Sedang Membaca
Kisah Gus Mus tentang Kiai Misbah dan “Jin Alas Roban”
Ulil Abshar Abdalla
Penulis Kolom

Founder Ngaji Ihya Online, aktif menulis dan ceramah tentang pemikiran keagaman. Dosen Unusia, Jakarta.

Kisah Gus Mus tentang Kiai Misbah dan “Jin Alas Roban”

Salah satu “nuktah” (anekdot), cerita menarik yang dikisahkan oleh Gus Mus tentang pamannya, yaitu Kiai Misbah Zainul Mustafa (adik kandung Kiai Bisri Mustofa), adalah berikut ini. Gus Mus mengisahkan anekdot ini saat sarapan di Hotel al-Shalihiyya yang terletak di seberang Masjid Nabawi di Madinah kemaren.

Nuktah ini hanya sebagian saja dari banyak kisah tentang Kiai Misbah yang diceritakan oleh Gus Mus. Semuanya menarik, jenaka, dan saya kisahkan untuk Anda karena bisa diambil ibrahnya, namun bila Anda hanya mengambil jenakanya saja juga tidak masalah. Bukankah jenaka, humor, juga ada manfaatnya?

Dari luar, kata Gus Mus mengutip kata seorang kiai dari Mranggen, Demak, Pak Bah (panggilan beliau untuk pamannya itu), memang tampak “galak” dan keras, tetapi beliau sebetulnya memiliki hati selembut sutera.

Inilah kisah itu.

Waktu masih belajar dengan (atau kepada?) Kiai Cholil Kasingan, Rembang, Misbah muda pernah menjadi qari’ atau santri senior yang diberikan tugas untuk mengajar santri-santri pemula. Yang diajarkan tentu kitab-kitab dasar seperti Jurumiyah. Salah satu santri yunior yang dia ajar adalah seorang santri asal Banyuwangi bernama Umar (sebut saja namanya begitu; saya tak usah menyebut nama aslinya).

Misbah muda sering membantu Umar untuk “nambal makna” (ini istilah khas pesantren tradisional ala NU). Saat seorang santri absen dari “ngaji” dengan kiai, dia harus “menambal” atau mengisi makna yang kosong. “Makna” atau “interlinear translation” (terjemahan yang diletakkan di antara baris-baris kalimat dalam kitab kuning) adalah segala-galanya bagi seorang santri.

Baca juga:  Kiai Amanullah Tambakberas dan Suara "Tuhan"

“Makna” adalah semacam tanda, atau otorisasi bahwa seorang santri memang benar-benar telah “ngaji” dengan seorang kiai A atau B. Makna biasanya ditulis tangan dan diletakkan di antara baris-baris kalimat. Kitab yang sudah dibubuhi makna yang berasal dari kiai senior yang berpengaruh, akan memiliki “nilai intelektual dan spiritual” yang amat tinggi. Seseorang yang memiliki kitab dengan “sah-sahan makna” yang berasal dari, misalnya, Mbah Hasyim Asy’ari, dia sama saja dengan memiliki harta karun yang tak ternilai.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Saat Misbah muda sudah menjadi seorang kiai, dan “misuwur”, dikenal sebagai Kiai Misbah Bangilan datanglah undangan ceramah dari Kiai Syafaat, pengasuh pesantren Darussalam, pesantren besar yang terletak di Blok Agung, Banyuwangi.

Sebetulnya, Kiai Misbah tidak dikenal sebagai kiai ceramah, dan sering menolak undangan-undangan ceramah. Beliau bahkan agak “sinis” pada kiai ceramah. Tetapi undangan ceramah yang satu ini beliau kabulkan karena berasal dari Banyuwangi.

Beliau mendengar bahwa Umar, santri yunior yang dulu pernah beliau ajar waktu “nyantri” di Kasingan, telah menjadi kiai besar dan dikenal sebagai wali yang kerap bertemu dengan Syekh Abdul Qadir Jailani — wali besar dari Baghdad itu. Kiai Misbah ingin “iras-irus” mengunjungi santrinya yang telah menjadi “wali” yang misuwur itu.

Baca juga:  Gus Baha dan Kiai Perokok Berat

“Kamu masih ingat saya, Mar?” tanya Kiai Misbah kepada Kiai Umar yang sedang “sembujung”, terlentang di ruang tamu, dikerubungi puluhan orang-orang yang sedang “sowan”.

Kiai Umar mencoba “ngilang-ngilingi”, meneliti wajah Kiai Misbah, berusaha mengenali tamu sepuh yang berani bertanya dengan nada yang agak kurang sopan itu: memanggil namanya hanya dengan “Mar”.

Sejurus kemudian, “Sinten niki nggih (siapa ini ya)?” tanya Kiai Umar. Sepertinya dia tak mengenali sosok Kiai Misbah ini. Tampaknya Kiai Misbah agak tersinggung karena santrinya yang dulu pernah dia ajar itu tak mengenali lagi gurunya. Kiai Misbah kemudian “nggeblas”, bergegas, berlalu dari ruang tamu itu, dengan perasaan agak jengkel.

Kejengkelan Kiai Misbah rupanya terbawa hingga ke podium saat ceramah:

“Saya beri tahu ya, para sedherek,” kata Kiai Misbah dari atas podium, di hadapan ribuan audiens, “ada dua sosok Abdul Qadir Jailani. Yang pertama adalah Syekh Abdul Qadir Jailani dari Baghdad yang misuwur sebagai sulthanul awliya’, rajanya para wali.

“Yang kedua adalah Abdul Qadir Jailani, sulthanul jann, rajanya para jin. Tinggalnya bukan di Baghdad, tetapi di alas Roban, Jawa Tengah sana.”

Kiai Misbah “unjal ambekan”, jeda, menarik nafas sebentar. Lalu: “Nah, para sedherek, Abdul Qadir Jailani yang katanya sering bolak-balik nemoni, mendatangi Kiai Umar itu bukan Syekh Abdul Qadir Jailani sulthanul awliya’ dari Baghdad, melainkan Syekh Abdul Qadir Jailani sulthanul jann dari alas Roban. Mekaten nggih, para sedherek.”

Baca juga:  Wajah Gus Dur di Kendaraan

Tentu saja, para hadirin tercengang.

Begitulah Kiai Misbah: kiai yang ceplas-ceplos, “straight forward”, terus-terang tanpa tedeng aling-aling. Jika berpolemik, beliau tak segan-segan menggunakan kalimat serangan yang langsung mengenai sasaran. Tetapi, seperti dikatakan oleh seorang kiai dari Mranggen itu, walau galak, Kiai Misbah punya hati selembut sutera.

Semoga Allah mengucurkan rahmat-Nya kepada Kiai Misbah Zainul Mustafa, kiai ‘alim yang amat wira’i ini. Sekian.

Mekkah, 18/2/2020

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
3
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top