Sedang Membaca
Kejeniusan Einstein & Gandhi Menelaah Nabi Muhammad Saw
Penulis Kolom

Ren Muhammad adalah pendiri Khatulistiwamuda dan penulis buku. Tinggal di Jakarta, menjabat Ketua Bidang Program Yayasan Aku dan Sukarno, serta Direktur Eksekutif di Candra Malik Institut.

Kejeniusan Einstein & Gandhi Menelaah Nabi Muhammad Saw

Albert Einstein, ilmuan fisika terbesar abad-20 dalam sebuah risalah terakhirnya menulis “Islam lebih utama, lebih sempurna dan lebih logis dibanding agama-agama dunia yang ada”. Risalah ilmiah berjudul “Die Erklarung” itu ditulis dalam bahasa Jerman pada 1954 di Amerika.

Hakikat risalah ini sama dengan surat rahasia yang ia tulis untuk Ayatullah al-Uzhma Boroujerdi. Dalam risalah termaktub, Einstein menyandingkan teori relativitasnya dengan ayat-ayat Alquran dan banyak Hadit dari kitab Nahjul Balaghah dan Biharul Anwar.

Ia mengatakan, “Ada beberapa Hadis Muhammad yang memuat teori kompleksitas seperti Relativitas. Sayangnya, kebanyakan ilmuan Muslim abad ini tidak mengetahui hal itu—kecuali sedikit di antara mereka saja”.

Salah satu Hadis yang menjadi acuan Einstein itu adalah yang diriwayatkan oleh Allamah Majlisi tentang Mi’raj jasmani Rasulullah Saw.

“Ketika terangkat dari tanah, pakaian atau kaki Muhammad Saw menyentuh sebuah bejana berisi air yang menyebabkan air tumpah. Setelah kembali dari Mi’raj jasmani, dan melalui pelbagai zaman, beliau melihat air masih dalam keadaan tumpah di atas tanah.”

Einstein melihat Hadis ini sebagai khazanah keilmuan yang mahal harganya, karena menjelaskan kemampuan keilmuan dalam relativitas waktu.

Menurut Einstein, formula matematika kebangkitan jasmani berbanding terbalik dengan formula terkenal “Relativitas materi dan energi.”

E = M.C² >> M = E:C²

Artinya, sekali pun badan kita berubah menjadi energi, ia dapat kembali berwujud semula, hidup kembali.

Dalam suratnya kepada Ayatullah Al-Uzhma Boroujerdi, sebagai penghormatan ia selalu menggunakan kata panggilan “Boroujerdi Senior” dan untuk menggembirakan jiwa Prof. Hesabi, ia menggunakan kata “Hesabi yang mulia”. Naskah asli risalah ini masih tersimpan dalam Safety Box rahasia London (di bagian tempat penyimpanan Prof. Ibrahim Mahdavi) dengan alasan keamanan.

Risalah ini dibeli oleh Prof. Ibrahim Mahdavi (tinggal di London) dengan bantuan salah satu anggota perusahaan pembuat mobil Benz seharga $3 juta dari seorang penjual barang antik Yahudi.

Tulisan tangan Einstein di semua halaman buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan dibuktikan oleh para pakar manuskrip.

Lantas apakah kemudian Einstein merengkuh Islam pada akhir hayatnya? Biarlah itu tetap jadi ‘rahasia kehidupan’.

Baca juga:  Para Sekretaris Nabi Muhammad

Gandhi pun Mencintai Nabi Muhammad Saw

“Islam disebarkan oleh Muhammad dengan Cinta bukan pedang. Berbekal Cintanya, ia ‘menaklukkan’ seluruh manusia dan alam semesta..!” kata Mahatma Gandhi dalam wawancaranya dengan sebuah majalah India pada 1928.

Mohandas Karamchand Gandhi, yang kerap disapa Mahatma Gandhi, adalah pemimpin spiritual dan politikus kawakan India. Ia lahir pada 2 Oktober 1869, di Porbandar, India. Sebelum menjadi aktivis Gerakan Kemerdekaan India dan pejuang kemanusiaan, Gandhi menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Alfred, Rajkot (1877), University College London, dan Samaldas College.

Usai menamatkan studinya, ia bertugas di Afrika selaku pengacara. Di benua hitam inilah ia beroleh ilham untuk memperjuangakan nasib rakyatnya yang diinjak kolonialisme Britania Raya—setelah harga dirinya sebagai manusia dilecehkan oleh seorang petugas kereta api berkebangsaan Inggris.

Pada masa kehidupan Gandhi, memang banyak negara yang merupakan koloni Britania Raya. Bahkan sampai hari ini masih ada negara yang tetap menjadi negara “persemakmuran” Inggris, seperti Malaysia, dan Hongkong.

Berkat dukungan istri tercinta, Kasturba (w. 1883–1944), Gandhi turun gunung dari dunia akademik. Ia maju ke medan gelanggang pertempuran melawan tiran tanpa mengangkat senjata sama sekali. Melainkan berbekal sebuah filosofi Satyagraha (Pasifisme), Ahimsa (Anti-kekerasan).

Mahatma Gandhi yang namanya dalam bahasa Sansekerta berarti “Jiwa Agung” itu, ternyata memang membuktikan filosofi dari namanya dalam kehidupan nyata. Ia menjauhi pertikaian sesama saudara sebangsa.

Baca juga:  Orang Arab dan Paman Rasulullah di China

Bahkan lebih dari itu, ia mencintai persaudaraan. Sebab ia menyadari betul bahwa kekerasan hanya akan menghasilkan kekerasan lain, “Jika mata dibalas mata, maka semua orang akan buta.”

Keyakinan pada jalan damai itu, diperoleh Gandhi berdasar penelusurannya sendiri pada riwayat hidup manusia agung, Muhammad Saw.

“Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling memengaruhi manusia? Saya semakin yakin bahwa bukanlah pedang yang menaklukkan sebuah daerah bagi Islam pada zaman itu.

Melainkan kesederhanaan yang teguh, Nabi yang sama sekali tidak menonjolkan diri, kesetiaannya yang luarbiasa kepada janji, kasih sayangnya yang amat besar kepada para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, kepercayaannya yang mutlak kepada tuhan dan kepada misinya; inilah, dan bukan pedang, yang mengantarkan segala sesuatu ke hadapan mereka saat mengatasi setiap masalah.

Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung.” (Komentar Mahatma Gandhi mengenai karakter Muhammad di majalah Young India, 1928, Volume XI.

Mantan Wakil Ketua Jamia Millia Islamia, Mushirul Hassan, mengatakan, “Gandhi menggambarkan Islam sebagai agama yang damai. Ia juga memberikan apresiasi terhadap ajaran Islam, Nabi Muhammmad Saw, dan empat Sahabatnya. Semasa hidup, ia berusaha menyatukan antara pengikut Hindu dan Muslim dalam sebuah masyarakat harmonis.

Perhatian Gandhi terhadap Islam terekam dalam minatnya belajar menafsirkan ayat-ayat suci Alquran berikut ajaran-ajaran di dalamnya. Bagi Gandhi, usaha itu merupakan misi. Ia percaya Hindu dan Islam berasal dari nenek moyang yang sama,” kata Hassan seperti dikutip telegraphindia.com.

Hidup memang punya jalan ceritanya sendiri. Nyaris sebagian besar pembaharu dan orangorang besar yang pernah lahir ke dunia, harus menutup riwayat hidupnya secara tragis dan memilukan. Itulah yang juga dialami Gandhi setelah bangsa India berhasil mendepak Inggris dari negeri mereka.

Baca juga:  Nabi dan Perang

Pada sebuah perhelatan resmi di depan publik pendukungnya yang sudah bersepakat bulat mengangkat Gandhi sebagai presiden India, seorang lelaki seketika mendekati lelaki penyayang kehidupan itu—sambil menarik pelatuk pistolnya, dan kemudian memuntahkan butiran besi panas yang mengarah tepat di kepala Gandhi.

Hari itu, 30 Januari 1948, di New Delhi, dunia melipat lembaran hidup Gandhi dengan tinta emas yang sulit—setidaknya belum bisa ditandingi oleh seorang pun manusia India moderen hingga hari ini.

Menelaah secuil kisah hidup Einstein & Gandhi tersebut, kami serta-merta teringat akan sebuah obrolan hangat yang terjadi seabad lebih lalu, di Peneleh, Surabaya.

Raja Jawa tanpa Mahkota, Umar Said Cokroaminoto bertitah kepada para muridnya, Sukarno, Muso, Alimin, dll, yang ia sebut sebagai manusia pilihan diberkahi Allah;

“Aku hijrah di antara pusparagam adicita (ideologi) dunia yang tak bisa dicegah masuk dalam tanah ini (Nusantara). Setiap adicita itu baik dan punya tempat tersendiri. Sekiranya lahir masalah besar, yang salah bukan adicitanya, namun caranya memaksakan gagasan. Ingat kalian akan setinggi-tinggi ilmu, sepandainya strategi, dan semurninya tauhid.”

Titah Cokroaminoto itu masih lagi membawa kami mengembara jauh ke masa satu millenium silam. Manakala Rasulullah Muhammad Saw bersabda kepada para Sahabatnya, “Hendaklah kamu menjadi guru yang mengajar. Jika tak sanggup, jadilah murid yang belajar. Jika tak sanggup pula, setidaknya kamu jadi pendengar dari pelajaran-pelajaran yang baik. Janganlah sekali-kali kamu jadi orang yang keempat, selain golongan yang tiga ini. Karena yang demikian itu akan merugikan kamu.” []

Depok, 16 Februari 2019

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
2
Terinspirasi
2
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top