Sedang Membaca
Makam Raden Hasan Mustapa; Budayawan Sunda Modern

Dosen di UNU Jakarta. Selain itu, menulis buku dan menerjemah

Makam Raden Hasan Mustapa; Budayawan Sunda Modern

Fb Img 1609457601784

Setelah makam KH. Rd. Muhammad b. Alqo (w. 1911) di Pesantren Sukamiskin Bandung, destinasi kegiatan “ziarah sejarah murid-murid Syaikhona Kholil Madura di Tatar Sunda” berikutnya adalah makam Rd. H. Hasan Mustapa (w. 1930) yang terletak di kompleks pemakaman bupati-bupati Bandung di kawasan Astana Anyar.

Hasan Mustapa dikenal sebagai tokoh besar sejarah kebudayaan Sunda modern. Sosoknya tercatat sebagai seorang ulama sufi, sastrawan sekaligus aristrokrat Sunda. Hasan Mustapa memiliki sejumlah karya intelektual yang ditulisnya dalam bahasa Arab, bahasa Sunda aksara Arab (Sunda Pegon) dan bahasa Sunda aksara Latin.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Terkait sosok Hasan Mustapa sebagai sastrawan besar Sunda dan penghulu besar Bandung, hal ini sudah dikaji oleh cukup banyak sumber. Adapun kajian sosok Hasan Mustapa dalam kapasitasnya sebagai “santri-ulama”, maka hal ini belum terlalu banyak.

Jaringan keilmuan “santri-ulama” Hasan Mustapa terhubung dengan pusat-pusat jaringan yang terdapat di Priangan (Jawa Barat), Surabaya (Jawa Timur), Madura, dan juga Makkah di Timur Tengah. Salah satu inti jaringan keilmuan Hasan Mustapa adalah Syaikh KH. Khalil Bangkalan (Madura). Dalam catataannya (Adji Wiwitan Istilah), Hasan Mustapa menyebut dirinya pernah belajar kepada KH. Kholil Bangkalan di Madura, sebelum beliau pergi belajar ke Mekkah.

Dalam karyanya yang berjudul “Adji Wiwitan Istilah”, Hasan Mustapa menceritakan pengembaraan intelektual di masa mudanya. Ia menulis bahwa pada masa kecilnya ia belajar kepada Kiyai Haji Hasan Basri dari Kiarakoneng, lalu kepada Penghulu Garut Raden Haji Yahya, lalu kepada Kiyai Abdul Hasan di Sawahdadap Tanjungsari (Sumedang), lalu kepada Kiyai Muhammad Cibunut Garut (putra Kiyai Hasan Basri Kiarakoneng), lalu kepada Kiyai Adzra’i (menantu Kiyai Muhammad Cibunut), lalu kepada Kiyai Abdulkahar (Dasarema, Surabaya) dan Kiyai Khalil (Bangkalan, Madura) (Rosidi, 1989: 48; Rohmana, 2018: 20).

Hasan Mustapa menulis:
“Kaula keur leutik diguru Embah Haji Hasan Basari, Kiarakoneng, mashur maca Qur’anna, satengah hafad. Pindah deui ngaji sarap nahu nu leutik di Juragan Panghulu pareman, Raden Haji Yahya, Garut. Pindah deui kaula ka Tanjungsari, Sumedang, pasantren Kiai Abdul Hasan (Sawahdadap). Pindah deui ka Cibunut, Kiai Muhammad Garut. Datang deui guru anyar, paman Muhammad Idjra’i, mantuna, pangajaran Kiai Abdulkahar (Dasarema Surabaya), Kiai Khalil (Bangkalan Madura)”
(Ketika kecil saya belajar pada Embah Haji Hasan Basri, Kiarakoneng, yang terkenal sebagai ulama pembaca al-Qur’an. [Di sana saya belajar hingga] setengah hapal al-Qur’an. Lalu pindah lagi mengaji ilmu sharaf dan nahwu yang masih dasar pada Juragan Penghulu Raden Haji Yahya, Garut. Lalu saya pindah lagi ke Tanjungsari Sumedang di Pesantren Kiai Abdul Hasan (Sawahdadap). Lalu pindah lagi ke Cibunut, Kiai Muhammad Garut. Lalu datang lagi guru baru, paman Muhammad Idjra’i, menantunya (Kiai Muhammad), (juga) mendapat pengajaran dari Kiai Abdulkahar (Dasarema Surabaya), Kiyai Khalil (Bangkalan Madura).

Baca juga:  Potret Perjuangan Ulama (8): Para Ahli Hadis yang Miskin

Setelah itu, Hasan Mustapa pergi melanjutakan studinya ke Makkah. Di kota suci itu, Hasan Mustapa belajar kepada Syaikh ‘Abd al-Hamîd al-Syirwânî (w. 1883), Sayyid Ahmad Zainî Dahlân (w. 1885), Syaikh Abû Bakar Muhammad Syathâ (w. 1890), Syaikh Sa’îd Bâ-Bashil (w. 1912), Syaikh ‘Abdullân al-Zawâwî (w. 1924), Syaikh Sulaimân Hasbullâh al-Makkî (w. 1917), Syaikh Nawawi Banten (w. 1897) dan lain-lain.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di Makkah, Hasan Mustapa juga tercatat pernah mengajar. Hal ini setidaknya terjadi pada kurun masa 1878-1885. Saat itu, usianya masih terbilang relatif muda (ia lahir 1852). Karirnya sebagai “guru para pelajar Sunda di Makkah” pada akhir abad 19 M ini terekam dalam sumber sezamannya, yaitu buku “Mekka” (1888) karya Snouck Hurgronje. Selain terdapat dalam buku “Mekka”, jejak karir Hasan Mustapa di Makkah juga terekam dalam manuskrip berbahasa Arab berjudul “Tarajim Ulama Jawah” karya Rd. Aboe Bakar Djajadiningrat (w. 1914), seorang bangsawan Sunda asal Pandeglang yang bekerja sebagai penerjemah dan informan di kantor Konsulat Belanda di Jeddah.

Dalam “Mekka”, Snouck menulis:

سنتوقف هنيهة مع أهل العلم من صوندا. لقد جلب انتباهنا اليهم عالمان بسبب العدد الكبير من التلاميذ الذين يحيطون بهم. ومعظم الطلاب هم من شباب البريانجان. إن كلا من محمد وحسن مصطفى معروفان باسم منطقتهما قاروت في بريانجان

Baca juga:  Menyambangi Makam Sosrokarto, Mengingat Arya Papak

(Kita akan sejenak bersama para ahli ilmu yang berasal dari Sunda [di Makkah]. Perhatian kami telah tertarik oleh dua orang sosok ulama dari Sunda yang memiliki jumlah murid banyak yang mengelilinginya. Rata-rata para murid dua ulama Sunda itu berasa dari para pemuda Priangan. Kedua ulama Sunda itu adalah Syaikh Muhammad Garut dan Syaikh Hasan Mustapa [Musthafa] Garut yang dikenal dengan nama daerah asal mereka di Priangan, yaitu Garut.

أما حسن مصطفى فهو تلميذ محمد محمد في جزيرة جاوة. ولقد قدم الى مكة منذ أربعة عشر عاما بهدف طلب العلم والأخذ م شيوخ الجاوي في مكة أمثال حسب الله ومصطفى وعبد الله الزواوي وغيرهم. وفي خلال السنوات العشر الماضية كان يقوم بالتدريس. كما أنه قد ألف بعض الكتب التي طبعت في مصر منها كتاب في علم العروض. لقد كان منزل الشيخ يعج بعد صلاة الفجر وبعد الظهيرة بعدد كبير من الجاويين والصونديين الذين يفدون لسماع محاضراته

(Hasan Mustapa adalah murid dari Syaikh Muhammad ketika masih berada di Pulau Jawa dulu. Hasan Mustapa telah datang ke Makkah sejak empat belas tahun silam dengan tujuan untuk belajar ilmu dari para guru di Makkah, semisal Syaikh Hasbullah, Syaikh Musthafa, Syaikh Abdullah al-Zawawi dan lain-lain. Sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu, Hasan Mustapa telah mengajar di Makkah. Ia juga mengarang beberapa kitab yang dicetak di Mesir, di antaranya adalah kitab dalam bidang ilmu puisi Arab. Rumah Hasan Mustapa senantiasa dipenuhi oleh para pelajar setelah waktu shalat subuh dan setelah waktu shalat zuhur. Para santrinya kebanyakan dari Nusantara, khususnya dari Sunda yang dengan seksama mendengarkan kuliah/ pengajian Hasan Mustapa)

Ketika berada di Makkah, Hasan Mustapa menulis beberapa karya dalam bahasa Arab. Karya-karya yang ditulisnya dalam bahasa Arab tersebut meliputi “al-Lam’ah al-Nûrâniyyah” dalam bidang disiplin ilmu gramatika Arab (ilmu nahwu) dan juga “al-Fath al-Mubîn fî Manzhûmah al-Sittîn” dalam bidang fikih madzhab Syafi’i.

Baca juga:  Haul Sukarno: Tiga Fase Pandangan Sang Proklamator Tentang Islam

Dua karya Hasan Mustapa di atas juga menegaskan kedekatan hubungannya dengan Syaikh Nawawi Banten. Karya pertama (al-Lam’ah al-Nûrâniyyah) adalah karya syarah Hasan Mustapa atas teks puisi (nazhom) yang dikarang oleh Syaikh Nawawi Banten berjudul “al-‘Iqd al-Jummâniyyah”. Sementara itu, Syaikh Nawawi Banten juga menulis syarah atas karya kedua Hasan Mustapa (al-Fath al-Mubîn), dengan judul “al-‘Iqd al-Tsamîn bi Syarh al-Fath al-Mubîn”.

Sebuah karya Hasan Mustapa berbahasa Arab lainnya adalah “Injâz al-Wa’d fî Ithfâ al-Ra’d” yang masih berupa manuskrip (naskah tulis tangan). Dalam karya tersebut, Hasan Mustapa membantah sebuah risalah dengan tanpa nama pengarang yang terbit di sebuah koran di Mesir yang menyerang sosok pribadinya, berjudul “al-Radd ‘alâ Iblîs Bandûm fî Itsbât Dzât al-Hayy al-Qayyûm”. Dalam risalah “surat kaleng” tak berpengarang itu, Hasan Mustapa diserang karakternya dengan disebut sebagai “Iblis Bandung”.

Setelah kepulangannya ke tanah air dari Makkah, Hasan Mustapa lebih dominan dikenal sebagai sosok pujangga besar dan sastrawan Sunda, juga aristokrat lokal yang bekerja untuk pemerintahan kolonial Hindia Belanda (sebagai penghulu Aceh dan penghulu besar Bandung). Hasan Mustapa juga tercatat memiliki hubungan yang dekat dengan Snouck Hurgronje sebagai mitra informan dan kolabolator. Kedekatan hubungan ini dapat disimak melalui surat-surat Hasan Mustapa untuk Snouck dalam buku “Informan sunda masa kolonial: surat-surat Haji Hasan Mustapa untuk C. Snouck Hurgronje dalam kurun 1894-1923” karya Jajang Rohmana (2018).

Hasan Mustapa wafat di Bandung pada tahun 1930 dan dimakamkan di kompleks bupati-bupati Bandung di kawasan Astana Anyar. Di dekat makam Hasan Mustapa, terdapat juga makam Rd. H. Moehammad Sjoe’eb (Kalipah Apo, w. 1922), penghulu Bandung kawan Hasan Mustapa yang juga mertua Snouck Hurgronje.
Wallahu A’lam.

Bandung, Jumadil Awal 1442 H/Desember 2020
Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top