Sedang Membaca
Semesta Kecil Tembakau Lintingan: Sebuah Catatan Pengalaman
Akhmad Faozi
Penulis Kolom

Penulis berasal (lahir) dari kultur ‘tani’ desa Geneng Mulyo kecamatan Juwana kabupaten Pati, Jawa Tengah. Domisili di Jogja. Hobi: menikmati dan belajar hidup melalui sabda 'iqra'. Sesekali berpiknik fiksi dan ilmiah, untuk memaknai keseharian yang dijalani.

Semesta Kecil Tembakau Lintingan: Sebuah Catatan Pengalaman

Mengambil Tembakau

Sebagaimana kelaziman yang paling lazim di sekitar kita, orang-orang larut begitu dalam dengan kebendaan. Termasuk terhadap dirinya sendiri. Orang lebih mereken ‘tubuh’ dan yang terkait dengan tubuh, daripada ‘spirit’ atau bolehlah disebut ‘jiwa’.

Ihwal kebendaan itu secara common sense, diterima begitu saja sebagai nyata, konkret, jelas. Sedangkan jiwa, dikesankan sebagai bayangan tubuh saja: tak-nyata, abstrak, absurd. Begitu, kan, orang-orang akan dengan mudah mengatakan bulshitt pada “cinta”, daripada terhadap “seks”, misalnya. Contoh lain adalah orang lebih mudah nyaman mengambil kuliah jurusan dengan orientasi profesi tertentu—sebut saja kedokteran, lah—daripada yang menyerempet-rempet pada filsafat, sastra atau teori-teori murni.

Buku Kiai Said

Orang kebanyakan, khususnya yang belum atau tidak mengenal tembakau, cenderung enteng saja menganggap tembakau adalah nama lain dari kemudharatan. Tembakau yang tersulut, bagi mereka adalah simbol kenakalan, ketak-bisa-diaturan, liar, atau anggapan-anggapan lain yang buruk. Apakah memang begitu?! Saya kira tidak.

Tetapi, saya tidak akan bicara banyak tentang yang ‘buruk-buruk’ itu. Karena narasi tersebut sudah terlampau melimpah. Begitu pun saya tidak akan memberikan kontra narasi secara linier atau reaktif. Karena, yang sedemikian itu sangat rapuh.

Tak Kenal maka Tak Kenal Selamanya

Awal saya mengenal tembakau adalah dari rokok. Tembakau dan rokok berbeda. Bapak saya tidak merokok, ibu saya juga. Tetapi kebanyakan lelaki, yang saya anggap ‘keren’ di sekitar saya hampir semuanya merokok. Lalu secara sadar, saya mulai mencoba (me)rokok. Waktu itu usia SD kelas 5 atau 6, lah. Persis di masa itu teman-teman sebaya dan sepermainan, punya ketertarikan yang sama: sedang ingin mencoba rokok.

Baca juga:  Soesilo Toer: Menjadi Manusia Merdeka

Pertama kali merokok, rasanya tak enak. Pahit dan batuk-batuk. Namun kami cukup telaten untuk belajar. Beberapa lulus, beberapa tidak. Saya termasuk yang tidak lulus. Rokok saat itu masih terasa tidak enak dan cenderung saya paksakan demi ‘ingin keren’.

Lambat laun, saya mengalami satu pressure tinggi ketika di kelas menengah (MTS). Di sekolahan saya, hafalan menjadi syarat kenaikan. Artinya jelas, jika tidak hafal, ya tidak naik kelas. Jika tidak naik kelas, ya akan ada konsekuensi-konsekuensi lanjutan, seperti harga diri turun, dimarahi orang tua, masa depan tidak jelas, dan seterusnya. Dalam masa-masa ter-pressure itulah saya mulai dapat menikmati rokok. Di sela saya menghafalkan—Kitab Alfiah karya Ibnu Malik yang 1000 bait—saya merasakan rokok begitu membantu. Dari sini, perlahan terbangun habbit merokok.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Satu fakta menarik. Banyak teman-teman saya, yang dulu seakademi ‘latihan merokok’, memilih untuk tidak menjadi perokok aktif. Bahkan berhenti total. Sebagian karena alasan ekonomi, sebagian karena prinsip. Merokok adalah pilihan.

Sebagai perokok, saya pun mengenal tembakau lintingan. Bahasa nge-pop-nya tingwe atau linting dewe. Sekitar tahun 2000-an awal saya sudah mengenal dan menikmati tingwe. Sebenarnya saya cukup nyaman dengan tingwe ini. Tetapi tak bertahan lama, karena saat itu akses tembakau masih terbilang ribet. Depot tembakau saat itu, belum seperti sekarang ini yang sudah tersebar di sudut-sudut desa.

Baca juga:  Daulat Petani Kopi, Orang Gayo, hingga Kaum Sufi

Akhir-akhir ini, ketika pandemi sudah berulang tahun pertamanya, saya kembali mengakses tembakau lintingan. Di samping cost yang lebih rendah dari rokok pasaran, ada nuansa antik yang saya alami ketika melinting tembaku sendiri.

Ada seorang teman yang membuka depot tembakau. Eko Kunarso, panggilan karibnya Eko Kun. Dia pemilik Kaji Mbako, satu depot tembakau di desa Kajar, kecamatan Trangkil, Pati, Jawa Tengah. Seperti botol nemu tutup, dari dia saya banyak bertanya dan meng-episteme ihwal tembakau lintingan.

Bagi Eko Kun (wawancara daring, 06/02/2021), tembakau lintingan memiliki keantikan pada aspek otentisitas dan kontrol rasa. Seseorang yang mengkonsumsi rokok (reguler) pasaran, dia semacam pasrah saja terhadap komposisi dan jenis rasa rokok. Pasrah kepada racikan jadi dari pabrik. Penikmat tingwe berbeda. Ia bisa memilih hampir setiap sisi ‘rasa’ pada lintingannya. Ia bisa menentukan jenis tembakau apa, menggunakan cengkeh atau tidak, dan mengatur rapat-renggangnya lintingan. Jenis tembakau mempengaruhi karakter dasar rasa tingwe, cengkeh mempengaruhi kemantaban—semacam bumbu dan garam pada masakan—sedangkan kerapatan lintingan berpengaruh pada ringan beratnya tingwe saat dihisap.

Saat melinting, seseorang akan bersentuhan langsung dengan tekstur tembakau, kertas lintingan, serta tahapan-tahapan melinting secara lebih dekat dan langsung. Dalam proses tersebut, bagi saya, semacam ada hubungan eksotis antara perokok dengan yang dirokoknya: terdapat komunikasi rasa di seluruh prosesnya. Antara manusia dengan tembakau yang, sama-sama sebagai subyek.

Baca juga:  Wejangan Kiai Maemun, Agar NU Luwes dengan Pemerintah

Tembakau, dengan wujudnya sebagai konsumsi hisap (rokok), menemukan “ning” puncaknya tatkala bertemu dengan aktivitas yang membutuhkan energi ekstra. Sebut saja beberapa profesi sebagai simbol ke-ekstra-an itu: kuli angkut pasar, buruh bangunan, penulis, penyair, seniman, termasuk mungkin tenaga medis (di lapangan) saat pandemi. Tentu, bisa dilanjutkan sendiri list tersebut.

Narasi yang terbangun, atau sengaja dibangun, terkait ‘daun bakar’ ini, jika boleh dikelompokkan, menjadilah dua kutub narasi utama: positif-negatif, atau baik-buruk. Tembakau menjadi positif, bagi orang yang telah merasakan betul kebaikannya. Tetapi yang agak janggal, kutub oposisinya, kadang sebaliknya. Tidak merasakan sendiri (efek) keburukan tembakau.

Saya melihat satu hal yang banyak dikesampingkan, khususnya terkait tembakau—umumnya pada banyak perkara—yaitu aspek otentisitas diri dalam melihat hal ihwal. Aspek otentisitas diri adalah satu bentuk cara menyikapi masalah dengan bertumpu pada “pengalaman diri” sendiri secara ketat, terukur dan teruji. Heidegger, sang filsuf, dia menyebut otentisitas ini sebagai kesadaran diri otentik. Sebentuk cara pandang hidup yang berpola pada penjernihan pengalaman untuk membangun pengetahuan diri sendiri (dasein).

Berangkat dari sini, bagi saya tembakau lintingan, atau rokok dalam peta lebih luasnya, bermanfaat sebagai “ruang jeda”. Sebuah ruang untuk mengakrabi nafas, yang di dalamnya terdapat semesta kecil terkait kejernihan, kedalaman dan kebetahan berrefleksi. []

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top