Sedang Membaca
Belajar Harmonis dari Quraish Shihab
Penulis Kolom

Dosen IAIN Salatiga dan UIN Mas Said Surakarta, Pendiri Pesantren Online Tashfiyatul Qulub, Konselor, danTrainer.

Belajar Harmonis dari Quraish Shihab

quraish

Berawal dari cinta, maka harmonis itu ada, berawal dari cinta maka ikhtiar itu membara, berawal dari cinta maka setia terpatri dalam jiwa. Dalam membangun keharmonisan dalam keluarga, maka semuanya harus didasari dengan cinta, cinta kepada sang pencipta dan cinta kepada sesama hambaNya.

Sosok Quraish Shihab selalu menarik perhatian, baik dalam kehidupan pribadinya ataupun dalam kehidupan berkeluarga, bahkan bermasyarakat. Hal tersebut juga merupakan sosok panutan bagi istri dan anak, serta para cucunya. Maka dari sini, mari belajar harmonis dari beliau dalam berkehidupan berkeluarga. Adapun empat macam cara belajar harmonis menurut Quraish Shihab yaitu:

Pertama. Memahami apa yang disukai, apa yang diharapkan pasangan, suami dan istri. Dalam hal ini penting bagi pasangan suami istri untuk saling memahami apa yang disukai, apa yang diharapkan dari pasangannya serta saling mengetahuinya. Dengan cara saling bertanya ataupun saling menyampaikan apa yang disukai, serta apa yang diharapkan dari pasangannya.

Seperti bertanya atau menyampaikan kebiasaan-kebiasaan baik dalam mendidik anak, kebiasaan melakukan aktivitas di rumah secara bersama-sama dengan anggota keluarga, ataupun aktivitas kemanusiaan, sosial serta dalam hal agama baik di dalam rumah maupun di luar rumah.

Kedua. Selalu ada rasa cemburu pada pasangan, suami istri. Quraish, mengemukakan bahwa cinta, menciptakan cemburu untuk melestarikan wujudnya. Cemburu diperlukan selama dilakukan pada tempatnya, dan jangan setiap hal cemburu, karena itu bisa mematikan cinta itu sendiri. Karena Nabi Muhammad pun pernah cemburu pada Aisyah, istrinya.

Baca juga:  Habib Luthfi bin Yahya: Jangan Sampai Menyepelekan Kiai Kampung

Peristiwa itu terjadi ketika nabi masuk rumah dan mendapati seorang lelaki, kemudian wajah Nabi berubah. Melihat ekspresi wajah Nabi yang berubah, lantas Aisyah menjelaskan kepada Nabi bahwa lelaki ini saudara sepupunya.

“Berhati-hatilah jangan sampai itu tidak memenuhi syarat sesusuan,” respons Nabi kepada Aisyah. Ini salah satu contoh bahwasanya Nabi pun punya rasa cemburu pada istrinya, “ tambahnya.

Mengutip dari sufi perempuan Rabi’ah al-Adawiyah mengatakan bahwa, Tuhan juga cemburu kepada manusia yang telah mencapai derajat sufi, karena sufi tersebut sempat menoleh ke dunia. Jadi cemburu adalah bagian dari cinta, asal tidak cemburu buta.

Ketiga. Ikhtiar, berdoa dan mengharapkan selalu dekat padaNya. Prof. Quraisy mengutip ayat 94 surat Al-A’raf, menganjurkan untuk selalu berdo’a tidak hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang lain, tidak hanya suami berdoa untuk istrinya ataupun sebaliknya tapi keduanya harus secara bersama-sama, berikhtia, berdoa, dan selalu mengharapkan kedekatan kepadaNya secara bersama-sama untuk harapan bersama.

Serta tidak malu untuk meminta do’a kepada orang yang lebih rendah. “Karena Rasulullah SAW pun minta dido’akan ketika sahabat Umar RA pada saat akan berpamitan berangkat umrah ke tanah suci, karena kita tidak pernah tahu doa dari siapa yang akan terkabul.

Baca juga:  100 Tahun Soeharto (1): Bocah dan Doa

Adapun pentingnya do’a antara lain, menjadikan hidup dalam keoptimisan. Karena, jika seseorang telah memohon kepada siapa saja yang diyakini Maha Kuasa, terlepas dari diterima atau tidaknya, pada dasarnya orang itu telah hidup dalam optimis. Karena do’a merupakan separoh dari keberhasilan, dengan berdoa berarti ada optimisme bahwa suatu pekerjaan akan berhasil.

Serta Allah SWT menyuruh kita untuk bekerja dan berdoa. Dalam Al-Qur’an menjelaskan, mintalah pertolongan untuk mendapatkan apa yang kamu kehendaki melalui ketabahan dan kerja keras. Jadi jelas sekali, berdoa, bekerja, dan selanjutnya bertawakal harus seiring dan seimbang dalam kehidupan manusia. Hal ini juga menegaskan bahwa upaya apapun tanpa diiringi dengan doa dan tawakal maka keberkahan hidup tidak akan tercapai.

Keempat. Selalu menjaga komunikasi yang baik. Prof. Quraish, menjelaskan bahwasannya dengan menjabarkan kata Qaulan Sadida dalam Surat al-Ahzab ayat 70, yang bermakna kesesuaian dalam mengucapkan perakataan yang bukan hanya dianjurkan berucap, berkomunikasi dengan  jujur serta benar, melainkan juga harus menyesuaikan waktu dan tempat yang tepat.

Jadi ada ucapan benar tapi waktunya tidak tepat, tempatnya tidak tepat, situasi yang dihadapi tidak tepat, maka tidaklah marah pada pasangan yaitu suami dan istri di hadapan umum, jangan tegur pasangan,suami serta istri di hadapan umum, jangan tegur suami serta istri pada saat galau karena itu tidak dibenarkan.

Baca juga:  Ulama Banjar (87): KH. Masrawan

Nabi bersabda tidak diperkenankan bohong kecuali dalam tiga hal. Pertama, dalam perang, yang kedua, dalam melakukan Islah (damai) perbaikan antara dua orang yang berseteru. Dalam hal ini, boleh bohong demi mencapai kesepakatan islah, dan yang ketiga, ucapan-ucapan gombal suami kepada istrinya atau istri kepada suaminya,” kata penulis buku Membumikan Al-Qur’an ini.

Prof. Quraish  memberikan contoh “Ucapkanlah kepada istri Aku Cinta Kamu, dan ucapkanlah Aku Bangga Padamu kepada suami. Dan ketika ada konflik antar suami istri hendaklah salah satu dari keduanya mengatakan, bisa jadi engkau yang benar,” tutur Prof. Quraish.

Dari perkataan itu, boleh menyesuaikan dengan adat atau tradisi di setiap wilayahnya atau keluarganya, selama baik maka bisa diterapkan dalam keluarga. Karena konsep keluarga menurut Islam sangat jelas mengutamakan pembinaan individu dan keluarga secara mubadalah atau kesalingan.

Mari bersama-sama belajar keharmonisan keluarga dari Prof. Quraish Shihab, semoga diberikan kemudahan untuk menerapkannya dalam berkeluarga untuk mewujudkan keluarga yang dicita-citakan bersama, yaitu keluarga yang bahagia serta saling membahagikan di dunia dan akhirat. Amin.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top