Sedang Membaca
Mengenal KH. Afifuddin Muhajir (1): Santri Tekun, Teladan Keilmuan

Nahdliyin, menamatkan pendidikan fikih-usul fikih di Ma'had Aly Situbondo. Sekarang mengajar di Ma'had Aly Nurul Jadid, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo. Menulis Sekadarnya, semampunya.

Mengenal KH. Afifuddin Muhajir (1): Santri Tekun, Teladan Keilmuan

Mengenal KH. Afifuddin Muhajir (1): Santri Tekun, Teladan Keilmuan

Karl Mannheim melalui teori rasionalnya sangat menekankan pentingnya hubungan antara pemikiran dengan konteks sosial pemikiran itu lahir. Teori tersebut mengatakan bahwa setiap pemikiran selalu berkaitan dengan keseluruhan struktur sosial yang melingkupinya. Karena itu kebenaran pemikiran sesungguhnya adalah hanyalah kebenaran kontekstual bukan kebenaran universal (al-Ibrah bikhuṣūṣ al-Sabab lā biumūm al-Lafzdi).

Untuk itu juga, memahami butir pemikiran seseorang tidak lepas dari konteks dan struktur kemasuk-akalan yang dimiliki orang tersebut. Oleh karena itu, sebelum kita masuk secara mendalam mengenai beberapa pemikiran K. H. Afifuddin Muhajir penting kiranya mengetahui biografi sosial-intelektual beliau.

Buku Kiai Said

Kiai Afifuddin Muhajir lahir di Sampang Madura 20 Mei 1955. Nama kecilnya adalah M. Khofifuddin. Oleh karena itu, di samping dipanggil Kiai Afif, oleh para santri beliau juga dipanggil Kiai Khofi. Namun setelah pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, namanya menjadi Afifuddin. Sementara Muhajir adalah nisbat kepada ayahandanya.

Ia adalah anak ke lima dari delapan bersaudara. Pendidikan masa kecilnya ditempuh di Pesantren al-Ihsan Jerengoan Sampang Madura. Namun sejak usia delapan tahun, bertepatan waktu ia menginjak kelas tiga Madrasah Ibditida’iyah oleh ibundanya ia dibawa ke Pulau Jawa menuju Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Hal ini atas saran dari Nyai. Hj. Zubaidah, istri Kiai As’ad Syamsul Arifin. Di pesantren inilah, Kiai Afif muda meneruskan pendidikan dasar di Madrasah Ibtidai’iyah Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

Dari pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, kemudian berlanjut ke Madrasah Tsanawiyah hingga kemudian Madrasah Aliyah. Setelah itu, ia kemudian melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ibrahimy, Fakultas Syariah Universitas Ibrahimy. Skripsi yang ia tulis berjudul, al-Quran Antara Ketegasan dan Kelenturan” kemudian dielaborasi lebih ekspensif dan elaboratif menjadi tesis berbahasa arab dengan judul, al-Aḥkām al-Syar’īyah baina al-Ṡabāt wa al-Murūnah di Pascasarjana Universitas Islam Malang Jawa Timur.

Sampai di sini, dapat disimpulkan bahwa seluruh alur pendidikan dan pembentukan karakter keilmuannya, seluruhnya ditempuh di Pesantren yang didirikan oleh Kiai Syamsul Arifin ini. Hanya saja, dalam sebuah kesempatan beliau pernah bercerita kepada penulis bahwa dalam suatu waktu, Kiai Afif pernah mengikuti ngaji posonan selama satu bulan penuh di Pesantren Sidogiri Pasuruan.

Di Pesantren yang kini diasuh oleh K.H. A. Nawawi Abd. Djalil tersebut beliau mengaji kitab Shahih al-Bukhari kepada Kiai Kholil Nawawi, salah seorang wali besar di masanya. Pada tahun 1985, satu tahun setelah Muktamar Nahdlatul Ulama di Sukorejo, ia hendak mengikuti pengajian di Pesantren Sarang. Namun, ketika minta izin kepada Kiai As’ad, beliau tidak memberi izin. Alih-alih memberi izin, Kiai As’ad malah memerintahkan Kiai Afif untuk membaca kitab di Musalla Ibrahimy Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Ulama Banjar (21): KH. Muhammad Imran

Suatu ketika, tepatnya di tahun 2000-2001 beliau dan beberapa orang pernah mendapat kesempatan studi kawasan dan keilmuan dalam acara sourt course selama satu bulan di Mesir. Di negeri Fir’aun ini, beliau berkesempatan mengikuti diskusi dengan para masyayikh al-Azhar University, ber-talaqqi, berkunjung ke beberapa perpustakaan dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti maqbarah Imam al-Husein, maqbarah Imam al-Syafi’i, maqbarah Ibnu Atha’illah al-Sakandari dan maqbarah ulama-ulama yang lain.

Di tahun 2003, ketika sedang ramai-ramai isu terorisme pasca teror 11 September di beberapa negara bagian Amerika Serikat. Kiai Afifuddin Muhajir bersama 12 aktivis pesantren mengikuti Short Couse di Markfild Institute Of Higher Education Inggris. Di sela-sela Short Couse beliau sempat menjadi narasumber utama dalam dialog lintas agama di Masjid Mosque Leicester Inggris dengan tema Mistic and God.

Sehari-harinya, ia menjadi Wakil Pengasuh bidang pengembangan keilmuan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur. Selain itu, ia juga menjabat ketua yayasan dan nāib mudīr (wakil direktur) Ma’had Aly di pondok pesantren yang sama. Saat Ma’had Aly didirikan oleh Alm. Kiai As’ad Syamsul Arifin pada tahun 1990, ia menjadi salah satu anggota tim pendiri. Sampai saat ini, ia aktif mengajar ilmu usul (Jam’u al-Jawami’) fikih di lembaga tinggi khas pesantren tersebut.

Sejak usia 20 tahun, beliau sudah dipasrahi untuk membaca kitab di hadapan para santri pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, teparnya di Musalla Ibrahimy. Kitab yang dibaca mulai dari marḥalah ulā, seperti Fatḥ al-Qarīb hingga marḥalah ulyā seperti Fatḥ al-Wahhāb dalam berbagai jenis keilmuan seperti nahwu-sarraf, fikih, hadiṡ tafsīr bahkan uṣūl fikih.

Selain di lingkungan pesantren, ia juga aktif di Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), khususnya di berbagai forum Bahṡul Masāil Syuriyah, baik tingkat cabang, wilayah hingga pengurus besar di tingkat pusat. Ia juga pernah menjabat sebagai Kātib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2000-2015. Dan sejak tahun 2019 sesuai dengan SK PBNU nomer: 01/j/A/II.04/08/2019. beliau diangkat menjadi Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama setelah sebelumnya dengan satu dua alasan tidak berkenan masuk dalam jajaran kepengurusan di PBNU.

Baca juga:  Ulama Banjar (14): KH. Usman

Di bidang akademik, selain mengajar di Fakultas Syariah Universitas Ibrahimy dan Ma’had Aly, ia juga kerap diundang menjadi narasumber diskusi ilmiah, seperti seminar, lokakarya, halaqah dan lain-lain. Dalam forum International Conference Of Islamic Scholar (ICIS) ia kerap menjadi pembicara untuk menyampaikan gagasan islam moderat dengan makalah berbahasa arab.

Sedangkan  dalam forum Bahṡul Masāil Syuriyah NU, ia kerapkali dilibatkan sebagai Ketua Tim Perumus pembahasan masa’il maudhuiyah. Banyak hasil keputusan NU yang pernah ia rancang, seperti Konsep Kriteria Ahlussunnah Waljamāah al-Nahdliyah (Khaṣāiṣ), Islam Nusantara, Metode Isntibaṭ al-Aḥkām Dalam Nahdlatul Ulama, dan Konsep Kafir dalam Negara Bangsa (nation-state) yang viral beberapa bulan belakangan ini.

Pengalaman Organisasi dan Aktivitas K. H. Afifuddin Muhajir 

  1. Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.
  2. Wakil Pengasih Bidang Ilmiah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.
  3. Naib Mudir (Wakil Direktur) Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.
  4. Majelis Masyayikh Ma’had Aly se-Indonesia. Lembaga ini berada dalam struktur Pendidikan Diniyah dan Pondok pesantren Kementrian Agama Republik Indonesia.
  5. Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2000-2010
  6. Ketua Lembaga Bahtsul Masai’il Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2015-2020.
  7. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
  8. Dewan Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia Periode 2020-2025.
  9. Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim.
  10. Tim Pendirian Ma’had Aly pertama di Indonesia yang ditunjuk oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin. Tim tersebut terdiri dari enam orang, mereka adalah: 1. Kiai Hasan Basri (Situbondo), Kiai Wahid Zaini (Probolinggo), Kiai Yusuf Muhammad (Jember), Kiai Nadhir Muhammad (Jember) dan Kiai Afifuddin Muhajir (Situbondo).
  11. Dewan Masyayikh Ma’had Aly Situbondo dengan kitab Jam’u al-Jawami’.
  12. Dosen Pascasarjana Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo.
  13. Dewan Penasihat Ikatan Keluarga Besar IKBA (Raden Bani Ahmad) Madura.
  14. Rais Syuriyah PCNU Situbondo 2003.
  15. Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Situbondo 2003.
  16. Dewan Penasihat Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.
Baca juga:  Ulama Banjar (67): KH. Djamaluddin

Karya-karya KH. Afifuddin Muhajir

Di tengah kesibukan beliau untuk khidmah kepada NU, pesantren dan masyarakat, ia menuliskan beberapa karya berbahasa arab dan Indonesia yang bisa dikonsumsi banyak pihak, utamanya mereka pengkaji Islam.

  1. Al-Luqmah al-Sāighah pengantar dalam dalam ilmu Nahwu. Kitab ini dijadikan pelajaran di Madrasah Ibtida’iyah Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
  2. Fatḥ al-Mujīb al-Qarīb syaraḥ atau komentar terhadap Kitab Taqrīb
  3. Al-Aḥkām al-Syar’īyah baina al-Ṡabāt wa al-Murūnah. Kitab ini awalnya adalah tesis untuk kelulusan di Pascasarjana Universitas Islam Malang.
  4. Al-Wasaṭiyah al-Islamiyyah Wa Madzāruha Fi Daulati Pancasila. Disampaikan dalam acara Konfrensi Internasional bersama International Conference Of Islamic Scholars di Pesantren al-Hikam Depok.
  5. Daulah al-Pancasila fi Mandzūr al-Siyāsī ulama al-Basantrin wa Nahdlatul Ulama. Disampaikan dalam acara (Seminar Internasional untuk para ulama dan cerdik cendikia) al-Mu’tamar al-Dauli li al-Ulama wa al-Mutsaqqafin dalam rangka acara satu abad Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo 2014.
  6. Fiqh Tata Negara, Upaya Mendialogkan Sistem Ketatanegaraan Islam
  7. Membangun Nalar Islam Moderat: Kajian Metodologis.
  8. Fikih Anti Korupsi (dalam buku Korupsi Kaum Beragama).
  9. Fikih Menggugat Pemilihan Langsung.
  10. Maslahah Sebagai Cita Pembentukan Hukum Islam.
  11. Hak-hak Politik Dalam Wacana Fikih Perempuan.
  12. Tutunan Salat Berjamaah Praktis dan sudah difilmkan.
  13. Membangun Fikih Anti Korupsi.
  14. Kritik Nalar Fikih Nahdlatul Ulama. Buku ini bukanlah semata karya Kiai Afifuddin Muhajir, akan tetapi lebih kepada bunga rampai pemikiran. Sementara Kiai Afif masuk salah satu penulis di dalamnya.
  15. Islam antara Idealitas Dan Realitas.
  16. Problem Solving: Pendekatan Keislaman.
  17. Daur al-Zakah fi Takhfif alami al-Faqr. Makalah ini dipresentasikan dalam forum Muktamar Internasional bersama para ulama dari berbagai mancanegara salah satu di antaranya adalah Syaikh Wahbah al-Zuhaili.
  18. Fikih dan Tata Niaga Tembakau.
  19. Undang-undang Pornogafi Dalam Pandangan Islam.
  20. Toleransi Berbasis Pesantren.
  21. Islam Dan Kesehatan.
  22. Membangun Kesalehan Sosial Melalui Salat.
  23. Islam Antara Liberalisme dan Konservatisme.
  24. Menguak Kembali Islam Sebagai Agama Rahmatan li al-Alamin.
  25. Dan beberapa karya yang dimuat di berbagai portal-portal keislaman

Di tengah khidmah beliau pada santri, ilmu, agama, Nahdaltul Ulama dan Masyarakat, beliau adalah suami dari Ibu Nyai. Hj. Fatimatuz Zahro dan ayahanda dari Mas Muhammad Rakiz Unsi.

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top