Sedang Membaca
Riwayat Asmara (2): Cinta dan Keyakinan sebagai Tumbal
Penulis Kolom

Lahir di Situbondo. Alumnus Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep. Kini aktif sebagai Mahasantri Ma’had Aly Salafiyah Situbondo.

Riwayat Asmara (2): Cinta dan Keyakinan sebagai Tumbal

Whatsapp Image 2021 08 17 At 22.03.45 (1)

Yang namanya cinta buta jelas bukan isapan jempol belaka. Pada taraf ini, cinta tidak hanya sanggup melumpuhkan akal sehat, tapi juga telah berhasil menyuntikkan bisanya hingga ke lubuk terdalam, di mana nilai-nilai dan keyakinan bertakhta. Cinta mulai menggerogoti benteng keyakinan yang telah dibangun dan dipertahankan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun.

Abu Dzar menuturkan, suatu ketika Rasulullah Saw. pernah bercerita tentang seorang ahli ibadah. Dikatakan bahwa ia senantiasa tekun beribadah di tepi pantai selama tiga ratus tahun. Siang harinya ia berpuasa. Malamnya ia qiyamul lail. Tapi tak dinyana, ia malah menjadi klepek-kelepek di tangan seorang perempuan.

Saat itulah cinta mulai menampakkan keampuhannya. Racun cinta mulai menjalar hingga ke lubuk keyakinan. Lelaki yang semula teguh beribadah menjadi kafir sebab cintanya kepada seorang perempuan. Tetapi ia masih beruntung. Sebab kemudian Allah yang Maha Membolak-balikkan hati mengembalikan keimanan yang sempat tercerabut dari hatinya. Lalu Allah yang Maha Pengampun mengampuninya.

Berikutnya adalah kisah yang dihikayatkan oleh Abu al-Hasan Ali bin Ubaidillah. Dalam penuturannya, tersebutlah seorang lelaki Muslim tengah lewat di dapan pintu rumah seorang perempuan Nasrani. Ia pun memandangnya, lalu dibuatnya terpana seketika.

Rasa cintanya semakin tumbuh berkembang. Kemudian mulai mendominasi akal sehatnya. Sampai-sampai membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit jiwa. Beruntung ia masih punya seorang karib setia yang bolak-balik menjenguknya. Karibnya ini kemudian menjembatani hubunganya dengan sang perempuan dambaan.

Sementara sakit yang menimpanya kian parah. Ibunya tampak cemas. Kepada sahabat putranya itu, ibunya mengadu, “Aku telah mendatanginya, tapi ia tak bicara apapun denganku.” Mendengar itu, sahabatnya mengajak sang ibu menemui putranya yang sedang sakit. Di hadapannya yang sedang sakit, sahabatnya menyampaikan bahwa gadis idamannya mengiriminya surat. “Ibumu ini yang mengantarkannya untukmu,” kata sahabatnya.

Baca juga:  Ajaran Sufisme Jawa dalam Khazanah Mistik Islam Kejawen

Ringkas cerita, sang ibu berhasil mengajak putranya ngobrol. Ibunya pun mulai berbicara mengenai perempuan itu, sayangnya, disisipi dengan dusta. Mendengar penuturan ibunya tentang perempuan yang dicintainya, sakitnya makin menjadi. Maut yang sebelumnya telah mengintai, pelan-pelan tapi pasti mulai menghampiri pemuda malang yang sedang kasmaran itu.

Sebelum ajal benar-benar menjemput, ia masih sempat berkata pada karibnya. “Telah tiba ajalku. Telah tiba waktuku. Namun tak kunjung jua kujumpa kekasih hatiku di dunia. Maka aku ingin berjumpa dia di akhirat.” Karibnya merasa bingung dan masygul. “Tapi bagaimana caranya?” tanyanya. “Aku akan keluar dari agama yang dibawa Muhammad. Aku akan mengatakan bahwa Isa, Maryam, dan salib yang mulia…”

Belum tuntas kalimatnya, maut keburu datang menjemput nyawanya. Ia mangkat dalam keadaan merindu. Persis setelah melepas keyakinannya semula dan menggantinya dengan baru, yang ia anggap sebagai satu-satu tiket yang dapat menggaransi pertemuannya dengan kekasih belahan jiwanya, kelak.

Nun, di tempat berbeda, perempuan yang ia cinta diam-diam juga tengah dilanda perasaan yang sama. Saat ini ia juga tengah menanggung sakit. Di tengah sakitnya, datanglah karib sekaligus mediator cinta keduanya membawa kabar duka perihal lelaki pilihan jiwanya yang telah mangkat mendahului. Duka maha dalam bertakhta.

Ia yang mendem kangen nandang loro pun berucap haru. “Tak pernah kujumpa kasihku di dunia. Sekarang, aku ingin menjumpainya di akhirat baka. Aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah. Aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan sekaligus utusan-Nya. Aku melepaskan diri dari agama Nasrani.” Tak berselang lama, perempuan yang merindu kekasihnya itu turut mangkat, hendak menyusul belahan jiwanya, dengan tiket dua kalimat syahadat.

Baca juga:  Jejak Tasawuf (3): Masa Pengembangan

Ibn al-Faridlah bersyair, “…. Cinta mulanya adalah susah payah, pertengahannya adalah sakit, dan akhirnya adalah pembunuhan”. Dalam tempo yang nyaris bersamaan, sepasang kekasih terbunuh cinta, merindukan perjumpaan. Nafas boleh terputus, tapi cinta tidak. Masing-masing mendambakan perjumpaan abadi di alam baka. Masing-masing secara suka rela menanggung tiket yang mahal harganya. Meski malang, karena ujungnya nihil belaka.

Dari Baghdad, alkisah seorang lelaki terkenal sebagai muazin yang saleh. Ia telah menjadi juru azan selama empat puluh tahun. Suatu hari, ia naik ke menara sebuah masjid untuk mengumandangkan azan. Dari menara itu, ia melihat anak gadis seorang Nasrani yang rumahnya tepat di samping masjid. Seketika perempuan itu membuatnya tergila-gila.

Seketika pula juru azan yang terkenal saleh tersebut berubah menjadi banal. Ia hampiri rumah gadis pujaan, mengutuk pintu, dan tiba-tiba langsung merengkuhnya. Gadis itu kaget, bisa-bisanya lelaki yang masyhur dengan kasalehannya bertindak sedemikian nekat. Laki-laki yang sedang mabuk asmara itu bahkan berani mengancam. “Kalau kau tak mau menuruti keinginanku, aku akan membunuhmu!”

Saat itulah mereka mulai bernegosiasi. “Tak akan pernah kuturuti maumu kecuali kau mau meninggalkan agamamu!” perempuan itu mengajukan syarat. Tanpa banyak basa-basi, pemuda itu lalu berucap, “Aku menarik diri dari Islam, dari apa-apa yang dibawa Muhammad.”. Kali ini ia benar-benar telah menumbalkan agamanya, demi melancarkan hasratnya. Ia tak hanya bertekuk lulut, melainkan juga telah bersujud di hadapan cinta.

Baca juga:  Gus Dur, Syekh Siti Jenar, dan Wahdatul Wujud

Momentum ini dijadikan kesempatan oleh perempuan tersebut untuk semakin menyeretnya ke dalam kubangan kesesatan. Perempuan itu berdalih, “Aku memintamu begini semata agar kau bisa menyalurkan hasratmu. Setelah hajatmu terlaksana, toh, kau bisa kembali ke agamamu semula.” Ia lalu meminta lelaki yang tengah mabuk kepayang itu untuk melakukan hal-hal yang dalam kacamata agama (Islam) terlarang. Seperti mengkonsumsi daging babi, dan menenggak tuak. Tentu saja muazin malang yang sedang bucin sebucin-bucinnya itu hanya bisa menurut, bak jenazah di pangkuan para pemandinya.

Drama itu masih berlajut. Persis ketika tuak telah ia tenggak, ia mendekati perempuan itu. Namun perempuan itu bergegas masuk ke dalam rumah sembari buru-buru mengunci pintu. Dari dalam rumah, gadis yang telah memincut hatinya itu memintanya naik ke atap. “Sampai ketika ayahku datang dan memergokimu, ia akan menikahkanmu denganku,” lanjut perempuan itu. Sekali lagi, ia hanya bisa tunduk patuh. Nahasnya, saat ia memanjat atap rumah sang gadis, ia terperosok jatuh lalu tewas seketika. Betul kata Freddie Mercurry, “Too much love will kill you”.

Purna sudah cinta merenggut akal sehat, keyakinan, hingga nyawa. Cinta terus menagih tumbal. Tragedi cinta yang sarat keganjilan telah terjadi sejak berabad-abad silam, dan entah sampai kapan akan terus berulang. Masih layakkah cinta disebut anugerah?

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top