Sedang Membaca
Kisah Baju Baru Sang Kaisar
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kisah Baju Baru Sang Kaisar

Achmad Munjid

Meski sebagian besar lembaga polling yang kredibel telah memprediksi hasil akhir pilpres 2019 dengan perolehan berselisih 10%, kubu Prabowo yang diperkirakan kalah justru mendeklarasikan kemenangan berkali-kali.

Mereka begitu yakin, meski sebetulnya tak punya dasar kuat kecuali keinginan yang besar dan “bisikan-bisikan” orang-orang yang berkerumun di sekitar sang tokoh. Ibarat orang yang masuk hutan tanpa peta, ketika bergerak kian-kemari yang kerap dilihatnya adalah pohon jati, ia pun segera menarik kesimpulan bahwa seluruh hutan itu berisi pohon jati. Siapa pun yang menolak keyakinannya, apalagi mengatakan hal sebaliknya akan langsung dituduh pembohong.

Prabowo dan sebagian pendukungnya tidak peduli, meski dunia luar mulai menertawakannya.

Saya jadi ingat cerita anak-anak “Baju Baru Sang Kaisar” (1837) karya penulis Denmark-Norwegia Hans Christian Andersen yang kemudian sangat populer di seluruh dunia itu.

Baiklah saya tulis ulang cerita itu dengan modifikasi bebas.

Pada zaman dulu, hiduplah seorang kaisar yang kesibukan utamanya adalah mengoleksi baju-baju baru. Ia tidak pernah mengurus rakyat, tak mau peduli pada kewajibannya sebagai kaisar. Yang dilakukannya hanyalah berburu baju-baju baru dan berganti busana setiap jam. Untuk apa?

Hanya untuk dipamerkannya kepada khalayak, bukan yang lain. Mendengar ini, dua orang penipu segera beraksi dengan menyamar sebagai penenun dan penjahit ulung.

“Kami bisa membuat baju terindah di dunia yang punya kekuatan ajaib. Asal Baginda berkenan menyediakan uang supaya kami bisa membeli bahan-bahan berkualitas nomor satu, dengan senang hati kami akan membuatnya khusus untuk Baginda,” kata penipu pertama dengan meyakinkan.

“Orang-orang bodoh, orang-orang yang banyak dosa, para penipu dan orang-orang yang tidak menjalankan tugasnya tidak akan bisa melihat baju ini. Dengan memakai baju itu, Baginda nanti akan bisa segera tahu siapa-siapa yang bodoh, yang banyak dosa, penipu dan mereka yang lalai terhadap tugas dan kewajibannya,” ujar penipu kedua pula.

Baginda senang bukan main. Bukan cuma khalayak akan mengagumi baju barunya, ia juga akan tahu orang-orang tidak beres di sekitarnya. Maka ia pun segera memberi uang berlimpah kepada dua penipu yang menyamar sebagai tukang tenun dan penjahit tadi.

Baca Juga:  Bagaimana Rasulullah Mendidik si Pemabuk?

Setelah mengamankan uang yang diperolehnya dari sang Kaisar, kedua penipu itu pun segera pura-pura bekerja siang-malam tanpa henti.

Setelah beberapa hari, untuk meyakinkan, kaisar mengirim seorang Menteri kepercayaannya untuk mengecek pekerjaan si penenun. Bukan main kagetnya sang menteri, ketika sampai di sana ia tak bisa melihat apa-apa kecuali dua orang yang tampak sibuk menenun udara.

“Aku bukan orang bodoh dan aku selalu menjalankan tugasku dengan sebaik-baiknya. Aku juga bukan penipu, tapi mungkin aku banyak dosa, jadi aku tak bisa melihat kain yang sedang mereka tenun,” batin sang Menteri. Tapi ia diam saja.

“Bagaimana, Yang Mulia, indah sekali bukan? Silakan periksa sendiri warna, pola, dan motif yang kami tenun. Kami jamin, tidak ada penenun lain yang sanggup menandingi karya kami ini, silakan periksa baik-baik,” kata penenun sembari memamerkan udara hampa yang seolah tengah digarapnya dengan sangat hati-hati.

Jelas, sang Menteri sebetulnya tidak melihat apa-apa. Tapi ia manggut-manggut sambil tak berhenti berdecak supaya tidak ketahuan kalau sebetulnya ia tak melihat apa-apa.

Sang Menteri kembali menghadap Kaisar dengan segudang pujian yang ia karang sendiri. Kaisar merasa puas.

Tapi ia segera mengirim Menteri yang lain untuk memastikan. Hal yang sama terjadi. Menteri kedua ini pun tak bisa melihat apa-apa. Tapi ia juga berpura-pura melihat dan mengagumi keindahan kain yang sedang ditenun oleh dua penipu tadi. Meski yakin bahwa dirinya tidak bodoh, kalau berkata jujur, Menteri itu takut akan ketahuan sebagai pejabat yang suka menipu, suka melalaikan kewajiban tugasnya dan orang yang banyak dosa.

Ia pun kembali menghadap Sang Kaisar dengan serangkaian pujian bagi karya sang penenun, menguatkan pujian Menteri yang pertama.

Setelah mendengar laporan kedua menterinya, Kaisar sendiri menjadi sangat penasaran. Tapi ia tiba-tiba khawatir, jangan-jangan nanti ia justru yang tak bisa melihat apa-apa. Jelas ia seorang Kaisar yang cerdas. Tapi menipu, perbuatan dosa dan tak menjalankan tugas? Betapa pun akhirnya ia memutuskan untuk pergi memeriksa. Ia membawa kedua Menteri yang telah dikirim sebelumnya, lengkap diiringi para pembesar yang lain pula.

Baca Juga:  Tuhan dan Klise

“Ah, Baginda Kaisar datang pada waktu yang tepat. Lihat, kain indah yang ajaib ini sudah hampir selesai. Kami jamin, Baginda tidak akan kecewa dengan karya dan keahlian yang kami persembahkan. Silakan periksa sendiri, Baginda,” kata sang penenun dengan begitu meyakinkan.

Sang Kaisar tak melihat apa-apa. Tapi kedua Menteri yang telah dikirim sebelumnya segera mengulangi beribu pujian atas hasil kerja sang penenun seperti telah mereka laporkan sebelumnya. Bahkan kini pujian itu terdengar lebih hebat lagi.

Pembesar-pembesar yang lain pun segera manggut-manggut menyetujui ucapak kedua menteri tadi karena mereka semua takut dianggap bodoh, penipu, pendosan dan kerap melalaikan tugas dan kewajiban jabatannya. Jelas, sebetulnya semua orang tak melihat apa-apa kecuali udara hampa.

Kaisar itu pun kembali ke istananya dengan pikiran terganggu. Tapi ia tidak bisa tidak berpura-pura. Sesungguhnya begitu pula setiap anggota rombongan yang menyertainya.

Tapi tak seorang pun mau mengaku. Setelah itu, setiap orang justru menceritakan keindahan dan kehebatan karya si tukang tenun, sehingga berita mengenai baju baru ajaib sang Kaisar segera beredar ke segala penjuru.

Baca Juga

Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Baju baru Kaisar telah dinyatakan siap. Baginda dipersilakan masuk ruang ganti disertai para menteri utama dan punggawa terdekatnya.

Di luar rakyat telah berbaris menunggu antusias ingin turut menyaksikan sang Kaisar dengan busana indahnya yang ajaib itu.

“Silakan tanggalkan baju yang lama, Baginda, dan kenakanlah busana baru yang ajaib ini dengan hati-hati. Kulit Baginda mungkin tidak akan merasakan apa-apa ketika mengenakan baju ini. Tapi itulah bagian dari keajaibannya. Seluruh rakyat yang sudah menunggu di luar pasti akan sangat kagum pada busana baru Baginda. Kami jamin,” kata si penenun penuh percaya diri.

Bukan main terperanjatnya Sang Kaisar, setelah kedua penenun dan penjahit itu selesai memasangkan baju baru dengan ekstra hati-hati dan dibantu oleh para perias kerajaan, ketika menghadap cermin ia tidak melihat apa-apa kecuali tubuhnya yang berdiri telanjang bulat.

Tapi ia terpaksa segera menepis keterkejutannya, karena semua yang hadir di sekelilingnya tak henti-henti mengucapkan puji-pujian untuk dirinya. Mereka semua tak henti berdecak dengan sorot mata yang tampak penuh kekaguman.

Baca Juga:  Halalbihalal dan Perang Melawan Hawa Nafsu

Akhirnya, dengan langkah penuh kebesaran, Kaisar pun segera berjalan keluar, diiringi para menteri dan punggawa lainnya. Begitu Kaisar melangkah keluar beberapa detik rakyat sempat terdiam saking terkejutnya. Tapi rombongan yang mengirinya di belakang Kaisar segera memberi aba-aba sehingga tepuk tangan pun pecah membahana.

Ribuan pasang mata rakyat yang melihat Kaisar mereka telanjang bulat akhirnya saling berbisik satu sama lain menyampaikan pujian tak henti-henti. Tak seorang pun mau mengatakan yang sebenarnya, karena tak seorang pun ingin diidentifikasi sebagai orang yang bodoh, pendosa, penipu dan orang yang melalaikan tugas serta kewajibannya.

Sang Kaisar yang semula ragu dan kikuk kini melangkah mantap, berperilaku seolah-olah ia memang sedang menunjukkan pakaian kebesarannya.

“Ha ha ha…. Kaisar telanjang, Kaisar telanjang….,” dari tengah kerumunan tiba-tiba seorang anak kecil berteriak sambil tertawa-tawa. Orang-orang yang sejak tadi berpura-pura kini tak bisa lagi menahan tawa sambil mulai berbisik-bisik satu sama lain mengulang ucapan anak kecil tadi, “Kaisar telanjang, Kaisar telanjang….”

Kaisar kaget bukan main. Ia menengok para menteri dan punggawa yang berjalan di belakangnya.

“Tak usah hiraukan orang-orang bodoh, pendosa, dan para penipu itu, Baginda,” kata kedua Menteri yang berjalan pesis di belakangnya.

Akhirnya Sang Kaisar pun terus berjalan telanjang bulat dengan langkah kebesarnnya. Tapi suara tawa dan bisik-bisik khalayak makin lama makin riuh-rendah. “Kaisar telanjang, Kaisar telanjang ha ha ha…..!”

Lihat Komentar (0)

Komentari