Sedang Membaca
Memiliki Subuh
Setyaningsih
Penulis Kolom

Esais dan Penulis buku "Bermula Buku, Berakhir Telepon" (2016).

Memiliki Subuh

Gerakan Subuh

Pada suatu senja di atas motor yang melaju pelan, saya pernah disapa tulisan, “SHALAT SUBUH DULU YUKS.” Saya tetap melaju, tapi tidak ke masjid atau mushola terdekat. Saya harus menuntaskan tujuan berkendara, membeli gorengan di angkringan yang selalu kehabisan sajian sebelum pukul 7 malam.

Sungguh, bukan hendak mengabaikan ajakan kebaikan untuk salat berjemaah atau lebih memilih sepotong tempe gembus daripada 27 pahala yang dijanjikan. Memang tidak mungkin saya salat Subuh saat itu juga sejenak setelah tatapan mata beradu dengan tulisan. Hari baru senja, Subuh masih setengah hari lagi.

Ajakan salat Subuh berjemaah memang jadi tren dalam kehidupan beribadah kekinian. Saya jadi mengingat dua larik foto yang diunggah seorang teman di media sosial. Bukan karena foto itu diambil di depan salah satu masjid megah di Solo yang berkesan religius, tapi sebentuk sepanduk di depan masjid ikut terpotret. Spanduk mengatakan: HADIRILAH…!! SHOLAT SUBUH BERJAMA’AH DALAM RANGKA KEBANGKITAN ISLAM INDONESIA. Ajakan dilengkapi dengan waktu pelaksanaan dan nama imam.

Kata “hadirilah (bertanda seru)” yang berkesan bombastis membuat salat Subuh tidak ada bedanya dengan menonton pertandingan sepakbola, acara seminar, pentas dangdut, pesta pernikahan, rapat, atau pertunjukan pasar malam. Seandainya ada orang datang dan tidak ikut salat subuh, terasa sah saja karena ia sudah cukup hadir. Sepertinya ada orang-orang terlanjur berpikir salat harus massal, ramai, dan sangat penuh. Jadilah, peristiwa sembahyang Subuh harus dihadiri, bukan ditunaikan secara naluriah.

Baca juga:  Ketika Rumah Rasulullah Dilempari Kerikil

Dalam tuntunan religius atau kisah-kisah para manusia suci mewaktu, subuh selalu memiliki kemustajaban. Peristiwa-peristiwa terjadi di waktu subuh dan doa serta pujian digemakan. Diriwayatkan oleh al-Nasa’i bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Barang siapa yang pada waktu subuh mengucapkan subhanallah sebanyak seratus kali, begitu juga pada waktu sore, niscaya takkan ada satu makhluk pun yang memperoleh pahala sebanyak apa yang telah diperolehnya.”

Pujian kepada Tuhan yang diucapkan pada waktu subuh dan sore berimperasi pada kalimat-kalimat pujian yang merupakan poros doa (Abu Bakr al-Thurthusyi al-Andalusi dalam Kitab Doa Tertua Al-Ma’tsûrât, Zaman: 2015).

Indonesia pun menanggapi kemustajaban Subuh lewat penerbitan buku-buku bertema misteri dan keutamaan salat Subuh. Buku menjadi tuntutan sejuta umat dan mendiami rumah-rumah keluarga Indonesia, berdampingan dengan kita suci al-Quran, buku doa, kumpulan khotbah Jumat, atau buku saku Yassin.

Salah satu buku pernah terbit, Hikmah Ampuh Shalat Subuh (Citra Risalah, 2011) oleh Muyassaroh Hafidzoh. Sejak mulai dari daftar isi, kita memang tidak dibohongi oleh judul bahwa sembahyang Subuh mendatangkan cahaya kesempurnaan, menyehatkan jiwa dan raga, menambah kekayaan, berenergi meraih prestasi. Penulis juga memberi teladan sukses orang-orang yang giat salat Subuh.

Undian

Tren beragama kekinian bahkan sampai menetapkan Subuh sebagai waktu untuk bagi-bagi kupon berhadiah dengan alasan meramaikan masjid. Solopos (13 Desember 2016) pernah memberikan kabar aneh tapi sudah dianggap wajar tentang Gerakan Nasional Subuh Berjemaah di Masjid Raya Al-Falah, Sragen, pada 12 Desember 2016. Masjid biasanya hanya didatangi ratusan jemaah, saat itu tidak cukup menaungi 2.980 jemaah.

Baca juga:  Agamaku dan Bedug

Gerakan Subuh  menasbihkan umrah gratis sebagai hadiah utama, selain ada kompor gas, setrika, ponsel. Kita tentu tidak boleh berburuk sangka bahwa orang-orang datang bersubuh karena undian berhadiah. Ingat kata Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno, “Kita di sini untuk mencari keberkahan dan pahala dari Salah Subuh berjemaah. Hadiah umrah itu anggap saja bonus.”[blockquote align=”right” author=”Wakil Bupati Sragen”]“Kita di sini untuk mencari keberkahan dan pahala dari Salah Subuh berjemaah. Hadiah umrah itu anggap saja bonus.”[/blockquote]

Hadiah-hadiah memang menggiurkan. Orang-orang terlanjur dibuat lupa bahwa hadiah datang sebagai ujian: Subuh demi Allah atau Subuh demi kompor gas. Jemaah Subuh dikondisikan seperti dalam acara jalan sehat, arisan, atau pengundian hadiah. Jadi, jujur-jujuran sajalah. Tidak harus sok religius mengaku bahwa hadiah-hadiah berasal dari langit. Sudah jelas undian dan hadiah disengaja ada sebagai hadiah hadir. Siapa pula berani menolak membawa tiket umerah gratis. Jemaah masjid tentu tidak membanjir saat panitia salat Subuh hanya menawarkan sekarung pahala sebagai hadiah utama.

Subuh dan penyadaran niat justru tampil di cerita “Shalat Berjemaah, Yuk!” (Bingkisan untuk Bunda, 99 Kisah dan Hadits Terbaik, 2013) garapan Dyah Prameswarie. Diceritaka bahwa Zaki, Khalid, dan Budi berhasil bangun serta melawan hawa dingin untuk salat Subuh berjemaah. Adi baru beranjak jam 5 pagi dan salat sendirian di kamar. Pulang-pulang, Zaki, Khalid, dan Budi membawa kardus berisi nasi, ayam goreng, dan perkedel.

Baca juga:  Masjid, Fikih, dan Air

Ternyata, di masjid tadi ada pembagian makanan, syukuran dari ulang tahun Irma. Rezeki makanan datang tidak terduga, tidak direncanakan, dan misterius meski membawa godaan bagi Adi yang tiba-tiba sadar bahwa Subuh membawa kejutan. Esok hari ketika Adi salat Subuh di masjid, niat itu lebih dipertaruhkan, “Jangan-jangan kamu shalat berjemaah hanya karena ingin mendapat rezeki.”

Agar tidak berkesan misterius, Subuh di masjid ternyata harus dipopulerkan seperti waktu-waktu lain, entah Minggu pagi di Car Free Day, malam Minggu di jalan kota, senja di Bandara, atau tengah malam Tahun Baru di hotel. Subuh tidak boleh terus mendapatkan tuduhan sepi jemaah atau kekurangan peminat. Kita yang masih tak tahan godaan tidur, masih bisa mengusahakan pertobatan dengan memiliki dan menikmati Peristiwa Subuh dari Raihan, [blockquote align=”none” author=””]Tabuh berbunyi gemparkan malam sunyi/ Berkumandang suara azan/ Mendayu memecah sunyi/ Selang-seling sahutan ayam/…/ Ayo bangunlah/ Tunaikan perintah Allah/ Sujud mengharap keridhoan-Nya/ Bersyukur bangkitlah segera/ Moga mendapat keridhoaan-Nya/ Begitulah peristiwa di subuh hari/ Setiap pagi setiap hari.[/blockquote]

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top