Sedang Membaca
Muhammadku Sayangku: Kemahabaikan Allah Ta’ala kepada Umat Kanjeng Nabi Muhammad
Achmad Dhani
Penulis Kolom

Mahasantri Mahad Aly Sa'iidusshiddiqiyah Jakarta; alumnus pesantren Al-Isti'anah Plangitan Pati.

Muhammadku Sayangku: Kemahabaikan Allah Ta’ala kepada Umat Kanjeng Nabi Muhammad

Muhammadku Sayangku

Ada banyak hadis yang menerangkan betapa Kanjeng Nabi Saw. sangat sayang kepada umatnya. Saking sayangnya, Nabi menghendaki semua umatnya untuk dapat masuk surgaNya. Kepada kekasihNya ini, Allah Swt. telah memberikan wewenang penuh kepada beliau Saw. untuk menyelamatkan siapapun yang dikehendakinya melalui syafaatnya.

Kemahabaikan Allah Swt. kepada kanjeng Nabi Saw. ini tertuang dalam buku Muhammadku Sayangku seri ke-lima. Buku yang diciptakan agar menambah ilmu dan kecintaan kita kepada kanjeng Nabi ini, ditulis oleh Edi Ah Iyubenu.

Dan seperti biasa, Edi merampungkan karyanya dengan waktu singkat menjelang bulan Maulid. Saya cukup mengikuti dengan buku yang hanya akan terbit setahun sekali, pada bulan kelahiran Nabi ini. Dan buku ini merupakan bukti cinta dan keberpihakan penulisnya terhadap Allah Swt. dan RasulNya.

Dibanding dengan buku yang sekedar berisi kisah-kisah yang kering dan narasi-narasi yang membosankan, buku ini lebih kepada pengalaman rohani yang bisa langsung dirasakan  di relung hati para pembacanya. Kita akan intens bergumul dengan dalil-dalil dan kajian analitisnya terhadap Sayyid al-Wujud Saw.

Maka, pada buku Muhammadku Sayangku 5: Sang Rahmat Bagi Semua Makhluk ini, begitu menarik pemahaman kepada kita semua. Bahwa, Betapa kanjeng Nabi Saw. selalu mempedulikan keselamatan kita semua di sisiNya.

Kegembiraan yang maha riang ini meruah oleh sebab Nabi bersabda, bahwa sekalipun umatnya pendosa tetap saja akan dimasukkan ke surgaNya. Dan hanya orang-orang yang tidak mau saja, yang tidak dimasukkan surga tersebut.

Baca juga:  Sastra (Pesantren), Bukan Sekadar Bercerita

Umat kanjeng Nabi itu sudah sangat dimanjakan oleh Allah Ta’ala. Bagaimana tidak, manusia-manusia yang masih saja gemar bermaksiat masih saja, dirayu-rayu olehNya agar tidak sekali-kali berputus asa dari pengampunanNya, rahmatNya dalam segala kondisi apapun.

Beliau memfirmankan dengan tegas dan jelas bahwa Allah Swt. menyayangi umat kanjeng Nabi, sekalipun kepada pendosa. Diantaranya: “katakanlah (wahai Muhammad): ‘wahai hamba-hambaku yang telah berbuat melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dosa), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala, sesungguhnya Allah Swt. mengampuni segala (semua) dosa. Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S.  Az-zumar: 53).

Umat kanjeng Nabi Muhammad selain dijanjikan oleh Allah akan diberikan pengampunan atas dosa-dosa yang diperbuat, juga cara pertaubatannya pun tidak dipersulit. Cara memohonnya tidak perlu ditebus dengan melakukan hal-hal yang berat, apalagi menyakitkan raga sebagaimana umat-umat terdahulu.

Sebelum umatnya kanjeng Nabi, siapapun yang berbuat dosa, maka hukuman yang dideranya di dunia sangatlah keras dan mengerikan. Seperti keterangan dalam surat Al-Baqarah ayat 54. Bahwa umat Nabi Musa As. yang menyembah patung anak sapi, cara taubatnya harus dengan dibunuh. Ya, benar-benar harus membunuh dirinya agar pertaubatannya diterima oleh Allah Swt.

“Berbagai dosa lainnya juga harus ditebus taubatnya dengan cara memotong anggota tubuh yang telah berbuat dosa. Jika berzina, kelaminnya dipotong, jika berbohong, lidahnya dipotong, melirik lawan jenis tanpa hak,  matanya dicungkil, dan seterusnya.

Baca juga:  Bung Karno dalam Bingkai Lukisan

Dan, tentu masyhur sekali ayat tentang kelompok umat Yahudi melanggar aturan Hari Sabat untuk hanya beribadah dan tidak bekerja sama sekali. Pelanggaran mereka berbuah hukuman yang mengerikan.” (hlm.49)

Adapun umat kanjeng Nabi cukup menebusnya dengan beristighfar, bertaubat, memohon ampun kepadaNya. Mau memohon ampunannya dengan cara berucap “astagfirullah” atau ucapan lain dalam segala derivasinya dengan bahasa apa saja, termasuk bentikan-bentikan batin, itu sudah shahih.

Biarpun demikian, masih ada yang menjadi pembeda antara yang diampuniNya dengan yang tidak akan pernah diampuniNya. Yakni, Allah Swt. selamanya tidak akan mengampuni hambaNya yang menyekutukanNya dengan sesuatu hal yang lain. Sebab, syirik sepadan dengan kakafiran. Dan kekafiran itulah yang benar-benar nyata menunjukkan dirinya atas ketidak berimanannya terhadap Allah Swt. dan RasulNya.

Kecuali hamba tersebut mau berhenti dari kekafirannya, dan mulai bersyahadat, mengimani Allah Swt. dan RasulNya. Maka seketika itulah pintu maghfirah, pengampunan dari Allah terbuka lebar bagi hamba tersebut.

Buku ini selain menyinggung terkait kemahabaikan Allah kepada umat Nabi juga bertutur mengenai sahabat-sahabat Nabi yang mengagumkan. Periodisasi sahabat adalah umat yang paling beruntung sebab langsung bersinggungan, bersitatap dan bergumul dengan sosok baginda Nabi.

Pembacaan kita terhadap literatur tentang sosok Nabi dan sahabatnya tak lantas mendeskripsikan secara lengkap bagaimana kehidupan Nabi di zaman dulu. Namun tanpa sirah dan tanpa tuntunan dalil-dalil, kita tak mampu memahami pokok dari syariat. Mempelajari sirah bukanlah semata-mata bacaan ringan atau hiburan belaka, jauh daripada itu mempelajari sirah adalah mengkaji agama, memperkokoh keimanan. Kita bisa menyelami bagaimana akhlak Nabi dan mendalami setiap napas kehidupannya yang menyimpan segudang teladan yang tak pernah kering.

Baca juga:  Terbius Gus Mus

Buku setebal 254 halaman ini cukuplah untuk dinikmati secara berkala maupun sekali gebut. Bagiku, buku ini adalah wasilah untuk mengenal dan mengakrabkan diri dengan kehidupan Kanjeng Nabi dan Sahabat. Apapun itu, buku ini cocok untuk menemani kita untuk bersantai ria, terlebih menunggu waktu berbuka puasa.

Sebelum menutup catatan, aku ingin mengisahkan sedikit cerita dari seorang Badui yang teramat mencintai Nabi.

Suatu ketika, kanjeng Nabi Saw. sedang ngendikan dengan para sahabatnya. Beliau mengabarkan tentang Kiamat. Tiba-tiba ada seorang Badui menyerobot bertanya kepada beliau, “kapan hari kiamat itu datang?” Kanjeng Nabi meneruskan kalamnya, tapi si Badui ini kembali memotong pembicaraan, “wahai Nabi, lalu kapan kiamat itu datang?” Kanjeng Nabi kembali tidak menjawab. Hingga tiga kali si Badui ini bertanya tentang hal yang sama.

Nabi berhenti dan berkata, “apa yang sudah engkau persiapkan?”

Si Badui menjawab, “tidak ada, kecuali sesungguhnya aku mencintai Allah dan RasulNya”.

“Engkau akan bersama orang yang engkau cintai”.

 

Judul    : Muhammadku Sayangku 5; Sang Rahmat Bagi Semua Makhluk

Penulis  : Edi AH Iyubenu

Tebal    : 182 halaman

Terbit   : Cetakan pertama, September 2023

Penerbit : DIVA Press

ISBN     : 978-623-189-283-3 

         

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
3
Ingin Tahu
2
Senang
2
Terhibur
2
Terinspirasi
4
Terkejut
2
Scroll To Top