Sedang Membaca
Tugas Kekhalifahan di Bumi
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Tugas Kekhalifahan di Bumi

Haul Sambasi

Allah SWT menjadikan m​​​​​anusia sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu Allah akan senang jika manusia dapat menjalankan tugas kekhalifahannya. Di antara pelaksanaan tugas kekhalifahan manusia di bumi adalah dengan memakmurkan serta menggali manfaatnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Qur’an Arjawinangun Cirebon, KH Ahsin Sakho Muhammad menyampaikan hal itu saat mengisi Pesantren Digital Majelis Taqwa Telkomsel (MTT), Kamis (10/6).

“Allah mengajarkan kepada Nabi Adam nama-nama benda dan apa yang dibutuhkan manusia, sekaligus juga itu adalah cara Allah menjadikan manusia sebagai khalifah fil ardl (seorang khalifah di bumi), manusia yang berilmu pengetahuan,” kata Kiai Ahsin pada kajian bertema Pelajaran dari Kisah Nabi Adam AS.

Mengembangkan Pengetahuan

Tugas kekhalifahan manusia di muka bumi juga menandakan perintah Allah agar manusia terus mengembangkan pengetahuan serta terus belajar sampai kapan pun.

Menurut Kiai Ahsin, membangun dan memajukan dunia digital seperti yang dilakukan Telkomsel juga bagian dari tugas kekhalifahan. Terlebih dunia digital juga dimanfaatkan manusia untuk beribadah, menutut ilmu pengetahuan, memudahkan manusia dalam aktivitas positif, dan semakin dekat kepada Allah.

Tidak hanya oleh umat Muslim, non- Muslim pun, seperti orang-orang Barat yang berinovasi dan menciptakan produk-produk baru, itu merupakan bagian dari menjalankan tugas kekhalifahan. Kiai Ahsin menyebutkan di negara-negara maju, mereka disiplin serta antusias mengembangkan ilmu pengetahuan.

Baca juga:  Menaker Apresiasi Lomba Video Inspriratif "Bangkit Di Masa Covid-19"

Hal yang dilarang adalah jika dalam menjalankan tugas kekhalifahannya, manusia berbuat kedzaliman, kerusakan, dan kesombongan.

Manusia, Malaikat dan Iblis

Kiai Ahsin menyebutkan, malaikat melayani manusia, seperti menurunkan dan menjaga tidur serta menjaga anak-anak saat masih kecil. Malaikat diciptakan oleh Allah untuk taat, termasuk tunduk dan melayani manusia. Namun, berbeda dengan iblis yang membangkang perintah Allah karena merasa lebih hebat.

Alasan iblis membangkang perintah tersebut, menurut Kiai Ahsin sangatlah tidak logis. Iblis menolak menghormati manusia karena Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah, sementara iblis tercipta dari api, sehingga iblis merasa lebih tinggi dari Adam.

“Kok asal usul diciptakan digunakan untuk membandingkan keunggulan? Enggak bisa,” kata Kiai Ahsin kemudian menganalogikan bahwa dalam komponen mobil terdapat mesin, rem, ban dan lainnya, dan tidak mungkin salah satu yang diunggulkan tanpa kelengkapan lainnya.

Contoh kesombongan lainnya adalah yang dilakukan Firaun dan Qarun. Firaun sombong karena merasa sebagai Tuhan. Sementara Qarun takabur dengan harta bendanya, hingga Allah menguburkan harta bendanya itu. Qarun menganggap dirinya bisa memiliki harta adalah karena kehebatan, kepintaran, kecerdasaannya, menolak bahwa itu semua pemberian Allah.

“Allah enggak senang, karena yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan adalah Allah, mengalirkan air Allah SWT,” ujar Rais Majelis Ilmi JQHNU.

Dari kisah-kisah tersebut, Kiai Ahsin kembali mengingatkan adanya pesan-pesan kepada khalifah. “Semua orang adalah khalifah, baik yang Muslim maupun non-Muslim. Setiap manusia di bumi memiliki kesempatan untuk menjadi khalifah fil ardl. Ada manusia yang sanggup meneliti alam semesta, hanya masalahnya ingat Allah atau tidak?” Kiai Ahsin mengajak merenung.

Baca juga:  Keberangkatan Lima Kloter Tandai Dimulainya Fase Pemulangan Gelombang Kedua

“Jangan menjadi orang yang tahu rahasia alam semesta, keanekaragaman hayati dan lainnya, tapi tidak ingat dan tidak bersyukur kepada Allah,” ujarnya lagi.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (1)
  • Allah SWT menjadikan m​​​​​anusia sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu Allah akan senang jika manusia dapat menjalankan tugas kekhalifahannya. Di antara pelaksanaan tugas kekhalifahan manusia di bumi adalah dengan memakmurkan serta menggali manfaatnya.

    kata ”manusia ” adalah berkat pemikiran global dari manusia itu sendiri, padahal dlm pemikiran alquran sangat jauh berbeda.

    Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

    jika kita melihat pemikiran alquran ,ada sesuatu yg tersembunyi pada ayat ini ?
    kita selalu beranggapan bahwa malaikat itu makhluk eksternal , Ini akibat tafsir agama yang cenderung memenuhi kebutuhan perseptif orang awam, sehingga memberi “sosok” pada setiap wujud..Akhirnya, penggambaran iblis dan malaikat menjadi dikotomis (sebagai wujud di luar diri manusia).iblis dan malaikat harus mulai dipahami sebagai kesadaran “internal”. Sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari manusia sejak awal penciptaan.

    Sebelum ”adam” sudah ada manusia-manusia yg lain dan alquran menyebut mereka jin, di antara mereka ini ada juga manusia iblis dari golongan jin,oleh karena banyak kerusakan yg telah mereka perbuat, maka yg maha kuasa berkehendak menjadikan manusia dari golongan malaikat di tengah-tengah manusia jin dan iblis ini ,agar mereka dpt mengabdi kepadaNYA.

    maka:

    “Allah mengajarkan kepada Nabi Adam nama-nama benda dan apa yang dibutuhkan manusia, sekaligus juga itu adalah cara Allah menjadikan manusia sebagai khalifah fil ardl (seorang khalifah di bumi), manusia yang berilmu pengetahuan,” kata Kiai Ahsin pada kajian bertema Pelajaran dari Kisah Nabi Adam AS.

    para malaikat dlm ayat di atas tidak menyinggung nama-nama mereka tetapi dari dari ayat di atas ini, dpt kita ambil kesimpulan bahwa malaikat tersebut adalah jibril sebagai ruh nabi adam.

    terima kasih,

    ustadz sayyid habib yahya

Komentari

Scroll To Top