Sedang Membaca
Tantangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Kampus
Rohmatulloh
Penulis Kolom

Dosen Pendidikan Islam Institut Agama Islam An Nur Lampung dan bergiat di Komunitas Sekolah Sadar Energi.

Tantangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Kampus

Dari diskusi singkat penulis dengan mahasiswa generasi milenial di sesi perkuliahan Agama dan Etika Islam di perguruan tinggi umum, mahasiswa pada umumnya memiliki pengetahuan tentang ajaran Islam yang baik dan komprehensif. Ajaran Islam tidak hanya dipahami dari aspek ibadah saja. Tetapi sudah terkait secara sistemik dengan esensi ajaran agama Islam lainnya seperti keimanan, interaksi sosial sesuai syariat (muamalah), dan berperilaku baik (akhlak) dengan Pencipta dan ciptaan-Nya.

Tantangannya tinggal bagaimana para pendidik atau dosen menggunakan berbagai strategi pembelajaran yang bermakna atau dengan kata lain pembelajaran yang tidak membosankan. Tidak hanya menekankan pada aspek teoretis atau pengajaran, tetapi menekankan juga aspek praktis melalui pembiasan dan peneladanan.

Pertama, mahasiswa generasi milenial perlu dibuka wawasannya bahwa manusia pada fitrahnya beragama (QS. Ar-Rum [30]: 30). Dalam konteks global peran agama begitu besar untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang perlu dicarikan solusinya. Jika melihat data indikator kinerja global di sepuluh negara muslim yang populasinya terbesar di dunia (Indonesia, Pakistan, India, Baglades, Nigeria, Mesir, Iran, Turki, Algeria, Sudan) maka akan nampak ketertinggalannya di berbagai bidang kehidupan dibandingkan negara-negara barat seperti pembangunan manusia, kemudahan berbisnis, daya saing, tingkat literasi (membaca, matematika dan sains), dan inovasi.

Baca juga:  Folklor dan Sakralitas Danyang

Tidak mengherankan jika simpulan dari data Islamicity ranking 2021 menunjukkan bahwa praktik negara mayoritas Islam, kurang dalam mencerminkan nilai ajaran al-Qur’an dan hadits. Indonesia sendiri berada di posisi ke-57. Benar yang dikatakan Muhamad Abduh, salah satu penggagas gerakan modernisme dunia Islam dari Mesir saat melancong ke Eropa pada akhir abad XIX menyimpulkan dengan sebuah pepatah “I went to the West and saw Islam, but no Muslims; I got back to the East and saw Muslims, but no Islam.”

Sementara bagi Indonesia sendiri berdasarkan riset Pew Research Center 2019, peran dan dampak agama dalam masyarakat di Indonesia begitu besar. Agama menjadi sumber inspirasi dalam setiap kehidupan yang tercermin dari sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam konteks lokal, banyak ditemukan permasalahan di masyarat seperti masalah lingkungan hidup, ekonomi, pendidikan, korupsi, hoax, narkoba, dan lainnya yang diakibatkan dari pandemi covid-19 ini. Oleh karena itu, yang kedua strategi pembelajaran dengan pembiasaan di luar kelas.

Mahasiswa perlu dilibatkan melalui berbagai kegiatan proyek sosial (social project) untuk berpartisipasi menyelesaikan masalah lokal di lingkungannya masing-masing agar semakin terbiasa menginternalisasikan nilai-nilai etika Islam yang telah dipahami dan diperolehnya di rumah, ruang kelas, dan masyarakat.

Baca juga:  Akad "Wadi’ah" dan Turunannya (1): Dari Akad Titip Tradisional ke Akad Titip Modern

Jika ini berhasil, sekaligus dapat menjawab tantangan pengajaran pendidikan agama Islam yang selama ini dianggap terlalu menekankan pada aspek pengetahuan (too knowledge). Akibatnya pembelajaran agama tidak membumi dan tidak berkontribusi menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan nyata.

Tidak hanya di luar kelas, dari ruang kelas kegiatan pembiasaan juga dapat diisi mahasiswa dengan kegiatan membaca kitab suci al-qurán dan hadits dan memaknai maksud pesan Tuhan tersebut secara mendalam walaupun hanya satu ayat, serta belajar membiasakan menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui metode kultum (kuliah tujuh menit). Ini penting karena mahasiswa akan menjadi pemimpin di masyarakat yang diharapkan memiliki kompetensi dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah atau komunikasi efektif melalui berbagai saluran komunikasi yang efektif pula. Dan ini selaras dengan kebutuhan kompetensi abad XXI

Ketiga, peneladanan di ruang kelas dan di lingkungan sekolah secara lebih luas. Mungkin Ini yang paling sulit karena melibatkan semua pihak baik sesama mahasiswa, pendidik khususnya penulis sendiri, dan tenaga kependidikan, serta masyarakat sekitar. Mahasiswa tentunya akan melihat langsung teladan atau role modelnya dalam menerapkan nilai-nilai etika Islam.

Semoga pembelajaran agama menjadi lebih bermakna tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan semata tetapi diimbangi juga dengan pembelajaran pembiasaan dan peneladanan. Ini menjadi tugas bersama kita semua. Wallahua’lam.

Baca juga:  Meneroka Lokalisasi Melalui Kehidupan Lalat Buah
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top