Sedang Membaca
Ka’bah Megah Tak Ada Era Nabi Muhammad, Kristen dan Katolik Tak Ada Zaman Yesus
Abdul Gaffar Karim
Penulis Kolom

Dr. Abdul Gaffar Karim. Dosen FISIPOL UGM dengan minat riset utama tentang politik dan agama. Lahir di kota santri Sumenep, Madura, menyelesaikan pendidikan di Indonesia dan Australia.

Ka’bah Megah Tak Ada Era Nabi Muhammad, Kristen dan Katolik Tak Ada Zaman Yesus

“Saya gak apal salawatannya.” Begitu bisik orang di sebelahku di acara mauludan itu, saat hadirin bersama-sama menyanyikan salawat untuk Rasulullah.

“Gak apa-apa. Gak semua hadirin apal kok. Lihat polisi dan tentara itu, kan cuma mantuk-mantuk karena gak apal.” Aku menjawab sambil menjunjuk dengan daguku ke arah dua orang perwira menengah di seberang ruangan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Oh iya.”

“Lagian santai saja. Rasulullah sendiri tidak familiar kok dengan syair ini.”

Orang di sebelahku senyum ditahan. Kami berhenti ngobrol dan aku lanjut salawatan bersama hadirin. Dia lanjut mantuk-mantuk seperti polisi dan tentara itu.

Tapi pikiranku sudah pindah fokus gara-gara ucapaanku bahwa Rasulullah sendiri tidak familiar dengan syair ini.

Aku malah lanjut merenung sambil rengeng-rengeng salawatan.

Betapa banyak hal dalam pelembagaan agama yang para pendirinya pasti tidak familiar. Kebanyakan ritual, liturgi, struktur, hierarkhi, pembilahan dan pernak-pernik keagamaan adalah produk “after the prophet.”

Pembilahan Barat dan Timur di agama Kristen (a.k.a. “the grand schism”) itu sama sekali bukan perintah Jesus. Perpecahan lanjutan berupa Protestan dan Katholik di cabang Barat, apalagi. Struktur kepausan dalam agama Katholik juga bukan. Andai Jesus bangkit sekarang, dan tiba di Vatican saat pemilihan Paus, Dia pasti akan diusir saat berusaha masuk ke Sistine Chapel, sebab wajahnya beda dari yang digambarkan oleh hasil hayalan orang Eropa itu. Mungkin Swiss Guard akan menangkapNya.

Baca juga:  ​Ketika Gus Dur Beli Lukisan Amang Rahman

Dalam Islam, pembilahan Sunni dan Syiah juga bukan dibuat oleh Nabi Muhammad. Imperium demi imperium yang terbentuk setelah para khulafaurrasyidin juga tak didesain oleh dia, meski kini sebagian orang meromantisir itu sebagai konsep khilafah yang disakralkan. Kemewahan di istana para khalifah pasti akan sangat asing dalam pandangan Nabi yang tajir-melintir namun zuhud itu. Kalau Nabi Muhammad bangkit hari ini dan jalan-jalan ke Masjidil Haram, dia pasti heran melihat masjid megah itu. Dan Ka’bah? Bukan seperti itu yang dia lihat terakhir kali. Atau kalau dia tiba-tiba hadir di sebuah acara Bahtsul Masail, misalnya, Nabi Muhammad mungkin kalah debat dengan para kiai lulusan Al Azhar yang bacaannya segudang itu.

Jadi karena semua ini cuma fenomena yang bahkan tidak familiar bagi para pendiri agama, maka santai-santai sajalah dalam beragama. Jangan serius berlebihan.

Serius lho ini.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top