Sedang Membaca
Insecure Dapat Menjadikan Kita Ekstremis?
Achmad Dhani
Penulis Kolom

Mahasantri Mahad Aly Sa'iidusshiddiqiyah Jakarta; alumnus pesantren Al-Isti'anah Plangitan Pati.

Insecure Dapat Menjadikan Kita Ekstremis?

Terorisdigital

Dalam suatu pidato, salah satu anggota boy group Korea BTS bernama Kim Namjoon barkata, “No matter who you are, where you’re from your skin colour, your gender identity just speak yourself! Jika dalam bahasa Indonesianya berarti, “Tidak peduli siapa kamu, dari mana asalmu, warna kulitmu, identitas gendermu, bersuaralah!”  

Hal ini menstimulus bagaimana pentingnya untuk mempercayai diri sendiri agar turut mengambil peran lebih. Orang yang tak begitu mendapatkan suplai dukungan dari dirinya sendiri, cenderung (bahkan besar kemungkinan) akan menimbulkan sikap insecuritas. Terlebih menganggap dirinya serba kurang dan tak memiliki keunggulan sedikitpun dibanding dengan yang lainnya.

Ihwal insecuritas, kawula muda kita sering terpapar ini yang berimplikasi pada ketidakyakinannnya dalam bertindak dan plinplan dalam memilih keputusan. Keminderan ini bisa saja terjadi dari lingkungan pergaulannya yang kurang mendukung ia bergerak maju. Namun tak terlepas dari itu juga, selain faktor eksternal lingkungan tersebut alangkah baiknya kita membangun kekuatan dari faktor internal diri.

Karena faktor internal diri dikembangkan untuk menyokong kekuatan dari pengaruh-pengaruh negatif luar yang menjerumuskan pada kubangan kenestapaan. Bahwa perlu disadar akui, setiap orang memiliki bekal bawaan yang potensial untuk didaya gunakan dan dikembangkan. Bukan justru tertekan dan terperdayakan oleh judgmental yang keluar dari perkataan dan buah perbuatan orang lain.

Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, pernah memaparkan ihwal insecuritas pemuda yang dapat memicu pada tindak ekstremisme-terorisme. Kata beliau, kebanyakan orang yang kerasukan doktrin ekstremis adalah mereka yang mulanya memiliki kegelisahan hidup atas ketidakpercayaan mereka terhadap diri sendiri. Kesehatan mental yang buruk bisa memicu seseorang untuk bersikap keras dan tak bisa diatur.

Baca juga:  Melihat Indonesia Melalui Seni

Ketika seseorang kosong dan terpuruk dalam ketakutannya untuk mengambil peran lebih, maka masa seperti itulah intervensi dari luar sangat mungkin untuk masuk dan mendayagunakan kita. Paham ekstremisme yang dibawakan kaum yang mengharapkan keterpecahbelahan umat, menyerang kuwula muda semacam itu. Mereka mulai mensugesti keterpurukan yang dialami untuk dijanjikan sebuah kedudukan sosial yang mumpuni. Doktrin from zero to hero adalah yang paling ampuh untuk digunakan selain karena motif Agama.

Awalnya seorang enggan melakukan apapun lantaran dirinya minder terhadap kemampuan yang dipunyainya. Karena sudah terlanjur tidak percaya dengan kemampuan yang ia miliki, ia mencoba tampil dalam keadaan yang berbeda dengan agresifitas agar dideklarasikan sebagai seorang hero, pahlawan di tengah kelaliman.

Jika menjadi ekstremis berasal dari inspirasi Agama, maka orang yang sehat mental tidak akan mudah percaya begitu saja. Namun jika keterpurukan dan keraguan dalam hidup yang ia lalui, maka besar kemungkinan mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan orang lain.

Saat seseorang merasa sangat tertekan dengan kekurangan-kekurangan yang membelenggunya, maka tindak kemelencongan tak terperikan terjadi pada dirinya. Karena ia merasakan ketidakadilan atas dirinya, pikiran yang runyam akan mengantarkan pada pembelaan-pembelaan rasa melalui kekerasan yang tak mendasar.

Cara Menghilangkan Insecure Agar Tidak Ekstremis

Pada dasarnya perasaan insecur memang tak bisa sepenuhnya kita tanggalkan begitu saja. Seperti halnya keimanan, insecurity juga timbul tenggelam pada diri setiap manusia. Supaya insecure dapat dibendung dan tidak diulangi terus menerus, ada beberapa kiat yang dapat dilakukan.

Baca juga:  Ketika Gus Dur Menulis Kiai Ali Maksum

Diantara kiat tersebut adalah: pertama, jangan pernah membanding-bandingkan pencapaian orang lain dengan diri kita. Sebab kadar kemampuan dan kesempatan setiap orang ada porsinya masing-masing. Baik standar kecantikan maupun standar gaya hidup setiap personalnya. Tuntutan standarisasi yang memaksakan diri untuk kebutuhan tren sosial bukan kebutuhan personal tersebut hanya akan memperberat diri sendiri. Saat semua itu tak mampu tercapai, maka timbullah insecurity.

Ketika kita merasa diri kita lebih buruk dengan orang lain, maka selalu ingatlah pada Firman Allah Swt. dalam Surah Al-Isra’ ayat 70. Di dalamnya ditegaskan bahwa seburuk-buruk apapun kita Allah telah  mengaruniakan kelebihan pada diri kita. Oleh sebab itu, daripada mempermasalahkan diri kita yang tak sebanding dengan orang lain, maka lebih baik kita harus bersyukur. Karena itulah yang lebih baik.

Kedua, cobalah agar berteman dengan banyak kalangan, dengan siapapun agar terhindar dari kecenderungan ekstremis. Bersikap ekslusif kepada orang lain bukanlah hal yang benar. Sebab kemungkinan yang terjadi adalah menyalakan hasrat permusuhan yang besar. Meski resiko untuk bertemu banyak orang adalah kemungkinan banyak bergesekkan dengan dunia luar, yang memungkinkan akan memperparah insecurity pada diri seseorang. Namun ada benarnya jika kita bisa memungut hikmah dari setiap kejadian di perkumpulan-perkumpulan, di tempat-tempat yang bersinggungan banyak orang.

Baca juga:  Mengurai Konflik Etno Religius dengan Pengalaman Keberagamaan Lokal

Karena beda cerita jika kita terbuka dan mau bergumul dengan siapapun. Biarpun kita mengakui bahwa kita moderat, namun tetap saja bila kita tak mau membuka diri dengan orang lain, justru secara tak langsung kita telah menjadi ekstremis, yang mengungkung diri untuk tak mau bersentuhan dengan pihak luar.

Ketiga, persenjatai diri dengan ilmu pengetahuan dan keimanan. Ilmu pengetahuan adalah tameng terampuh untuk menjaga dari hal-hal yang disinyalir dapat mendiskreditkan diri kita. Karena dengan ilmu itu seseorang dapat percaya pada kemampuan mana yang dapat dikembangkan secara maksimal untuk menutupi keterbatasan-kekurangan yang kita miliki. Ibarat kata, ilmu pengetahuan adalah bahan bakar seseorang untuk menggugah jiwanya agar terus terpacu dalam langkah.

Selain ilmu pengetahuan, keimanan seseorang juga perlu kiranya disepadankan dengan ilmu yang diperoleh. Dengan adanya iman yang melekat di dada, seseorang akan bisa mengatur laju ritme pergerakan yang ia lakukan, antara hal yang diperbolehkan dilakukan dengan hal-hal yang bisa melebihi batas aturan.

Kelebihan dan kekurangan itu adalah sebuah keniscayaan pada kehidupan ini. Kita semua memiliki kekurangan yang berbeda. Maka dengan kekurangan itu, seenggaknya harus ada effort yang menuntun kita agar saling bekerjasama untuk mengisi kekurangan-kekurangan tersebut. Bukan halnya justru kita saling membanggakan apalagi saling menyalahkan.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top