Sedang Membaca
Ketika Kiai Bisri Mustofa Menerjemah Mantiq
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ketika Kiai Bisri Mustofa Menerjemah Mantiq

Zaim Ahya

Kiai Bisri Mustofa Rembang menulis beragam karya, meliputi berbagai bidang ilmu yang diajarkan di pesantren, seperti tafsir, gramatika Arab dan lain sebagainya. Tak terkecuali, beliau juga menulis karya dalam bidang ilmu mantiq, atau logika.

Sebagaimana karya-karyanya yang lain, karya Kiai Bisri, yang berupa terjemahan dari nazham as Sulamul Munauroq karya Syekh Abdurahman al-Akhdhari, ditulis dengan huruf Arab pegon.

Karya terjemah ilmu mantiq Kiai Bisri, yang diterbitkan oleh penerbit Menara Kudus, berukuran kecil, mirip seperti buku saku. Sembilan puluh halaman isi kitab ini dicetak dengan kertas buram. Hanya sampul depan dan belakang, yang menggunakan kertas berwarna biru semi ungu.

Pada sampulnya terdapat gambar pohon yang mirip pohon kelapa, yang di sampingnya terdapat ranggon (gubuk kecil) yang cukup tinggi dilengkapi dengan tangga. Ranggon tersebut bersebelahan dengan matahari berwarna orange, dengan background dasar seperti pantai dan langit berwarna biru lengkap dengan awan putih.

Kalau melihat makna as-Sulamul Munauroq, yang berarti tangga yang dihias, dan ilmu mantiq yang oleh Syekh Abdurrahman diibaratkan seperti langit, yang bisa capai dengan tangga yang dihias tersebut, gambar sampul karya Kiai Bisri ini secara keseluruhan tampak korelasinya.

Tak seperti karya terjemahannya atas kitab Alfiah Ibnu Malik, yang beliau kasih nama tersendiri,  seperti Ausathul Masalik Li Alfiah Ibnu Malik, di sampul kitab ini hanya tertulis “Nadzam as-Sulamul Munauroq  fil Mantiq Terjemah-ipun al-Faqir Kiai Bisri Mustofa Rembang” dengan huruf Arab dan Arab pegon.
Membaca halaman terakhir kitab ini, penulis menemukan keterangan tanggal dan tahun. Tertulis: Rembang, 12 Rabiul Awal 1373 H yang bertepatan dengan (al-muwafiq) 19 November 1953 M. Sepertinya itu adalah tahun karya ini selesai ditulis.

Baca juga:  Haji Bagi Orang Madura

Latar belakang ditulisnya karya ini, karena banyaknya permintaan dari mitra-mitra Kiai Bisri agar menulis karya ini, sebagaimana cerita beliau di permulaan kitab.

Lalu, kiai Bisri pun mengusahakan membuat karya yang bisa menjadi dasar (tataran) dalam memahami Nazham as-Sulam Munauroq. Namun Kiai Bisri mengatakan, bahwa karya ini belum bisa memuaskan semua mitra beliau, apalagi untuk tingkatan atau level mahir (muntahi), tapi bagi para pemula (mubtadi), insya Allah beliau akan mengusahakan secukupnya, supaya tidak melebar dan malah membingungkan. Kiai Bisri menyebut karya ini sebagai risalah, yang akan beliau buat secara ringkas.

Sebelum memulai atau masuk ke penerjemahan, Kiai Bisri menceritakan tentang sejarah ilmu mantiq. Menurut beliau, dasar-dasar ilmu mantiq telah dipraktikkan sejak masa Luqman Hakim atau Nabi Dawud as, kemudian turun temurun sampai ke para filusuf Yunani. Beliau menyebut nama-nama seperti Bendufles, Sabqorotes, Baqrotes, Aflatun, dan Aristoteles.

Lalu oleh Aristoteles, dasar-dasar ilmu mantiq disusun menjadi sebuah “fan” tersendiri. Pada zaman Aristoteles kulliyat hanya berjumlah empat: (1) jinis, (2) fasal, (3) nau’, (4) aradh. Kemudian oleh filsuf setelahnya, Jalinus, kullyiat ditambah lagi satu, yakni (5) khossoh, di tahun 400 SM.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Kiai Bisri, filusuf-filusuf zaman kuno me-mantiq-kan segala hal, sehingga sebelum datang tablig Nabi dan Rasul, mereka sudah sampai kepada keyakinan yang mantap, bahwa alam semesta itu ada yang menciptakan, dan yang menciptakan itu tunggal dan maha kuasa. Lalu keyakinan itu dikuatkan dengan tablig Nabi dan Rasul.

Dengan demikian, tulis Kiai Bisri, tidaklah aneh jika Filusuf Imam al-Ghazali mengatakan, ilmu mantiq itu baik untuk dipelajari.

Bukan Sekedar Terjemah
Kalau hanya melihat sampulnya, karya ini hanya sekedar terjemahan, sebagaimana tertulis. Namun jika membaca isinya karya ini lebih cocok sebagai syarah (penjelas), atau bukan terjemah biasa.

Baca juga:  Tips Nyaleg ala Kitab Alfiyah Ibnu Malik

Kiai Bisri, selain memaknai Nazhamus Sulamul Munauroq dengan Arab Pegon, juga menjelaskannya, lengkap beserta contoh-contohnya. Bahkan contoh-contoh dari Kiai Bisri dalam karyanya itu sangat khas. Misalnya saat Kiai Bisri menjelaskan perihal qoul syarih (penjelasan yang menyampaikan seseorang pada tasawur, baik berupa definisi atau gambar), beliau mencontohkan seorang anak yang disuruh bapaknya membeli rondo royal. Anak tersebut lalu berpikir apa itu rondo royal, namun tetap saja tak bisa mengerti apa itu rondo royal. Lalu anak pun tanya pada bapaknya.
“Rondo royal adalah tape dan ketela yang dibungkus dengan adon-adon roti atau terigu lalu digoreng” kata bapaknya menjelaskan.

Baca Juga

Penjelasan bapak ini, kata Kiai Bisri adalah qoul syarih, karena dengannya, anak pun mengerti (tasawur) apa itu rondo royal. Contoh lain, saat Kiai Bisri menjelaskan hujjah khitobiyyah (argumentasi yang disusun dari premis-premis yang disandarkan kepada orang terpercaya)—salah satu dari lima hujjah aqliah—beliau mengambil contoh percakapan santri, perihal kitab apa yang lebih penting kuasai lebih dahulu.

Zaid berkata, menurutnya, kitab yang lebih penting dikuasai dahulu adalah Alfiah Ibnu Malik.
Pendapat Zaid dibantah oleh Umar. Menurut Umar, kitab yang lebih penting dikuasai dahulu adalah  Fathul Mu’in  dengan argumentasi bahwa pujangga kuno pernah berkata, “Kamu belajarlah fikih, karena fikih itu pegangan paling utama.”

Sedang argumen Zaid, karena siapa saja yang bisa Alfiah, dia akan bisa semua kitab. Karena Alfiah Ibnu Malik bisa mempermudah masalah-masalah yang sulit.

Baca juga:  Arab Gundul di Mata Santri

Argumentasi Zaid dan Umar di atas, menurut Kiai Bisri adalah contoh hujjah khitobiyah. Selain rondo royal dan percakapan santri di atas, masih banyak contoh-contoh lain yang khas, seperti beliau mencontohkan definisi rokok dan pisang goreng di bab muarrifat (definisi-definisi), dan lain sebagainya.

Penggunaan contoh-contoh seperti di atas, mungkin tidak akan kita temukan di kitab-kitab bahasa Arab yang ditulis selain ulama-ulama Nusantara. Dengan contoh-contoh tersebut, ilmu mantiq jadi terasa akrab dengan keseharian kita, orang Nusantara.

Usaha Kiai Bisri yang menjelaskan ilmu mantiq dengan alam pikiran orang Nusantara ini, adalah salah satu  bagian dari keilmuan Islam Nusantara, yang memiliki orisinalitas yang khas.

Dengan karyanya, mungkin tidak berlebihan dikatakan, bahwa Kiai Bisri  meng-Islam-Nusantara-kan ilmu mantiq. Contoh contoh yang khas dari Kiai Bisri ini juga menjadi tanda, bahwa Kiai Bisri mendalami ilmu mantiq dan mempraktikkannya dalam keseharian. Mungkin siasat Kiai Bisri menipu setan, supaya bisa produktif  menulis adalah satu dari praktik ilmu mantiq dalam hidup Kiai Bisri.

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top