Sedang Membaca
Menengok Miqyas al-Nil, Mukjizat Arsitektur Islam di Kairo

Menengok Miqyas al-Nil, Mukjizat Arsitektur Islam di Kairo

Ahmad Ginanjar Sya'ban
Menengok Miqyas al-Nil, Mukjizat Arsitektur Islam di Kairo 2

Jika Anda bertandang ke kota Kairo, sempatkanlah untuk berkunjung ke Miqyas al-Nil atau Nilometer yang terdapat di pulau Raudha (Roda Island) di sungai Nil.

Di Miqyis al-Nil, kita bisa menikmati keindahan arsitektur bangunannya dan mempelajari kecanggihan teknologinya. Bangunan ini didirikan untuk mengontrol debit air sungai Nil dan didistribusikan ke seluruh kota Kairo sejak abad ke-9 M. Namun saat ini sudah tidak berfungsi lagi. Karena itu, dalam sejarahnya, Miqyas al-Nil pun tercatat sebagai salah satu “mukjizat arsitektur” masa peradaban Islam klasik yang sampai saat ini kemegahan dan keagungannya masih bisa disaksikan dan dinikmati.

Patung Ahmad Al-Farghani (arsitek Nilometer) di kawasan Pulau Rhoda (Foto: Ginanjar Sya'ban)
Patung Ahmad Al-Farghani (arsitek Nilometer) di kawasan Pulau Rhoda (Foto: Ginanjar Sya’ban)

Miqyas an-Nil (Nilometer) didirikan pada tahun 247 H (861 M) oleh insinyur Muslim kesohor pada zamannya, Ahmad ibn Muhammad ibn Katsir al-Farghani (Ahmad al-Farghani, dikenal juga di dunia barat dengan Alfraganus the Astronomer), atas perintah khalifah al-Mutawakkil ‘Alallaah. Saat itu, Mesir menjadi wilayah bagian kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.

Sebelum dibangun bendungan tinggi (Sidd Ali) pada tahun 1960-an, volume air sungai Nil tidak stabil. Jika musim banjir tiba, volume air sungai Nil sampai meluber ke lembah-lembah di sekitarnya yang berjarak ratusan meter.

Untuk menyiasati agar luapan air sungai Nil itu tidak menggenangi wilayah pemukiman, maka dibuatlah kanal-kanal, kolam besar (birkah), dan danau buatan (buhairah) yang disebar di beberapa titik di kota Kairo Lama.

Baca juga:  Berziarah di Kota Mati

Sayangnya, sekarang hampir semua kanal, kolam besar dan danau buatan itu sudah terkubur. Sementara di daerah non-pemukiman, banjir sungai Nil justru menjadi berkah tersendiri, sebab banjir juga berarti membawa lumpur, tanah, dan unsur-unsur kesuburan lainnya, yang menjadikan wilayah-wilayah yang semula berupa padang gersang menjadi wilayah subur yang siap untuk ditanami.

Baca Juga

Nah, Nilometer berfungsi sebagai alat dan tempat mengukur debit volume air Nil. Dari debit volume air itulah pemerintah kemudian memberikan kebijakan yang berkaitan dengan masalah perairan dan perladangan, baik di musim kering atau pun musim banjir. Ketika musim banjir tiba, dari debit itu juga pemerintah memberikan pengumuman tentang persiapan menghadapi banjir, dibukakannya pintu-pintu kanal dan danau buatan.

Melalui volume air di Nilometer, pemerintah mengumumkan tanaman apa saja yang layak untuk ditanam. Hal ini karena volume air sangat mempengaruhi kadar dan kualitas tanah, habitat tanam serta jenis tanaman. Dengan Nilometer juga, pemerintah menetapkan ukuran volume air yang kemudian didistribusikan ke ladang-ladang.

Dari ukuran itulah pemerintah kemudian menetapkan jumlah pajak yang harus dibayar oleh para pemilik ladang.

Halaman: 1 2
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top