Sedang Membaca
Sikap Umar Bin Khatab Saat Dimarahi Istrinya
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sikap Umar Bin Khatab Saat Dimarahi Istrinya

Aguk Irawan MN

Cinta dan tangggung jawab adalah dua hal yang berbeda, namun ia pasangan yang serasi. Mungkin seperti itu pula pasangan hujan dan sinar matahari, lalu disana tercipta pelangi. Mungkin seperti itu laut dan langit, lalu disana terdapat sebuah pantai, dan mungkin juga seperti itu seorang lelaki dan perempuan, dua insan yang tentu saja berbeda, tetapi bisa bertemu dan menjadi sempurna karena menikah.

Pernikahan adalah momen luar biasa bagi yang memahami dan mengerti eksistensi hidup, tapi, pada akhirnya ia juga ‘peristiwa’ yang seharusnya bagi dunia.

Bukankah telah diciptakan langit dan bumi?

menjadi sepasang, juga pohon dan desir angin

lalu mereka bertemu dalam hari-hari

bercumbu-rayu, siang-malam saling memeluk

Tetapi tak semua yang menjalin hubungan bisa semujur itu, sebab kadangkala, dalam keindahan hujan ada badai, dalam  keindahan laut ada tsunami, dalam keindahan langit ada topan dan seterusnya. Layaknya perahu, rumah tangga kadang juga membutuhkan keseimbangan untuk terombang-ambing oleh ombak di lautan. Ada aral melintang. Ada kesulitan yang datang. Semuanya adalah tantangan dan riak-riak kecil yang berbanding lurus dengan keteguhan sikap dan komitmen membangun rumah tangga.

Sebuah hubungan yang bebas dari pertengkaran, goresan dan sedikit luka, tentu saja itu mustahil. Sebab nyatanya, kisah Cinderella dan Prince Charming yang mengagumkan itu pun, masih terdapat riak-riak masalah.

Baca juga:  Meletusnya Fitnah Kubra, Menantu Rasul Dianggap Yahudi

Tentu tidak menyenangkan, salah-paham, bertengkar, bahkan punya masalah dengan pasangan, –seseorang yang sudah menjadi takdir, bagian terpenting dari hidup dan kebahagiaan kita sendiri. Namun percayalah, pertengkaran  tidak menandakan berakhirnya hubungan. Karena alam raya ini mengajari, bahwa setiap keseimbangan membutuhkan gerak dan perubahan.

Mungkin itu sebabnya khalifah Umar pernah mengatakan sesuatu — dengan kalimat yang bersahaja, tak melambung, tak berliku —tetapi nasihat itu langsung bisa diterapkan.

Baca Juga

Alkisah, diriwayatkan, suatu hari seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah, tak tahan dengan segala protes, keluh-kesah dan sumpah serapah keluar dari mulut istrinya. Begitu sampai di depan rumah Sang Khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar juga istri Umar yang mirip istrinya, marah-marah, protes ini itu.

Bahkan, bisa jadi cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah kata pun terdengar keluhan dari mulut Sang khalifah. Umar diam saja, ia bahkan dengan hikmat dan kesabaran mendengarkan istrinya yang sedang berkata-kata dengan gundah itu. Akhir cerita, lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Namun kisah tak sampai berhenti disitu. Saat ia tak sengaja bertemu dengan Sang Khalifah di serambi Masjid, ia langsung menanyakan kejadian yang dinilai ganjil itu. Kenapa Umar begitu sabar dengan Sang istri? Apa Jawaban Umar? Inilah kata yang bersahaja itu, “Wahai saudaraku, cinta adalah ketika kebahagiaan seseorang lebih penting dari kebahagiaanmu…”

Baca juga:  Perlawanan Kultural Kiai Haji Hasyim Asy’ari

Umar diam sejenak, lelaki itu juga tertegun. Lalu Umar melanjutkan, “Istriku adalah yang memasak masakan untukku, mencuci pakaian-pakaianku, menunaikan hajat-hajatku, menyusui anak-anakku. Jika beberapa kali ia berbuat tidak baik kepadaku, aku selalu mengingat, keburukan itu tak ada harganya dibanding jasa dan pengorbanannya untukku. Dengan seperti itu tak ada tempat yang tersisa untuk kesal dalam hatiku..”

Mungkin ini pula rahasia Umar, kenapa ia bisa menaklukan banyak lawan-lawannya. Wallahu’alam bishawab.

Lihat Komentar (0)

Komentari