Sedang Membaca
Menimbang Penjelasan Ustaz Das’ad Latif kepada Sujiwo Tejo
Sholih Al Jawi
Penulis Kolom

Santri Pantura Lamongan.

Menimbang Penjelasan Ustaz Das’ad Latif kepada Sujiwo Tejo

Sudjiwo Tejo Dan Ustaz Dasad Latif

Viral video di media sosial antara Sujiwo Tejo (ST) yang menantang Ustaz Das’ad Latif (UDL) agar memberikan penjelasan argumentatif kepada dirinya agar mau menjalankan shalat, ‘’Tolong bujuk saya supaya shalat! Puasa saya lakukan, semua saya lakukan kecuali shalat,’’ ucap ST yang disiarkan oleh Metro Tv dalam acara QN–yang juga di-re-uplod oleh kanal Youtube-nya dengan judul ‘’Sudjiwo Tejo Tantang Ustadz Das’ad Ajak Dirinya Salat, Berhasilkah?’’.

UDL mengawali penjelasannya dengan membahas kemuliaan shalat dibanding ibadah lain seperti puasa dan haji dengan argumentasi bahwa perintah dalam ibadah lain cukup dengan adanya ayat, sementara perintah shalat tidak cukup dengan ayat tetapi mengharuskan adanya pertemuan langsung antara Nabi Muhammad dan Allah untuk menerima perintah itu.

Ia melanjutkan argumen kedua, bahwa jika ibadah lain seperti zakat dan haji boleh dilakukan sambil bernyanyi, maka tidak dengan shalat, ia akan dihukumi batal, karena ia merupakan puncak penghambaan kepada Tuhan yang tidak bisa diganggu oleh aktivitas lain.

Penjelasan ini sepertinya cukup memuaskan Sujiwo Tejo sebagaimana komentarnya di akhir penjelasan, namun ia kembali menjelaskan alasan ia tidak shalat yaitu karena melihat orang yang telah menjalankan shalat tetapi masih melakukan tindak korupsi.

UDL memberikan jawaban bahwa yang ideal adalah shalat dan tidak korupsi, akan tetapi setan akan tetap mengajak keburukan, sehingga Tuhan melarang untuk mengikuti setan.

Baca juga:  Abdulrazak Gurnah: Kisah Yusuf dan Nobel Sastra

Jawaban UDL ini tidak logis dan mudah saja dibantah, semisal dengan perkataan ‘’artinya shalat atau tidak, kan sama saja, setan tetap menyesatkan seseorang?’’.

Yang tidak dipahami UDL adalah kesalahan pada pertanyaan ST, ST salah dalam memahami ayat yang artinya; ‘’Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan keburukan.’’ (QS : Al- Ankabut : 45). Dan banyak sekali orang salah paham mengenai tafsir ayat ini.

Jika kita melihat kitab Ibnu Asyur berjudul al-Tahrir wa At-Tanwir, maka kita akan temukan tafsir yang logis dan realistis terhadap ayat ini yaitu: ‘’shalat memudahkan orang menjauhkan keburukan, bukan memastikan ia tidak melakukan keburukan, sehingga ia bertentangan dengan realita dimana banyak orang shalat akan tetapi masih kerap melakukan keburukan.’’

Begini penjelasan Ibnu Asyur:

والمقصود : أن الصلاة تيسر للمصلي ترك الفحشاء والمنكر . وليس المعنى أن الصلاة صارفة المصلي عن أن يرتكب الفحشاء والمنكر فإن المشاهد يخالفه إذ كم من مصلّ يقيم صلاته ويقترف بعض الفحشاء والمنكر

Lalu UDL melanjutkan penjelasannya bahwa shalat adalah kunci diterima amal seseorang, lalu ST menyela, ‘’Ustad, ketika sampean naik haji, sampean naik pesawat, pesawat itu dibikin oleh orang yang tidak shalat, la bagaimana itu?’’, UDL melanjutkan penjelasannya bahwa shalat adalah ibarat password, ketika seseorang memiliki milyaran amal seperti penemu listrik yang bisa membantu dakwah, maka itu semua akan sia-sia jika tidak tahu passwordnya.

Baca juga:  Fahruddin Faiz dan Fenomena Ngaji Filsafat

Ilustrasi shalat dengan kunci atau password ini memang benar, tetapi ada ilustrasi lebih mengena lagi yaitu bahwa relasi kita dengan Tuhan ibarat kita dengan orang tua, shalat adalah pengakuan atas eksistensi Allah sebagai Tuhan. Seseorang yang melakukan kebaikan sosial seperti mampu menciptakan lampu atau membantu orang lain, tetapi ia tidak mengakui Allah sebagai Tuhan, ibarat berbuat baik kepada orang tua, tetapi tidak mengakui mereka sebagai orang tua, maka kebaikan sebesar apa pun tidak akan berguna.

Di banyak forum (termasuk dalam video itu), ia seringkali memprotes tindakan seseorang yang main hp saat orang lain berbicara, ia menganggapnya tidak beradab, maka ini bisa dipakai untuk membalik ucapannya dalam konteks shalat, bahwa Allah telah memanggilnya lima kali dalam sehari untuk shalat, tetapi ia tidak menghiraukannya dan sibuk dengan aktivitas permainan lainnya.

Ia juga mengisahkan, pernah memprotes anaknya yang tidak berterimakasih kepada sopir taksi yang telah mengantarkannya, ini juga bisa dipakai membalikkan ST dalam konteks di atas, yaitu bahwa Allah telah memberikan ia banyak nikmat, tetapi ia tidak berterimakasih kepadanya, padahal Allah hanya meminta untuk melakukan shalat.

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
3
Terhibur
1
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (1)
  • Hemat sy Udl hanya perlu menjawab
    “St, nanti kl sudah waktu solat, mari kita solat bersama”
    Selesai. St hanya minta di bujuk untuk solat.
    Fudayl Ibn Iyad pernah berbicara kpd Raja Harun Ar Rasyid dgn hnya beberapa kalimat yg pd akhirnya membuat Raja menangis. Ternyata bukan bahasanya yg indah atau kandungan perkataannya yg dalam. Namun Kalimat itu keluar dr Fudayl yg hatinya sangat cinta Kpd Allah,takut kepada Allah, bersih dr makhluk,sehingga “anugrah Allah” mengiringi perkataanya dan akan mudah membekas,menyentuh di hati Raja.

Komentari

Scroll To Top