Pendaftaran Workshop Menulis

Bagaimana Kebenaran Muncul?

Ulil Abshar Abdalla

Berikut ini adalah semacam proses bagaimana seseorang atau bangsa sampai kepada pemahaman atas kebenaran tentang dirinya sendiri. Sebut saja semacam “hermeneutics of self“, penafsiran/pemahaman atas diri-sendiri.

Kecenderungan alamiah pada setiap manusia adalah penyangkalan, “denial”. Kita, baik sebagai individu maupun himpunan sosial, selalu cenderung menyangkal fakta yang membikin kita tak nyaman.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kita, misalnya, menyangkal bahwa umur sudah bertambah, dan lutut kita tak lagi sekuat tahun-tahun lalu untuk menyangga tubuh kita yang ingin terus berlari. Kita menyangka bahwa “semuanya masih baik-baik saja”, dan karena itu kita tak mau mengakui bahwa ada sesuatu yang telah berubah.

Kita menyangkal bahwa pertambahan umur menyebabkan tubuh kita mengalami perubahan juga, dan karena itu, mestinya, prilaku kita juga harus berubah.

Kecenderungan menyangkal ini, mungkin, asal-usulnya adalah dari tendensi kita untuk berpikir dalam “masa lampau”. Kita sudah kenal apa yang terjadi pada masa lampau itu, dan kita pun sudah nyaman dengan hal-ihwal pada masa lampau tersebut.

Karena itu, kita malas untuk meninggalkan masa itu, bergerak ke masa yang masih belum jelas petanya, yakni masa depan. Entah masa depan kesehatan, masa depan keluarga, masa depan karir, hingga masa pertemanan.

Tetapi kecenderungan menyangkal pada diri manusia ini biasanya akan hancur berkeping-keping ketika berhadapan dengan fakta, dengan kenyataan yang ada di hadapan kita. Persis seperti Freddie Mercury yang kemudian capek sendiri menyangkal Aids yang menderanya. Saya sebut vokalis dahsyat berdarah Persia itu karena hari-hari ini jutaan orang sedang demam Queen lagi. Dan kebetulan hari ini, 27 tahun lalu, penyanyi ini meninggal karena Aids, yang disangkal dan disimpan sekaligus selama bertahun-tahun.

Baca juga:  Sejarah Masuknya Simthud Durar di Indonesia

Kecenderungan kita menyangkal bahwa umur sudah bertambah, akan dikalahkan oleh fakta yang muncul secara tak terelakkan di depan mata.

Saat kita memaksa terus berlari, dan mengira bahwa kita masih seperti masa muda dulu, sementara lutut kita mulai kesakitan menahan beban tubuh, dan akhirnya kita rubuh, pada momen itulah kita dipaksa menerima “moment of truth“, kebenaran yang tak tersangkal: Ya, bahwa kita memang sudah mulai menua, misalnya.

Kita seringkali menerima kebenaran karena terpaksa: karena fakta sudah “mak jegagik” di depan mata kita, tak bisa melarikan diri lagi dan menyangkal terus.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Penyangkalan akan ada ujungnya. Ketika garis ujung itu tercapai, kita tak bisa berlari lagi. Pemahaman akan kebenaran kerapkali adalah, dalam rumusan saya, dialektik antara “penyangkalan” dan “pengakuan (secara terpaksa)” ini.

Ini terjadi baik pada tingkat kehidupan pribadi maupun sosial, termasuk pada tingkat kenegaraan. Orang atau bangsa kerapkali sampai kepada pengakuan akan kebenaran bukan karena kemauan sukarela, melainkan karena terpaksa.

Seperti ditegaskan dalam Alquran: فإذا جآء أجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون ; fa idza ja’a ajaluhum fa-la yasta’khiruna sa’atan wa-la yastaqdimun.

Jika “moment of truth”, saat-saat kebenaran tiba bagi mereka, tak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk mundur atau maju, untuk melarikan diri.

Saat kebenaran tiba, dan fakta bahwa, misalnya, kolesterol kita memang mulai naik, maka kita tak bisa lari lagi dari kenyataan itu. Penyangkalan dan kepura-puraan bahwa tubuh kita masih sehat-sehat saja, sehingga tak mau mengubah prilaku makan kita, sudah harus berakhir.

Baca juga:  Menengok Jilbab Muhammadiyah Zaman Dulu

Kebenaran kerap lahir karena hasil pertarungan antara “penyangkalan” dan “pengakuan”. Prosesnya seringkali karena keterpaksaan.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top