menjadi bacaan sehari-hari untuk mengingat Allah. Semuanya mengungkapkan bacaan masing-masing. Ada yang banyak dan sedikit. Selanjutnya Kiai berujar, “Gak harus banyak. Sedikit atau banyak tidak begitu penting. Terpenting adalah hakikatnya. Sebagaimana Rumi mengungkap kemarin dalam Masnawi. Bahwa yang sampai dan abadi di hari akhir nanti adalah esensi. Segala yang aksiden akan lenyap dan tak berguna. Maka yang terpenting fokus ditujukan untuk Allah. Bukan hanya sekadar rutinitas dan bacaan. Melainkan niatnya murni untuk Allah. Esensi ini yang akan abadi dan sampai.”

Baca Juga:  Nyanyi Riang Kitab Penerang

Pengkajian Tafsirul Jailani berbeda waktunya. Kajian ini dilakukan setelah isya’ dan kadang dilakukan di musala milik orang desa setempat, Musala An-Nur.Kasidah Burdah disenandungkan terlebih dahulu dan beberapa santri kalong dan alumni akan melakukan Tari Sufi disaat burdah disenandungkan. Kalau sudah begitu, kesyahduan merayakan percintaan dengan Nabi Muhammad Saw tercipta.

 

Lihat Komentar (0)

Komentari