Sedang Membaca
Membedah Kitab Minhaj Al-Atqiya’: Kritik Tajam Kiai Sholeh Darat atas Kemunculan Da’i Prematur
Aflahal Misbah
Penulis Kolom

Penulis adalah alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Konsentrasi Islam Nusantara.

Membedah Kitab Minhaj Al-Atqiya’: Kritik Tajam Kiai Sholeh Darat atas Kemunculan Da’i Prematur

Aktivisi

Dalam dua dekade terakhir ini, publik Indonesia menyaksikan semakin banyaknya kelompok-kelompok Muslim dengan berbagai ideologi dan pemikiran yang tumbuh subur. Meskipun benih-benih pertumbuhan ini sudah bermula sejak tahun 1970an, keberadaan mereka baru mulai semakin terlihat jelas dengan bantuan-bantuan media modern seperti internet dan media sosial yang semakin mudah diakses pasca Orde Baru.

Media-media ini bukan hanya membantu memperkenalkan figur-figur utama dari masing- masing kelompok Muslim, namun juga memperkenalkan masing-masing anggota mereka yang ingin ikut tampil juga sebagai aktor dakwah, terlepas didukung dengan pengetahuan Islam yang memadai atau tidak. Seperti kasus baru-baru ini yang sedang hangat diperbincangkan; memimpin jamaahnya dengan bacaan al-Qur’an yang kacau. Peristiwa itu kemudian tersebar luas ke publik dan menyebabkan banyak kritik bermunculan.

Kemunculan da’i prematur dan kritik terhadapnya sebenarnya bukan peristiwa baru di Indonesia. Sekitar satu abad yang lalu, Kiai Sholeh Darat, salah satu ulama Jawa prolifik yang berhasil memopulerkan Arab-Pegon pada akhir Abad 19 (Saiful Umam, 2011), pernah merekam kemunculan da’i semacam ini. Dalam kitabnya Minhāj Al-Atqiyā’ yang selesai ditulis pada tahun 1316 H/1899 M, Kiai Sholeh mengatakan,

… كَايَ غَالِبَيْ اِيْكِي زَمَانْ، غَالِبَيْ طَالِبِ العِلْمِ يَينْ وُوسْ اَولِيهْ عِلْمُ كۤدِيكْ مَكَ اَيڠْڮَالْ۲ڮِنَاوَي خِدْمَةُ الظُّلْمَةْ اُتَوَا اَيڠْڮَال۲ڠَاكُو دَادِي ڮُورُو اِڠْ حَالَي دُورُوڠْ ڠۤرْتِي كَلَامُ العَرَبْ…

Baca juga:  Penentuan Tanggal 1 Ramadlan dan Bulan-Bulan Qamariyyah

Seperti umum terjadi saat ini, kebanyakan para penuntut ilmu ketika baru memperoleh sedikit ilmu sudah cepat-cepat digunakan untuk khidmah aż-żulmah (melakukan kedzaliman), atau ingin cepat diakui sebagai seorang guru meskipun belum paham bahasa Arab. (Minhāj Al-Atqiyā’, h. 274)

Setelah memaparkan kemunculannya, Kiai Sholeh kemudian melanjutkan penjelasannya dengan kritik yang tajam. Kiai Sholeh memandang bahwa penyebab utama dari munculnya da’i-da’i prematur semacam itu karena didasari oleh keinginan mereka untuk memperoleh harta benda, seperti sawah atau pekerjaan dari pemerintah,

… اُورَ اَنَا سۤجَانَي اَمُوڠْ اَمْرِيهْ بوْنَدَا دُنيَاوِيَةْ كَايَ اَمْرِيهْ سَاوَاهْ سَڠْكِڠْ رَاتُو اُتَوا سُوفَيَا كَڠْڮَو مَڮَاڠْ رَاتُو، نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

(Semua itu sangat jelas menunjukkan bahwa) tidak ada tujuan lain selain (didasari oleh) keinginan memperoleh harta benda, seperti ingin dapat sawah dari ratu atau supaya mendapat pekerjaan dari ratu. Na`ūżu bi Allah min `ilmi lā yanfa`u. (Minhāj Al-Atqiyā’, h. 274)

Dengan mengutip pandangan Imam Ghazali, Kiai Sholeh mengibaratkan orang-orang seperti ini seperti orang yang mengusap mukanya dengan sepatunya sendiri.

اَڠٓنْدِيكَا اِمَامُ الغَزَالِي: مَکَ آنْدِي۲ وَوڠْكَڠْ اَمْرِيهْ اِڠْ عِلْمُ كٓرَنَ ڮِنَاوَي اَمْرِيهْ اَرْتَ اِيْكُو مِثَالَي كَايَ دَينَي وَوڠْكَڠْ ڠُوسَفَاكٓنْ تٓرَومْفَاهَي اِڠَتَسَي رَاهِنَي، كٓرَنَ ڮِنَاوَي بٓرْسِيهَي رَاهِنَي. مَکَ دَادَيكَاكٓنْ مَخْدُومْ دَادِي خَادِمْ لَنْ خَادِمْ دَادِي مَخْدُومْ. اَنَدَينَي مٓڠْكَونَو اِيْكُو وَوڠْكَڠْ كُوَالِيكْ عَقَلَي.

Baca juga:  Perempuan-perempuan Bercadar itu (4, Bagian Terakhir)

Imam Ghazali mengatakan bahwa siapa pun yang mencari ilmu karena untuk mencari uang, itu seperti orang yang mengusapkan sepatunya sendiri di mukanya, karena untuk membersihkan mukanya. Jadi, (mereka itu) menjadikan makhdum jadi khadim, dan khadim jadi makhdum. Itu semua adalah perbuatan yang mencerminkan kwalek akal (otaknya terbalik). (Minhāj Al-Atqiyā’, h. 275)

Ibarat seperti itu sangat wajar karena semua itu adalah salah satu cermin dari kwalek akale (otaknya terbalik), sebab menjadikan yang seharusnya makhdum (yang dilayani) jadi khadim (pelayan), dan yang seharusnya khadim (pelayan) jadi makhdum (yang dilayani). Atau dengan kata lain, seorang yang memiliki ilmu sudah seharusnya dilayani, bukan melayani. Namun karena seorang pelajar ingin cepat-cepat diakui sebagai guru, kondisi yang terjadi justru sebaliknya.

Selain memandang da’i prematur sebagai manusia yang kwalek akale, Kiai Sholeh juga menjelaskan bahwa ada pemahaman yang salah dalam diri da’i-da’i prematur. Mereka mengira jika penghasilan yang diperoleh melalui ilmunya bertambah, maka dia bisa sampai kepada Allah dan hal itu merupakan karamah dari Allah. Padahal tidak demikian. Kiai Sholeh mengatakan bahwa meningkatnya penghasilan yang diperoleh melalui ilmunya, tidak lain adalah bentuk meningkatnya kesesatan mereka, dan itulah sumber dari sebuah kehancuran.

مَکَ ۑَونَا۲ وَوڠِيكُو دُومَيهْ مُونْدَاكْ فٓڠَاصِيْلَانَي اِيْكُو دَادِي بِيْصَا وَاصِلْ اِلَى اللهِ، تَوْ اِيْكُو اُورَا. لَنْ دَينْ ۑَونَا۲ مُونْدَاكَي جِزْيَةْ فٓڠَاصِيْلَانْ اِيْكُو كَرَامَاتْ سَڠْكِڠْ اللهْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَايَ دَيْنَي مُونْدَاكَي سَاوَاهْ سَڠْكِڠْ رَاتُو دُومَيهْ اَكَيهْ عِلْمُونَي لَنْ دُومَيهْ عَالِمْ كَبِيرْ،مَکَ مُونْدَاكَي جِزْيَةْ اِيْكُو اُورَا نُودُوهَاكٓنْ مُلْيَانَي عِنْدَ اللهْ، اُورَا.مَکَ وَوڠِيكُو دَادِي مُونْدَاكْ ضَلَالْ، مَکَ اِيْكُو عَيْنُ الهَلَاكْ.

Baca juga:  Kopi, Rokok, dan Orang Madura

Orang-orang itu mengira jika penghasilannya bertambah, maka bisa menjadi lantaran atau washil ila Allah, padahal tidak. Dan mereka juga mengira jika meningkatnya penghasilan mereka adalah karamah dari Allah Swt seperti dapat tambahan sawah dari ratunya karena ilmunya dan kealimannya, padahal meningkatnya upah penghasilan (mereka) itu sama sekali tidak menunjukkan kemuliaannya di sisi Allah. Justru, orang-orang tersebut malah meningkat tingkat kesesatannya, dan itulah sumber kehancuran (Minhāj Al-Atqiyā’, h. 276)

Meskipun saya belum tahu persis apa tujuan utama dari munculnya da’i-da’i prematur seperti sekarang ini, kritik Kiai Sholeh di atas sangat penting untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan, baik untuk memahami fenomena kemunculan dan perkembangan da’i prematur di Indonesia, atau untuk sebatas landasan historis dalam mengkritik da’i  prematur.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top