Sedang Membaca
Mbah Shodiq Kiai Sat-set (7): Kiai Kampung, Santri Ngluthuk

Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2018–2023.

Mbah Shodiq Kiai Sat-set (7): Kiai Kampung, Santri Ngluthuk

Whatsapp Image 2022 11 29 At 22.04.41

Kita melihat kegigihan beliau sejak tahun 1998 mendirikan Pondok Pesantren Assodiqiyah yang itu memberikan warna sendiri terhadap masyarakat, lebih-lebih berbasis sekolah Islam terpadu yang konotasinya kalau dengan warga NU kurang familiar. Artinya managemen beliau, pengelolaan beliau, menunjukkan kemampuan mengelola sekolah formal yang baik. di sana juga berkembang SMP, SMK dan bahkan ada kemungkinan nanti ada universitas.

Setahu saya sosok Kiai Shodiq Hamzah beliau adalah murid dari Ponpes Mranggen dan kalau kita melihat literasi-literasi yang membicarakan Kiai Shodiq, saya menangkapnya beliau adalah orang yang sangat istiqamah, ini yang pertama. Beliau benar-benar memanfaatkan waktu yang lebih bermanfaat. Beliau ngopeni masyarakat lewat jamaah haji dan bimbingan haji. Itu kalau orang yang tidak sabar, akan kewalahan. Karena memimpin sebuah jamaah ada pemikiran yang berbeda, keinginan banyak, ini sebuah apresiasi saya kepada beliau.

Kedua, ciri khas santri kluthuk atau santri deles, ini masih disematkan beliau. Walapun beliau ada di tengah-tengah pondok yang ada di Kota Semarang tentu khazanah ilmiah kampus itu sangat dominan, tapi beliau khas santrinya muncul. Sebagaimana beliau selama pandemi Covid dua tahun, beliau menyelesaikan kitab monumentalnya tafsir Al Bayan 30 juz dan itu ditulis selama pandemi Covid.

Baca juga:  Kiai Zuhri Zaini Merajut Tasawuf Dalam Realitas Sosial

Ini sebenarnya bukan hanya tafsir yang ditulis beliau saja, akan tetapi bagaimana kita menafsiri musibah yang banyak orang katakan, tetapi menjadi barokah. Ini artinya beliau ingin mengajak orang, pertama tentu memahami al Qur’an, yang kedua –yang tidak begitu banyak orang baca- adalah beliau mengajak kalau ada masalah itu jangan langsung dinisbatkan pada musibah atau perkara yang tidak baik. Ini tinggal kita sebenarnya, sehingga dapat mengarahkan kepada kepasrahan, dari Allah yang harus kita hadapi bersama. Apapun presepsi orang yang penting kita tidak punya pikiran negatif kepada satu dua orang terhadap beberapa permasalahan, tetapi mengambil sisi positifnya. Ini yang menarik bagi saya, pribadi saya sendiri.

Dan kalau melihat seperti itu, maka wajar kalau dari UIN Walisongo ingin mengapresiasi beliau lewat karya beliau, memberikan gelar doktor HC. Jadi sudah sepatutnya karena keistiqomahannya, mempertahankan Ahlussunnah wal Jamaah lewat karakter pesantrennya yang ada di tengah-tengah masyarakat kota, ini yang saya lihat.

Di sisi lain, saya melihat Kiai Shodiq ini kiai yang menjungjung tinggi keilmuan, kita tahu bahwa beliau ketika bedah buku di UIN Walisongo, beliau mengatakan atas prihatinnya terdapat pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan setelah mengikuti pengajian tafsir Al Ibriz di ndalem romo KH Haris Sodaqoh. Ketika itu muncul pertanyaan, “kamu paham gak?” “Yang paham ya kiai saya”. Padahal orang itu mengikuti pengajian selama benerapa jam setiap hari Ahad. Dari keresahan beliau itu, akhirnya beliau mencoba, yang saat itu sebenarnya Al Ibriz sudah bisa dipahami, tapi beliau mencoba lagi untuk memberikan metode pemaknaan pesantren dengan mengikiti zaman, yaitu ditulis dengan latin. Ini yang menarik.

Baca juga:  Buya Syafi’i di Mata Alissa Wahid

Dari perhatian itu, artinya beliau mengakui bahwa beliau ini khidmah kepada Kiai Haris Shodaqoh, bagaimana beliau juga khidmah kepada Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), yang saya tahu awal-awal Kiai Mustofa Bisri ketika ditinggal istri beliau mengalami kesedihan, Kiai Shodiq ini yang mendampingi beliau. Bahkan beliau Kiai Mustofa Bisri sempat diajak dan ditawari umroh oleh beberpa biro haji/umroh beliau tidak mau, kecuali menerima ajakan dari Kiai Shodiq. Itu artinya saya yakin bahwa Gus Mus menerima itu bukan karena ajakan saja, tetapi lebih dari itu melihat sosok seorang kiai yang masih mengedepankan khidmah kepada para ulama. Itu yang saya dari sosok Kiai Shodiq.

Di samping itu, beliau seorang yang mengamalkan thariqah dari Mbah Muslih. Artinya beliau juga memegang sanad dalam keilmuan, itu juga terlihat dari tafsir beliau yang mengambil dari kitab-kitab tafsir dari ulama masa lalu.

Kalau bersinggungan, saya pernah mengikuti kaderisasi Nahdlatul Ulama lewat GP Ansor pada 2017 di pondok beliau, dan beliau betul-betul seorang kiai yang pada waktu itu ada Ketua Ansor dan Pengurus NU, beliau tawadhu’ menghormati dan mengupayakan para santri yang datang pada pelatihan kaderisasi NU itu benar-benar dimanjakan. Itu menunjukkan beliau benarp-benar menganggap tamu itu adalah raja. Beliau mengikuti apa yang disampaikan Rasulullah SAW.

Baca juga:  Ulama Banjar (77): KH. Ahmad Nawawi Marfu
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top